Ponticity post author Kiwi 29 Oktober 2026

Nongkrong Evaluasi di Warkop Waru: Dari Pelepasan Tukik hingga “Janji Tinggal Janji”, Begini Serunya Persaudaraan West Borneo Vespa Lovers Usai Touring Pantai Tanjung Api

Photo of Nongkrong Evaluasi di Warkop Waru: Dari Pelepasan Tukik hingga “Janji Tinggal Janji”, Begini Serunya Persaudaraan West Borneo Vespa Lovers Usai Touring Pantai Tanjung Api

PONTIANAK, SP - Perjalanan ke Pantai Tanjung Api, Temajuk, Kabupaten Sambas, bukan sekadar meninggalkan jejak roda di jalanan atau menikmati keindahan pesisir Kalimantan Barat (Kalbar).

Bagi para skuteris yang tergabung dalam FRKP West Borneo Vespa Lovers, perjalanan itu juga membawa cerita tentang kepedulian terhadap alam, aksi kemanusiaan, persaudaraan, hingga janji yang berujung pada tagihan nasi Padang dan kwetiau.

Cerita-cerita itulah yang kembali menghangat pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, ketika para skuteris Pontianak yang sebelumnya mengikuti kegiatan di Tanjung Api berkumpul di Warung Kopi Waru, Pontianak, yang menjadi salah satu tempat berkumpul komunitas Vespa tersebut.

Di tempat itu, suasana akrab segera terasa. Canda dan lelucon bersahutan, sesekali diselingi pembicaraan serius tentang kegiatan yang telah mereka laksanakan, terutama aksi pelepasan tukik atau anak penyu ke habitat alaminya di Pantai Tanjung Api.

Bagi mereka, perjalanan dengan Vespa bukan semata-mata tentang menaklukkan jarak dan menikmati kebersamaan di jalan. Ada kepedulian yang ingin dibawa, ada alam yang perlu dijaga, dan ada nilai kemanusiaan yang hendak terus dihidupkan melalui kegiatan komunitas.

Namun, seperti lazimnya sebuah pertemuan para sahabat lama, evaluasi kegiatan tidak selalu berlangsung dengan wajah serius. Di antara cerita tentang pelestarian alam, muncul pula kisah yang mengundang gelak tawa, sekaligus menjadi bahan perbincangan paling hangat sore itu.

Janji Menjemput yang Berakhir Jadi Lagu

Tokoh dalam cerita itu adalah Denok, seorang skuteris yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Sintang.

Sebelum tiba di Pontianak, ia mendapat janji akan dijemput di terminal oleh dua rekannya, Bro Pii dan Bro Cahyo.

Sayangnya, janji tinggal janji. Penjemputan yang diharapkan ternyata tidak terlaksana. Denok pun harus menghadapi kenyataan bahwa dua rekan yang diharapkan menyambut kedatangannya justru tidak muncul sebagaimana yang dijanjikan.

Kisah itu kemudian menjadi bahan godaan ketika mereka berkumpul di Warung Kopi Waru.

Di tengah suasana yang semakin riuh, mendadak muncul nyanyian yang terasa begitu pas menggambarkan kejadian tersebut.

“Janji-janji, tinggal janji...” demikian penggalan lagu yang dilantunkan, disambut tawa dan celetukan para skuteris lainnya.

Bro Pii dan Bro Cahyo yang menjadi sasaran gurauan disebut belum mengakui kesalahan maupun menyampaikan permintaan maaf. Alih-alih meredakan suasana, sikap keduanya justru membuat pembicaraan semakin seru.

Tetapi, begitulah cara persaudaraan mereka bekerja. Kekecewaan tidak dibiarkan tumbuh menjadi permusuhan. Ia diolah menjadi cerita, ditertawakan bersama, lalu dicari jalan keluarnya dengan cara yang khas komunitas Vespa.

Setelah melalui perdebatan ringan yang diselingi berbagai celetukan, akhirnya muncul kesepakatan: konsekuensi atas janji yang tidak ditepati adalah mentraktir kwetiau dan nasi Padang.

