Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Barangsiapa meringankan penderitaan saudaranya dari penderitaan dunia, Allah akan meringankan penderitaannya dari penderitaan di Hari Kiamat.." (HR. Muslim no. 2699)
Pagi ini ponsel kita ramai. Grup percakapan berisi lima puluh pesan, notifikasi berdenting bergantian, beranda penuh wajah-wajah tersenyum. Tetapi di antara semua itu, tak ada satu pun yang bertanya, "Kamu apa kabar? Benar-benar baik?"
Kita memegang dunia di genggaman tangan, namun rasanya hati sedang duduk sendirian di sudut ruangan. Itulah kesepian di zaman ini: bukan karena tak ada orang, tetapi karena terlalu jarang ada yang sungguh-sungguh hadir.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaruh angka pada perasaan ini. Dalam laporannya pada Juni 2025, WHO menyebut sekitar satu dari enam orang di dunia terdampak kesepian, dan kesepian dikaitkan dengan lebih dari 871.000 kematian setiap tahun, atau sekitar seratus orang setiap jam.
Tentu kata "dikaitkan" penting di sini, sebab kesepian bukan satu-satunya sebab. Angkanya juga tinggi pada anak muda, yaitu 17 sampai 21 persen pada usia 13 sampai 29 tahun, meski mereka hidup paling terhubung secara digital. Kesepian bukan sekadar perasaan tidak nyaman. Ia berkaitan dengan kesehatan jiwa dan tubuh kita.
Dalam sebuah wawancara video, Dr. Naoki Yamamoto, dosen asal Jepang yang menjadi Muslim, menceritakan sebuah kejadian kecil. Seorang rekannya sedang belajar di sebuah kafe ketika seorang pria menyapanya.
Mereka bercakap singkat saja. Setelah itu pria itu berkata, "Terima kasih atas percakapan yang baik ini." Menurut Yamamoto, kalimat itu menunjukkan betapa jarangnya orang itu mendapat obrolan sekecil itu dalam keseharian. Kisah ini adalah penuturan satu orang, tetapi gemanya terasa akrab. Kadang yang dirindukan hati bukan nasihat panjang, melainkan seseorang yang mau berhenti sejenak dan menyapa.
Ilmu psikologi ikut memberi dukungan. Nicholas Epley dan Juliana Schroeder (2014) meminta para penumpang kereta berbincang dengan orang asing di sebelahnya. Hasilnya, mereka yang berbicara justru merasa perjalanannya lebih menyenangkan daripada yang mereka duga.
Gillian Sandstrom dan Elizabeth Dunn (2014) menemukan bahwa makin banyak interaksi dengan kenalan sekilas, seperti penjual kopi atau tetangga, makin besar rasa memiliki dan kebahagiaan seseorang. Obrolan kecil ternyata tidak sekecil itu. Jika kita terus menunda menyapa karena takut canggung, kita sering kehilangan obat yang paling dekat.
Agama kita sudah lama mengajarkan obat ini. Rasulullah saw bersabda, "Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian" (HR. Muslim no. 54).
Beliau juga menyebut hak seorang muslim atas muslim lainnya: jika bertemu, ucapkanlah salam; jika diundang, penuhilah; jika sakit, jenguklah (HR. Muslim no. 2162). Semua itu bentuk obrolan kecil yang dilembagakan menjadi ibadah.
Beliau sendiri teladan dalam hal ini. Anas bin Malik ra bercerita bahwa Nabi biasa menyapa seorang anak kecil, Abu Umair, dengan bertanya, "Wahai Abu Umair, apa kabar si burung kecil?" (HR. Bukhari no. 6129 dan Muslim no. 2150). Anak itu memiliki seekor burung kecil kesayangan, dan sapaan hangat itu menghibur hatinya ketika ia bersedih.
Rasulullah, pemimpin umat yang sibuk, tidak merasa terlalu besar untuk berbincang ringan dengan seorang anak. Dari sapaan semacam itu, kita belajar bahwa perhatian kecil yang tulus bisa meringankan hati orang lain.
"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS. Al-Baqarah: 83). Ayat ini bagai gerimis di musim kering.
Satu kalimat ramah tidak mengubah seluruh hidup seseorang, tetapi cukup untuk membasahi tanah yang gersang.
Tetapi kesepian terdalam sering kali bukan hanya soal manusia. Allah berfirman, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat" (QS. Al-Baqarah: 186). Dan "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28). Kehangatan sesama dan kedekatan dengan Allah tidak saling menggantikan.
Keduanya saling menguatkan. Karena itu Islam mengajak kita shalat berjamaah, tempat kita bertemu, bersalaman, dan saling menyapa lima kali sehari (HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650).
Di era ketika kita lebih sering menekan tombol “like” daripada menelepon, kita perlu menjaga adabnya. Hendaknya dijauhi kebiasaan mengorek kehidupan orang lain, bergunjing, atau menyebarkan cerita yang bukan milik kita (QS. Al-Hujurat: 12).
Hendaknya dijauhi pula anggapan bahwa orang yang kesepian pasti lemah iman. Kesepian bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang tampak tersenyum dan sibuk. Mendengarkan lebih penting daripada menasihati, dan hadir lebih penting daripada menyimpulkan.
Mulailah dari yang mudah. Ucapkan salam dengan senyum kepada tetangga atau rekan kerja. Tanyakan kabar, lalu benar-benar dengarkan jawabannya. Telepon seseorang yang sudah lama tak terdengar, undang minum kopi, atau jenguk orang yang sedang sakit atau lanjut usia.
Jika kita sendiri yang merasa sepi, mulailah dari satu orang yang kita percayai, dan jangan malu berkata, "Aku ingin bercerita." Bila rasa sepi terasa menekan, disertai putus asa, hilangnya minat pada hal yang dulu disukai, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, lakukan teknik terapi double pink, atau segeralah menghubungi orang terdekat. Menemani dan didengarkan itu penting, kita tidak harus menanggungnya sendirian.
Seperti lampu kecil di jendela rumah tetangga yang menyala di malam hari, ia tidak menerangi seluruh jalan, tetapi cukup untuk membuat siapa pun yang lewat merasa ada yang menanti.
Setiap sapaan tulus dan setiap telinga yang kita pinjamkan kepada saudara kita akan menjadi bagian dari pertolongan yang Allah janjikan, "selama hamba itu menolong saudaranya." Jika hari ini kita merasa sepi di tengah keramaian, tidak apa-apa.
Perasaan itu tidak membuat kita kurang berharga. Mungkin kita hanya sedang menunggu seseorang bertanya, dan mungkin seseorang di sebelah kita juga sedang menunggu hal yang sama. Siapa tahu satu kalimat sederhana dari kita pagi ini, "Apa kabar? Aku ada di sini," adalah kalimat yang sedang dirindukan hatinya. semoga obrolan-obrolan kecil itu akan merajut kembali yang sempat terurai, dan kita akan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk menyapa dan mendengarkan sesama. Hiburlah hati yang sedang sepi, pertemukanlah kami dengan sahabat yang baik, dan dekatkanlah kami kepada-Mu.
Jauhkanlah kami dari kebiasaan menyakiti dengan kata, dan jadikanlah setiap perhatian kecil kami sebagai sebab hati-hati menjadi tenteram. Amin. (*)