Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat / Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Barangsiapa berusaha untuk sabar, Allah akan menjadikannya sabar. Dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053)
Tuang air panas, aduk, jadi. Begitulah hidup kita berjalan hari ini. Makanan sampai di depan pintu dalam setengah jam, video selesai dalam lima belas detik, dan jawaban datang dari mesin dalam sedetik.
Wajar bila lama-lama kita ingin segala hal berlangsung begitu: pengikut cepat bertambah, berat badan turun dalam seminggu, usaha untung di bulan pertama, karier naik tanpa menunggu.
Jika tidak, kita bosan, berganti arah, atau menyerah. Dr. Naoki Yamamoto, dosen asal Jepang yang menjadi Muslim, dalam sebuah wawancara video menjuluki kita "orang Nescafe", yaitu orang yang ingin hasil dalam lima atau sepuluh menit. Julukannya terdengar lucu, tetapi menyentil.
Ingin cepat sebenarnya bukan penyakit zaman modern saja. Al-Qur'an menyebutnya sebagai tabiat manusia: "Manusia diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa" (QS. Al-Anbiya': 37), dan "Manusia itu bersifat tergesa-gesa" (QS. Al-Isra': 11).
Hanya saja, zaman kita memberi tabiat itu begitu banyak jalan pintas. Psikologi memberi gambaran yang menenangkan. Angela Duckworth dan kawan-kawan (2007) menemukan bahwa ketekunan jangka panjang, yakni tetap berjalan menuju tujuan meski hasil belum tampak, berkaitan dengan pencapaian.
Sementara studi lanjutan Watts, Duncan, dan Quan (2018) mengingatkan bahwa kemampuan menahan keinginan juga dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan sekitar, bukan semata karakter. Artinya, kesabaran bukan bakat yang dimiliki sebagian orang saja.
Ia bisa dilatih, dan lingkungan yang baik membantu. Jika dibiarkan, kebiasaan menuntut hasil instan membuat kita mudah patah semangat, mudah iri, dan mudah tertipu oleh janji yang serba cepat.
Rasulullah saw pernah menghadapi keluhan serupa dari para sahabatnya. Khabbab bin Al-Aratt ra. bercerita bahwa mereka mengadu kepada Nabi yang sedang bersandar pada burdahnya di bawah naungan Ka'bah, lalu bertanya, "Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami?" Saat itu kaum Muslimin disiksa di Makkah.
Nabi lalu mengingatkan bahwa umat-umat sebelum mereka bahkan ada yang digergaji kepalanya atau disisir dagingnya dengan sisir besi, tetapi mereka tetap teguh pada agamanya. Beliau bersumpah bahwa Allah akan menyempurnakan urusan ini, sampai seorang pengendara dapat berjalan dari Shan'a ke Hadramaut tanpa takut kecuali kepada Allah dan serigala atas kambingnya, "tetapi kalian tergesa-gesa" (HR. Bukhari no. 3612).
Sebagian ulama memahami kalimat penutup itu sebagai pengingat bahwa kemenangan dan hidayah ada di tangan Allah semata, dan menuntutnya datang cepat adalah bentuk ketergesaan. Nabi tidak memarahi, tetapi menanamkan harapan dengan kelembutan.
Nabi Nuh as. memberi pelajaran yang lebih panjang lagi. "Maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun" (QS. Al-'Ankabut: 14), dan "tidak beriman bersama dia kecuali sedikit" (QS. Hud: 40).
Bayangkan berdakwah hampir seribu tahun dengan hasil yang tampak begitu sedikit. Namun ia tidak berhenti, karena yang diminta darinya adalah kesungguhan, bukan jumlah hasil. Sabar di sini bukan diam, melainkan terus melangkah tanpa menuntut panen sebelum waktunya.
Karena itu, Allah memberi arah yang menenangkan: "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 153).
Perhatikan pasangannya, sabar dan shalat. Shalat adalah latihan sabar yang paling nyata: lima kali sehari kita diminta berhenti di tengah kesibukan, menahan keinginan untuk menunda, dan hadir tepat waktu. Ritme itu pelan-pelan mengajarkan kita bahwa tidak semua hal harus selesai sekarang.
Dalam doa pun kita diajari sabar. Rasulullah saw bersabda, "Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: 'Aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan untukku'" (HR. Bukhari no. 6340 dan Muslim no. 2735).
Doa tidak seperti memesan makanan. Jawabannya bisa datang dalam bentuk lain, di waktu yang lain, dengan cara yang lebih baik daripada yang kita bayangkan.
Di era algoritma, godaan itu terasa kian kuat. Kita melihat kesuksesan orang lain yang tampak datang dalam semalam, tanpa melihat tahun-tahun sunyi di belakangnya.
Berhati-hatilah dengan janji cepat kaya atau cara-cara instan yang tidak jujur, sebab ketergesaan sering menjadi pintu masuk bagi tipu daya.
Hendaknya dijauhi pula salah paham tentang sabar. Sabar bukan membiarkan diri dizalimi atau bertahan dalam keadaan yang merusak, dan bukan pula alasan untuk tidak berusaha.
Ia adalah bekerja dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan waktunya kepada Allah. Rasulullah saw menegaskan bahwa kesabaran adalah pemberian terbaik dan terluas, dan ia bisa dilatih: "Barangsiapa berusaha untuk sabar, Allah akan menjadikannya sabar."
Latihan itu bisa dimulai dari hal kecil. Pecahlah tujuan besar menjadi langkah harian, rayakan kemajuan sekecil apa pun, kurangi membandingkan diri, dan beri jeda beberapa tarikan napas sebelum bereaksi atau mengambil keputusan besar.
Seperti tunas padi yang ditarik-tarik agar cepat tinggi justru layu, begitulah hasil yang dipaksa datang sebelum waktunya. Ia butuh tanah, air, dan waktu, dan di bawah tanah akar sedang bekerja diam-diam. Kelak, kesabaran tidak akan dibalas sekadar.
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (QS. Az-Zumar: 10).
Jika hari ini kita merasa tertinggal, atau hasil yang kita tunggu tak kunjung tiba, tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan hati yang ingin cepat sampai. Tetapi mungkin yang kita butuhkan bukan jalan yang lebih cepat, melainkan napas yang lebih panjang.
Teruskan langkah kecil yang sudah kita mulai, rawat yang sedang tumbuh di bawah tanah, dan serahkan waktunya kepada Dia yang paling tahu kapan sesuatu layak datang.
Pelan-pelan, dengan izin Allah, apa yang kita tanam dengan sabar akan tumbuh, dan kita akan menyadari bahwa menunggu dengan hati yang tenang pun termasuk bagian dari perjalanan.
Ya Allah, anugerahkanlah kami kesabaran yang lapang di tengah zaman yang serba cepat. Jagalah hati kami dari ketergesaan, iri, dan putus asa, kuatkanlah kami untuk terus berusaha dengan tekun, dan jadikanlah penantian kami sebagai ladang pahala. Teguhkanlah langkah kami hingga hasilnya Engkau datangkan pada waktu yang terbaik menurut-Mu. Amin.(*)