Opini post author Kiwi 23 Oktober 2026

Menjaga Jangkar Kedamaian: Kisah Nyata Toleransi yang Kokoh di Pesisir Desa Tanah Hitam Kecamatan Paloh

Photo of Menjaga Jangkar Kedamaian: Kisah Nyata Toleransi yang Kokoh di Pesisir Desa Tanah Hitam Kecamatan Paloh

Oleh: Aulia Nabilatul Mufidah (mahasiswa pascasarjana, magister ekonomi syariah, iain Pontianak)

Bagi masyarakat yang memiliki kehidupan di pesisir tepatnya di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, kapal dan laut adalah urat nadi kehidupan. Para nelayan di sini sangat paham betapa pentingnya sebuah jangkar.

Saat badai datang bergulung dan angin kencang menerjang, jangkarlah yang diturunkan ke dasar laut agar kapal tidak terombang-ambing lalu karam menabrak karang. Menariknya, filosofi jangkar ini tidak hanya berlaku di laut bagi warga Desa Tanah Hitam.

Di darat, dalam kehidupan sehari-hari, desa strategis yang kerap dijuluki sebagai "Gerbang Paloh" karena letak geografisnya di perbatasan pesisir ini ternyata punya jangkar sosial yang tidak kalah kokoh.

Sebagaimana dicatat dalam ulasan lokal Mister Pangalayo, wilayah ini berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Di tengah dinamika perbatasan tersebut, kerukunan umat beragama hadir menjadi jangkar yang tidak terlihat, yang membuat warga Desa Tanah Hitam tidak pernah goyah atau terombang-ambing oleh berbagai isu perpecahan.

Kalau kita berkunjung ke Desa Tanah Hitam, kita akan melihat potret keberagaman yang sangat alami. Di sini, masyarakatnya memeluk keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Islam, Kristen, hingga warga Tionghoa yang memeluk agama Budha atau Konghucu.

Namun, perbedaan itu seketika melebur saat mereka mulai bekerja. Sebagai masyarakat pesisir yang mayoritas menggantungkan hidup dari laut dan ladang, mereka sadar betul bahwa alam tidak pernah memilih siapa yang akan diberi rezeki.

Saat nelayan turun ke laut, ombak yang mereka hadapi sama tingginya. Saat petani turun ke ladang, terik matahari yang membakar kulit pun sama panasnya. Rasa senasib sepenanggungan inilah yang membuat mereka kompak.

Kalau ada kapal nelayan yang mogok di tengah laut, tidak ada yang bertanya apa agama si pemilik kapal sebelum menolong. Siapa yang posisinya paling dekat, dia yang akan langsung mendekat dan mengulurkan tali seretan.

Begitu juga di ladang; saat musim panen tiba, mereka saling bantu bergotong-royong demi menyambung hidup keluarga masing-masing. Bagi mereka, urusan bertahan hidup dan keselamatan bersama di alam adalah ikatan yang menyatukan mereka di atas segala perbedaan keyakinan.

Di era digital sekarang, kita sering kali melihat media sosial penuh dengan keributan. Orang-orang sering berdebat, saling sindir, bahkan bermusuhan hanya karena perbedaan pandangan atau keyakinan. Tapi untungnya, keributan pada dunia luar itu seolah mendadak hilang begitu saja Ketika, kita melihat realitas di Desa Tanah Hitam.

Implementasi moderasi beragama di desa ini tidak lagi berupa teori, melainkan tindakan nyata di lapangan. Salah satu contoh riilnya terekam dalam laporan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, di mana Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sambas menyelenggarakan Aksi BERIAS (Bersih-Bersih Rumah Ibadah) yang ke-13 di desa ini.

Dalam aksi gotong royong lintas iman tersebut, para penyuluh agama bersama warga setempat bahu-membahu membersihkan dua rumah ibadah sekaligus secara bergantian, yaitu Masjid Baitul Huda di Dusun Danau Peradah dan Gereja GSRI di Dusun Sinar Medan (https://www.google.com/search?kgmid=%2Fg%2F11gfkf2dvv) .

Dokumentasi kebersamaan warga saat membersihkan tempat ibadah hingga merapikan halaman juga disebarluaskan oleh akun resmi Kemenag Sambas di Facebook sebagai bukti nyata kedamaian hidup berdampingan. Keakraban warga lintas iman ini berjalan tanpa mengaburkan batasan akidah masing-masing. Mereka sangat paham kapan harus menghormati ritual ibadah tetangganya dan kapan harus melebur menjadi satu untuk agenda sosial kemasyarakatan.

Pada akhirnya, Desa Tanah Hitam mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana merawat sebuah bangsa dari wilayah pesisir. Ketika di tempat lain masyarakat mudah tersulut konflik identitas, warga pesisir Paloh justru memilih untuk tetap bersatu dan saling menjaga.

Kerukunan yang telah lama dirawat di Desa Tanah Hitam terbukti menjadi jangkar yang kokoh. Kebaikan itu tumbuh subur di benak setiap warganya, memelihara keharmonisan agar selalu terjaga di batas utara Kabupaten Sambas. Dari ujung pesisir ini, mereka membuktikan kepada dunia bahwa berbeda keyakinan itu wajar, namun menjaga persaudaraan kemanusiaan adalah kewajiban yang utama. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda