Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat
Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan?" (QS. Al-Ghashiyah: 17-20)
Coba ingat kapan terakhir kali kita benar-benar memandang langit. Bukan sekilas dari balik kaca mobil, tetapi sungguh-sungguh menengadah. Banyak dari kita bangun dengan tangan meraih ponsel, bekerja di ruangan tertutup, makan di depan layar, lalu pulang ketika hari sudah gelap.
Pagi dan sore berlalu tanpa pernah kita lihat. Jika di tulisan sebelumnya kita belajar menjaga perhatian dari layar yang menyita, kini kita diajak melihat sisi lain: tubuh dan hati kita juga butuh cahaya dan udara.
Alasannya bukan sekadar perasaan. Psikolog Rachel Kaplan dan Stephen Kaplan (1989) mengemukakan bahwa alam membantu memulihkan perhatian yang lelah, karena ia menarik kita dengan lembut tanpa menguras tenaga. Sebuah tinjauan oleh Meredith dan kawan-kawan (2020) menemukan bahwa waktu sesingkat 10-20 menit di alam dapat menjadi langkah pencegahan bagi tekanan dan beban mental pada orang usia kuliah.
Perlu diingat, penelitian itu ditujukan pada kelompok usia kuliah, sehingga hasilnya perlu dibaca sebagai gambaran umum, bukan janji untuk semua orang.
Kita juga sudah lama tahu bahwa cahaya alami di pagi hari membantu jam biologis tubuh, sehingga tidur malam lebih mudah datang. Jika hari-hari kita berlalu tanpa cahaya dan udara luar, tidur bisa berantakan, suasana hati menurun, dan dunia terasa menyempit sebatas layar.
Kabar baiknya, agama kita sudah lama mengajarkan irama yang sehat ini. "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam itu dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari), dan agar kamu bersyukur" (QS. Al-Qasas: 73).
Ayat ini bagai jadwal harian yang ditulis langsung oleh Sang Pencipta: siang untuk bergerak dan mencari karunia, malam untuk beristirahat. Rasulullah saw pun berdoa, "Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya" (HR. Abu Dawud no. 2606, At-Tirmidzi no. 1212, dan Ibnu Majah no. 2236).
Para ulama memahami waktu pagi itu sebagai waktu antara shalat Subuh dan terbitnya matahari. Pagi adalah waktu yang diberkahi, dan alangkah sayang bila ia seluruhnya kita habiskan di balik layar.
Ada teladan indah dari Nabi Ibrahim as. Ia mencari kebenaran dengan keluar dan menatap langit. Ia mengamati bintang, bulan, dan matahari, lalu berkata, "Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar" (QS. Al-An'am: 79).
Perenungan di bawah langit mengantarnya pada tauhid. Alam bukan hanya latar, ia adalah kitab terbuka yang mengajak kita mengenal Penciptanya.
Maka sepuluh menit di luar bisa bernilai ibadah. Rasulullah saw bersabda bahwa bumi dijadikan baginya sebagai tempat sujud dan alat bersuci (HR. Bukhari no. 335 dan Muslim no. 521). Beliau juga menyebut, "Setiap pagi, setiap ruas tulang salah seorang dari kalian harus disedekahi... dan semua itu dicukupi dengan dua rakaat yang dikerjakan seseorang pada waktu duha" (HR. Muslim no. 720).
Pagi hari, ketika matahari mulai naik, adalah waktu yang indah untuk keluar sejenak, memandang langit, lalu menutupnya dengan dua rakaat duha.
Bagaimana mengisi sepuluh menit itu? Sederhana saja. Letakkan ponsel di saku, lalu tarik napas dalam di teras atau halaman. Lihat langit, dengarkan burung, rasakan hangat matahari pagi di kulit. Boleh sambil berjalan kecil mengelilingi rumah atau menyapa tetangga.
Jika ada tanaman, siramlah. Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553). Siraman air yang sederhana pun bisa menjadi amal.
Beberapa hal perlu dijaga. Pertama, perhatikan kualitas udara. Jika sedang musim kabut asap atau udara terasa tidak sehat, jangan memaksakan diri. Cukup berdiri di dekat jendela atau teras yang terbuka, pakai masker bila perlu, atau tunda hingga udara membaik.
Hindari pula terik tengah hari. Kedua, jaga kebersihan, sebab "kebersihan adalah separuh iman" (HR. Muslim no. 223), jadi jangan meninggalkan sampah di tempat kita berdiam. Ketiga, hendaknya dijauhi menjadikan keindahan pagi sekadar latar foto sampai kita lupa menikmati dan bersyukur, apalagi bila niatnya hanya untuk dilihat orang.
Jika kelelahan, murung, atau sulit tidur berlangsung lama, lakukan relaksasi energi, atau bicarakan dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional.
Seperti jendela yang dibuka di ruangan pengap, begitulah sepuluh menit di luar: tidak mengubah seluruh isi rumah, tetapi cukup untuk membuat napas terasa lega.
Setiap nikmat, termasuk udara yang kita hirup dan cahaya yang menghangatkan kita, kelak akan ditanya, "Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)" (QS. At-Takatsur: 8).
Jika hari ini kita merasa terlalu lama terkurung, tidak apa-apa. Tidak ada yang meminta kita menjadi pendaki gunung atau pelari pagi. Cukup sepuluh menit, sekali sehari.
Berdiri sebentar, menatap langit, menarik napas yang dalam. Mungkin tidak langsung terasa, tetapi pelan-pelan, hati kita yang tadinya sempit akan lapang, tidur yang tadinya gelisah akan tenang, dan kita akan menyadari bahwa cahaya dan udara yang kita rindukan tidak pernah pergi. Mereka hanya menunggu di luar pintu, dengan sabar, sampai kita mau membukanya.
Ya Allah, bukakanlah mata dan hati kami untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Mu di langit dan di bumi. Berkahilah pagi hari kami, lapangkanlah dada kami, dan jadikanlah setiap napas serta cahaya yang Engkau karuniakan sebagai jalan bersyukur kepada-Mu. Jagalah kami dari kelalaian dan sakit, dan tenangkanlah hati kami. Amin. (*)