Entah kapan traktiran itu benar-benar ditunaikan, yang jelas, keputusan tersebut menambah satu lagi cerita yang kelak bisa kembali diungkit ketika mereka berkumpul.

Sebab di kalangan skuteris, sebuah perjalanan mungkin selesai ketika mesin Vespa dimatikan. Namun, kisah-kisah di balik perjalanan itu justru bisa bertahan jauh lebih lama.

Dari Tanjung Api Menuju Perjalanan Berikutnya

Di balik kelakar tentang janji penjemputan, pertemuan di Warung Kopi Waru tetap memiliki tujuan penting, yakni mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan sekaligus menyusun rencana perjalanan berikutnya.

Kegiatan di Pantai Tanjung Api, Temajuk, sebelumnya diisi berbagai aksi sosial kemanusiaan dan pelestarian alam. Pelepasan tukik menjadi salah satu bagian yang mengingatkan para peserta bahwa perjalanan komunitas tidak harus berhenti pada kesenangan pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Kepedulian semacam itu menjadi bagian dari semangat yang ingin terus dirawat. Melalui kegiatan bersama, para anggota tidak hanya mempererat hubungan antarsesama, tetapi juga membangun kesadaran bahwa komunitas otomotif memiliki ruang untuk berkontribusi bagi kehidupan sosial dan kelestarian alam.

Belum selesai cerita Tanjung Api dibahas, agenda berikutnya sudah menanti. Komunitas ini berencana memenuhi undangan Club Debelo di Simunjan, Sarawak, Malaysia, pada pertengahan November 2026.

Rencana tersebut kembali membuka kesempatan bagi para skuteris untuk memperluas persahabatan lintas wilayah, bertukar pengalaman, sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama pencinta Vespa.

Bagi komunitas yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari gaya hidup, setiap undangan bukan sekadar tujuan baru. Ada persaudaraan yang hendak disambung, ada pengalaman yang akan dibawa pulang, dan tentu saja, ada cerita baru yang siap menjadi bahan tertawaan ketika mereka kembali berkumpul.

Persaudaraan yang Dirawat Lewat Cerita

Sesepuh Vespa Kalbar, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, selaku Penaehat Utama West Borneo Vespa Lovers memandang kebiasaan berkumpul dan mengevaluasi kegiatan sebagai salah satu hal yang membuat komunitas Vespa tetap hidup.

“Ini serunya komunitas Vespa. Selalu mengevaluasi setiap kegiatan yang telah dilaksanakan dan merencanakan kegiatan ke depannya,” celetuknya.

Ucapan itu terasa sederhana, tetapi menggambarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hobi berkendara.

Ada ruang untuk saling mengingatkan, ada kesempatan memperbaiki kekurangan, dan ada kebebasan untuk menertawakan kekonyolan sendiri tanpa harus kehilangan rasa hormat sebagai sahabat.

Di Warung Kopi Waru, evaluasi kegiatan Tanjung Api pun tidak hanya berbicara tentang apa yang telah dilakukan di pantai.

Ia juga menjadi pengingat bahwa sebuah komunitas tumbuh dari hal-hal kecil, kesediaan hadir, keberanian mengakui kesalahan, kemauan menepati janji, dan kepedulian terhadap sesama maupun alam.

Sementara urusan traktiran kwetiau dan nasi Padang masih menunggu penyelesaian, semangat untuk melanjutkan perjalanan sudah lebih dahulu menyala.

Begitulah Vespa dan orang-orang di baliknya. Mesin boleh beristirahat, perjalanan boleh berakhir, tetapi persaudaraan selalu menemukan alasan untuk kembali berangkat.

Dan jika suatu hari Bro Pii serta Bro Cahyo kembali lupa menjemput seseorang, tampaknya lagu “Janji-janji, tinggal janji” masih akan punya tempat istimewa dalam perbendaharaan humor mereka.

Sebab di komunitas ini, perjalanan bukan hanya tentang ke mana roda bergerak, melainkan juga tentang siapa yang berjalan bersama, apa yang bisa dilakukan untuk sesama, dan cerita apa yang kelak dikenang bersama.
(*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda