Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"...dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri memerlukan." (QS. Al-Hasyr: 9)
Bayangkan sebuah petang di bulan Ramadan, di apartemen sederhana di Kairo, Mesir. Seorang mahasiswa asing dari Jepang baru pulang dari sekolah bahasa.
Di lantai dasar, penjaga gerbang sedang berbuka puasa dengan satu mentimun, dan tampaknya hanya itu yang ia miliki. Ketika melihat si mahasiswa, ia menyodorkan mentimunnya sambil berkata, "Tafaddal." Itulah kisah yang dituturkan Dr. Naoki Yamamoto, dosen asal Jepang yang kini mengajar di Istanbul, dalam sebuah wawancara video.
Menurut pengakuannya, perkenalan pertamanya dengan Islam datang lewat sebuah buku, tetapi yang membuatnya memutuskan menjadi Muslim adalah mentimun itu. Tak ada kamera, tak ada pengikut, tak ada yang bertepuk tangan. Hanya dua orang di sebuah petang yang sederhana.
Kisah ini adalah pengalaman satu orang, tetapi pesannya terasa akrab. Kita sering mengira hati manusia dimenangkan oleh argumen yang tajam atau ceramah yang panjang. Padahal sering kali hati lebih dulu tersentuh oleh perlakuan yang tulus. Psikologi mencatat gejala serupa.
Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton (2008) menemukan bahwa memberi kepada orang lain cenderung membuat pemberinya lebih bahagia daripada membelanjakan uang untuk diri sendiri, dan Aknin dkk. (2013) menemukan pola serupa di berbagai budaya.
James Fowler dan Nicholas Christakis (2010) menunjukkan bahwa perilaku kooperatif dapat menjalar dalam jejaring sosial. Orang yang menerima kebaikan cenderung berbuat baik pula kepada orang lain. Satu mentimun mungkin kecil, tetapi riaknya bisa jauh. Jika kebaikan terus kita tunda sampai merasa "cukup", kita kehilangan kesempatan kecil yang paling mudah berbuah.
Al-Qur'an mengabadikan sikap seperti penjaga gerbang itu. Allah memuji kaum Anshar yang "mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri memerlukan" (QS. Al-Hasyr: 9).
Ayat ini turun berkenaan dengan kisah seorang Anshar yang kedatangan tamu Rasulullah sementara di rumahnya hanya ada makanan untuk anak-anaknya.
Ia meminta istrinya menidurkan anak-anak dan mematikan lampu, sehingga tamunya mengira mereka ikut makan. Mereka bermalam dalam keadaan lapar.
Keesokan harinya, Nabi bersabda bahwa Allah takjub atas perbuatan keduanya terhadap tamu mereka malam itu (HR. Bukhari no. 3798 dan Muslim no. 2054). Perhatikan: tak ada yang melihat malam itu kecuali Allah, dan Allah sendiri yang menceritakan kebaikan itu kepada kita hingga kini.
Kebaikan yang tulus juga pernah membuka hati dalam sejarah Nabi. Tsumamah bin Utsal, pemimpin Bani Hanifah, ditawan dan diikat di salah satu tiang masjid.
Selama tiga hari, Rasulullah saw menemuinya dengan tenang, lalu memerintahkan, "Bebaskan Tsumamah." Tsumamah pergi mandi, kembali ke masjid, lalu mengucapkan syahadat, dan berkata bahwa wajah Nabi yang dulu paling ia benci kini menjadi wajah yang paling ia cintai (HR. Bukhari no. 462 dan 4372, serta Muslim no. 1764). Kelembutan memang bisa menembus tempat yang tidak tembus oleh kata-kata.
Namun penting kita ingat, hidayah bukan hasil kerja kita. Allah berfirman, "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki" (QS. Al-Qasas: 56). Dr. Yamamoto sendiri mengaku, di awal keislamannya ia sempat merasa harus menjadi penentu bagi komunitasnya, lalu menyadari bahwa itu bentuk kesombongan yang halus.
Penjaga gerbang di Kairo tidak sedang berstrategi mengajak seseorang masuk Islam. Ia memberi karena ada orang di hadapannya yang mungkin lapar.
Allah memuji hamba-hamba-Nya yang berkata, "Kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan maupun ucapan terima kasih dari kamu" (QS. Al-Insan: 9). Kebaikan yang murni tidak menjadi alat tukar.
Rasulullah saw juga menyebut keutamaan memberi secara tersembunyi. Beliau menyebut di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah seseorang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).
Beliau juga bersabda bahwa Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang merasa cukup, dan yang tersembunyi (HR. Muslim no. 2965). Maka tidak ada kebaikan yang terlalu kecil. "Jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan separuh kurma" (HR. Bukhari no. 1417 dan Muslim no. 1016), dan "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun" (HR. Muslim no. 2626).
Di era ketika segala sesuatu bisa direkam dan dihitung, kebaikan kadang baru terasa "nyata" jika ada penontonnya. Bukan berarti membagikan kebaikan dilarang. Unggahan yang tulus bisa menginspirasi, tetapi niat tetap perlu kita jaga.
Hendaknya dijauhi memberi karena ingin dilihat, dan jangan merusak pemberian dengan mengungkit-ungkitnya atau menyakiti hati penerimanya (QS. Al-Baqarah: 264). Kebaikan yang paling kuat sering kali yang tidak sempat difoto.
Seperti pelita kecil di malam yang gelap, ia tidak perlu besar. Ia hanya perlu menyala, dan siapa pun yang berjalan dalam kegelapan akan melihatnya. Jika hari ini kita merasa tak punya apa-apa untuk dibagi, barangkali kita sedang lupa bahwa kebaikan tidak selalu berbentuk besar.
Bisa berupa tempat duduk yang kita relakan, segelas teh hangat untuk tukang parkir, sapaan yang tulus kepada tetangga, atau sepotong kue yang kita bagi.
Kita mungkin tidak pernah tahu bagaimana kebaikan itu sampai ke hati seseorang. Boleh jadi yang kita kira hanya sepotong mentimun, bagi orang lain adalah tanda bahwa dunia masih punya hati. Dengan izin Allah, kebaikan yang kita tanam diam-diam akan tumbuh di tempat yang tak kita duga.
Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk memberi tanpa menunggu dilihat dan tanpa mengharap balasan. Jauhkanlah kami dari riya dan sikap mengungkit-ungkit kebaikan. Jadikanlah kebaikan kecil kami sebagai sebab hati-hati menjadi dekat kepada-Mu, dan ikhlaskanlah niat kami. Amin. (*)