Catatan Syafaruddin Daeng Usman
Penulis Freelance Sejak Tahun 1986 Sampai Sekarang
Saat kita dituduh yang tidak sesuai dengan faktanya, tapi kita memilih diam, maka di situlah atitude kita lebih tinggi dibandingkan mereka yang berisik merasa hidupnya paling benar.
Bukan karena tidak mampu menjawab. Bukan pula karena tidak punya sesuatu untuk dibela. Kita hanya mulai mengerti bahwa tidak semua tuduhan harus dilawan dengan suara yang sama kerasnya.
Memang sakit ketika sesuatu yang tidak kita lakukan justru dilekatkan kepada diri kita. Apalagi ketika orang lain ikut percaya tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Wajar jika rasanya kita ingin menjelaskan semuanya. Ingin meluruskan cerita dan membela diri. Kita hanya ingin orang lain tahu bahwa kenyataannya tidak seperti yang mereka dengar.
Tapi ada saatnya kita sadar, ketenangan jauh lebih berharga daripada perdebatan. Tidak semua orang harus diyakinkan, dan tidak semua tuduhan layak mengambil dan menyita habis energi kita.
Diam bukan berarti mengakui, diam juga bukan berarti kalah. Jika memang perlu diluruskan, luruskan dengan baik. Setelah itu, tak perlu terus mengejar pengakuan orang lain.
Biar orang lain dengan penilaiannya, kita tetap dengan sikap dan nilai yang kita jaga. Sebab, karakter terlihat bukan saat semuanya baik-baik saja, tetapi saat kita tetap baik ketika diperlakukan dengan tidak baik dan tidak adil.
Kita tidak harus berisik dengan membuktikan kebenaran. Kadang waktu, konsistensi , dan cara kita menjalani hidup akan berbicara jauh lebih kuat daripada penjelasan panjang yang harus diulang.
Maka, tenang saja ketika orang lain hanya tahu sebagian cerita, Allah SWT mengetahui seluruh kebenaran yang sebenarnya.
Allah SWT tahu niat yang kita jaga dan luka yang kita rasa dan diamkan. Tidak semua kebenaran harus berisik untuk tetap menjadi kebenaran.
Seperti lautan, kita punya kedalaman yang tak semua orang bisa selam dan pahami. (*)