Ponticity post author Kiwi 25 Oktober 2026

Gandeng Perpustakaan Pontianak dan Maktab Tuli As-Sami, ADER Linguistik PKM-KI MSI IAIN Pontianak Susun Modul Visual Literasi Isyarat untuk Teman Tuli

Photo of Gandeng Perpustakaan Pontianak dan Maktab Tuli As-Sami, ADER Linguistik PKM-KI MSI IAIN Pontianak Susun Modul Visual Literasi Isyarat untuk Teman Tuli

PONTIANAK, SP - Membuka akses pengetahuan bagi teman tuli membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan buku. Diperlukan bahan pembelajaran yang mampu menjembatani perbedaan cara berkomunikasi agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

Semangat inilah yang mendorong Kelompok ADER Linguistik PKM-KI MSI Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak mengembangkan modul visual literasi isyarat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak serta Maktab Tuli As-Sami Pontianak, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung tema “Pembuatan Modul Visual Literasi Isyarat”, kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Kota Pontianak, Jalan Ampera, Sungai Jawi, ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis karya ilmiah. Inisiatif tersebut diarahkan untuk mengembangkan bahan pembelajaran literasi yang mengintegrasikan media visual, bahasa isyarat, serta video pembelajaran berbasis kode QR.

Kelompok ADER Linguistik PKM-KI MSI Pascasarjana IAIN Pontianak dipimpin Romdlon, dengan anggota Aisyah Hamidah, Dwi Pratiwi, dan Elis Nurhadijah. Kelompok ini dibimbing Dr. Riza Fahmi, M.Si., yang mendampingi pengembangan kegiatan akademik agar memiliki manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok penyandang disabilitas.

Melalui penyusunan modul visual tersebut, kelompok berharap akses informasi dan pembelajaran bagi teman tuli semakin terbuka. Materi yang dikembangkan juga diharapkan dapat membantu keluarga, pendidik, petugas pelayanan publik, dan masyarakat luas memahami komunikasi yang inklusif.

Kepala Bidang Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Nani Rosaningsih, S.Sos, M.Si., menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, perpustakaan harus terus berbenah agar mampu memberikan layanan yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Ia menjelaskan, Perpustakaan Kota Pontianak selama ini telah memiliki koleksi buku Braille bagi penyandang tunanetra. Namun, bahan pustaka dan sumber pembelajaran yang secara khusus mendukung kebutuhan teman tuli, terutama berkaitan dengan bahasa isyarat, masih perlu dikembangkan.

“Perpustakaan bukan hanya untuk teman dengar. Teman tuli juga banyak yang datang, termasuk mereka yang sudah kuliah dan memanfaatkan perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Karena itu, kami perlu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada mereka,” ujarnya.

Nani menuturkan, upaya meningkatkan akses bagi penyandang disabilitas telah dilakukan melalui berbagai pelatihan bahasa isyarat sejak 2023. Kegiatan tersebut menyasar sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), petugas pelayanan perpustakaan, masyarakat, orang tua yang memiliki anak tuli, hingga guru sekolah menengah pertama.

Menurutnya, pengembangan modul visual literasi isyarat menjadi langkah penting agar pembelajaran tidak hanya bergantung pada pelatihan tatap muka. Bahan pembelajaran yang dapat diakses dan dipelajari kembali diharapkan memperluas jangkauan literasi sekaligus meningkatkan kemampuan petugas perpustakaan dalam melayani pengunjung tuli.

“Kami sangat mendukung pembuatan modul ini. Mudah-mudahan keberadaannya bisa meningkatkan literasi teman-teman tuli sekaligus memperkuat kualitas layanan Perpustakaan Kota Pontianak,” harapnya.

Sementara itu, dosen pembimbing Kelompok ADER Linguistik PKM-KI MSI Pascasarjana IAIN Pontianak, Dr. Riza Fahmi, M.Si., melalui kegiatan ini mendorong pengembangan karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi kepentingan akademik, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat. Pengembangan modul visual literasi isyarat menjadi salah satu upaya menghubungkan kegiatan pendidikan dan penelitian dengan pengabdian kepada kelompok disabilitas.

Kolaborasi dengan Perpustakaan Kota Pontianak dan Maktab Tuli As-Sami menjadi bagian penting dalam proses pengembangan tersebut. Keterlibatan mitra diharapkan membantu memastikan bahan pembelajaran yang disusun relevan dengan kebutuhan pengguna dan dapat dimanfaatkan dalam lingkungan pendidikan maupun layanan publik.

Penggunaan media visual dan video pembelajaran berbasis kode QR juga membuka peluang bagi materi untuk dipelajari secara lebih fleksibel. Dengan pendekatan tersebut, modul diharapkan dapat menjadi sumber belajar yang mendukung pengenalan bahasa isyarat sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya komunikasi yang inklusif.

Bagi Kelompok ADER Linguistik, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperluas manfaat karya ilmiah ke luar lingkungan kampus. Melalui kerja sama antara mahasiswa, dosen, perpustakaan, dan komunitas tuli, pengembangan literasi diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses informasi.

Ke depan, modul visual literasi isyarat diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh perpustakaan, lembaga pendidikan, keluarga, serta komunitas disabilitas. Dengan demikian, hasil kegiatan tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi turut mendukung peningkatan kualitas pelayanan dan kesempatan belajar yang lebih setara.

Sebab, perpustakaan yang inklusif bukan sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan ruang belajar bersama yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memperoleh pengetahuan, memahami satu sama lain, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial tanpa terhalang perbedaan cara berkomunikasi. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda