SHANDONG, SP - Bagi sebagian orang, secangkir teh hanyalah minuman pelepas dahaga. Namun, di Kota Qufu, Provinsi Shandong, Tiongkok, teh memiliki makna yang lebih dalam. Minuman tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tamu, media membangun percakapan, sekaligus bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun dalam budaya Tiongkok.
Pengalaman itu dirasakan Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A., dosen IAIN Pontianak, saat melakukan penelitian lapangan di Masjid Qufu (Q?fù Q?ngzh?nsì) dalam rangka mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI).
Dalam kunjungannya, Imam Masjid Qufu, H. Irsa (Yuan Caidong), secara khusus menyuguhkan teh kepada tamunya sebelum memulai perbincangan mengenai sejarah Islam di kota kelahiran Konfusius tersebut.
Bagi H. Irsa, penyajian teh bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga mencerminkan nilai penghormatan kepada tamu yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.
Menurut H. Irsa, teh dipilih karena memiliki banyak manfaat bagi tubuh, seperti membantu menghilangkan dahaga dan memberikan rasa nyaman kepada tamu yang datang berkunjung. Tradisi itu tetap dipertahankan hingga sekarang dan menjadi bagian dari etika menerima tamu di lingkungan masjid.
"Bagi saya, pengalaman ini sangat menarik karena penyambutan tamu melalui sajian teh memiliki makna budaya yang kuat. Nilai tersebut juga memiliki titik temu dengan ajaran Islam yang menekankan penghormatan kepada tamu sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim," ujar Prof. Samsul.
Selain mengunjungi masjid, Prof. Samsul juga menelusuri berbagai restoran halal yang tersebar di sekitar kawasan Masjid Qufu. Dari hasil observasinya, kawasan tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Muslim sekaligus memudahkan wisatawan Muslim memperoleh makanan halal.
Imam H. Irsa menjelaskan bahwa di sekitar masjid terdapat sejumlah restoran halal yang telah lama melayani masyarakat setempat maupun para pendatang.
Kehadiran restoran-restoran tersebut menunjukkan bahwa komunitas Muslim tetap memiliki ruang sosial dan ekonomi yang berkembang di tengah kota yang identik dengan warisan Konfusianisme.
Temuan lain yang menarik perhatian adalah kisah seorang warga non-Muslim yang rutin datang ke masjid untuk mempelajari Islam. Menurut H. Irsa, orang tersebut telah sekitar satu tahun belajar mengenai budaya dan ajaran Islam. Ia bahkan beberapa kali ikut menyaksikan pelaksanaan salat berjemaah sebagai bagian dari proses pembelajarannya, meskipun belum memeluk Islam.
Fenomena tersebut, menurut Prof. Samsul, memperlihatkan adanya ruang dialog yang terbuka antara komunitas Muslim dengan masyarakat non-Muslim di Qufu.
"Yang saya lihat bukan sekadar toleransi dalam pengertian formal, tetapi ada rasa ingin saling mengenal dan saling belajar. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat yang beragam," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, H. Irsa juga memperkenalkan sejumlah literatur mengenai sejarah Islam di Qufu yang sedang disusun oleh para akademisi setempat.
Di antaranya adalah karya yang melibatkan cendekiawan Muslim serta peneliti dari Confucius Research Institute yang saat ini menaruh perhatian pada kajian Islam di Tiongkok.
Meskipun belum diterbitkan secara resmi dalam bentuk buku, sebagian materi telah tersedia dalam bentuk buku kecil untuk keperluan dokumentasi dan kajian.
Prof. Samsul menilai upaya tersebut menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan jejak sejarah Islam di Qufu yang selama ini belum banyak dikenal oleh masyarakat internasional, termasuk di Indonesia.
Menurutnya, penelitian lapangan seperti ini membuka peluang kerja sama akademik yang lebih luas antara perguruan tinggi Indonesia dengan lembaga penelitian di Tiongkok, khususnya dalam bidang studi agama, peradaban, dan hubungan lintas budaya.
Selama mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program pada Juli sampai Agustus 2026, Prof. Samsul terus melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi di berbagai lokasi, termasuk masjid, kawasan kuliner halal, serta situs-situs budaya di Qufu.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memperkaya kajian mengenai hubungan Islam dan Konfusianisme dalam kehidupan sehari-hari serta memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Tiongkok melalui pendekatan dialog, budaya, dan penelitian bersama.(mul)