Opini post author Kiwi 23 Oktober 2026

Burdah dan Pengendalian Hawa Nafsu: Pesan Tazkiyatun Nafs dari Al-Bushiri

Photo of Burdah dan Pengendalian Hawa Nafsu: Pesan Tazkiyatun Nafs dari Al-Bushiri

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat
Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Nafsu itu seperti bayi: bila dibiarkan, ia tumbuh dewasa dengan tetap gemar menyusu; bila disapih, ia akan belajar berhenti." (Imam Al-Bushiri, Qasidah Burdah)

Kita sering tahu apa yang benar, tetapi tidak selalu melakukannya. Kita tahu seharusnya berhenti menggulir layar, tetapi sudah satu jam berlalu. Kita tahu seharusnya menahan kata, tetapi lisan sudah lebih dulu melukai.
Kita tahu seharusnya berhemat, tetapi tombol pembayaran terasa terlalu dekat. Setelahnya datang penyesalan, "Kenapa aku begini lagi?"
Jika perasaan itu akrab, kita tidak sendirian. Para ulama sejak dahulu menyebut pergulatan ini sebagai perjuangan melawan hawa nafsu, dan menyucikan jiwa darinya disebut tazkiyatun nafs.

Imam Al-Bushiri, penyair sufi Mesir abad ke-13, mengabadikannya dalam Qasidah Burdah. Banyak orang mengenal Burdah sebagai pujian kepada Nabi, tetapi di dalamnya ada pasal yang menjadi cermin bagi diri kita sendiri.
Pasal tentang bahaya hawa nafsu memuat tiga pesan. Pertama, nafsu laksana bayi yang bila dibiarkan akan terus tumbuh dengan kebiasaannya, tetapi bila disapih ia akan berhenti.
Kedua, palingkanlah nafsumu dan jangan biarkan ia menguasai, sebab ia bila berkuasa akan membinasakan. Ketiga, lawanlah nafsu dan setan, dan curigailah keduanya ketika mereka menyodorkan "nasihat" yang terdengar manis.
Pesan ketiga ini terasa sangat dekat dengan kita: nafsu pandai berbahasa, ia jarang berkata "lakukan dosa", tetapi sering berbisik, "ah, sekali ini saja".

Psikologi modern memberi gambaran yang sejalan. Walter Mischel dan rekan-rekannya (1972), lewat eksperimen penundaan kepuasan pada anak-anak, menunjukkan bahwa kemampuan menunda keinginan dapat dilatih lewat strategi sederhana, misalnya mengalihkan perhatian dan menjauhkan godaan dari pandangan.
Peter Gollwitzer (1999) memperlihatkan bahwa rencana kecil berbentuk "jika situasi X, maka saya lakukan Y" membantu kita menepati niat. Pesannya sama dengan perumpamaan bayi: nafsu tidak dikalahkan dalam sekali hentakan, melainkan disapih dengan latihan kecil dan tetap. Jika dibiarkan tanpa kendali, kebiasaan menguat, dan kita pelan-pelan menjadi budaknya.

Al-Qur'an menyebut perjuangan ini sebagai jalan keberuntungan. "Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya" (QS. Asy-Syams: 9-10).
Allah juga menjanjikan, "Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya" (QS. An-Nazi'at: 40-41). Ayat ini bagai kebun yang ditanami dengan kesabaran: perjuangan menahan diri hari ini adalah benih bagi kelegaan yang panjang.

Ada kerendahan hati yang indah dalam kisah Nabi Yusuf as. Setelah diuji berat, ia berkata, "Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku" (QS. Yusuf: 53).
Seorang nabi saja tidak merasa aman dari bisikan nafsu. Maka kewaspadaan bukan tanda lemah iman, melainkan tanda kesadaran.

Rasulullah saw bersabda, "Surga diliputi hal-hal yang tidak disukai, dan neraka diliputi syahwat" (HR. Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822). Jalan menuju kebaikan sering terasa berat bagi nafsu, dan jalan menuju keburukan sering terasa menyenangkan.
Karena itu beliau menyebut bahwa salah satu golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang diajak berbuat dosa oleh orang yang berkedudukan dan rupawan, lalu ia menjawab, "Aku takut kepada Allah" (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031). Ia punya kesempatan dan dorongan, tetapi memilih menahan diri.

Beliau juga bersabda, "Mujahid adalah orang yang berjuang melawan nafsunya dalam menaati Allah" (HR. Tirmidzi no. 1621 dan Ahmad). Menjelang Hari Santri, Kamis, 22 Oktober 2026, pesan itu terasa dalam.
Para santri dan ulama bergerak dalam Resolusi Jihad 1945 dengan hati yang telah ditempa. Perjuangan di luar baru kokoh ketika perjuangan di dalam diri telah dimulai.

Di era digital, nafsu menemukan lahan baru. Layar dirancang menarik perhatian kita, iklan memanggil keinginan kita, dan kolom komentar menggoda kemarahan kita. Hendaknya dijauhi sikap menjadikan hawa nafsu sebagai penentu.
Allah memperingatkan, "Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah" (QS. Shad: 26). Jika kita merasa kewalahan, misalnya pada kebiasaan yang sudah menyerupai kecanduan, lakukan terapi Pembersihan Energi Negatif (BEN) pada tujuh (7) lapisan jiwa dalam diri, atau mencari bantuan profesional adalah bagian dari ikhtiar. Tidak perlu malu, dan tidak perlu menghakimi diri sendiri maupun orang lain.

Lalu bagaimana kita menyapih nafsu dengan lembut? Para ulama tasawuf, seperti Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, mengajarkan tiga hal sederhana: muhasabah (menghitung diri di penghujung hari), muraqabah (merasa diawasi Allah), dan mujahadah (bersungguh-sungguh melawan kebiasaan buruk, selangkah demi selangkah).
Mulailah dari satu kebiasaan yang paling mengganggu, buat rencana kecil "jika... maka...", jauhkan pemicunya dari pandangan, dan ganti dengan kebiasaan yang menenangkan, seperti zikir, wudhu, atau berjalan sejenak. Jangan menuntut sempurna dalam semalam. Bayi pun tidak disapih dalam sehari.

Seperti sungai yang tanpa tanggul menjadi banjir, tetapi dengan tanggul mengalir menghidupi sawah, begitulah nafsu yang ditata: ia bukan untuk dipadamkan, melainkan diarahkan agar menjadi kekuatan yang menumbuhkan.

Jika hari ini kita masih sering kalah, tidak apa-apa. Tidak ada yang meminta kita menjadi malaikat. Nafsu bukan musuh yang harus dibenci, melainkan anak yang perlu dibimbing dengan sabar dan kasih. Setiap kali kita menahan satu kata, menunda satu keinginan, atau bangkit setelah tergelincir, kita sedang menyapihnya pelan-pelan.
Kita berdoa, semoga suatu hari jiwa yang dahulu gelisah menemukan tenangnya, dan kelak kita termasuk yang dipanggil: ‘Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya’ (QS. Al-Fajr: 27-28).

Ya Allah, sucikanlah jiwa kami dan bimbinglah kami menaklukkan hawa nafsu dengan lembut. Kuatkanlah kami menahan yang Engkau larang, mudahkanlah langkah-langkah kecil kami, dan jauhkan kami dari bisikan yang menipu. Jadikanlah jiwa kami tenang, rida, dan Engkau ridai. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda