Ponticity post author Kiwi 31 Oktober 2026

H. Yuliansyah Dukung Perubahan Bentuk IAIN Menjadi UIN dan Mengusulkan Nama Sultan Hamid II

Photo of H. Yuliansyah Dukung Perubahan Bentuk IAIN Menjadi UIN dan Mengusulkan Nama Sultan Hamid II

PONTIANAK,SP - Berkenaan dengan rencana IAIN Pontianak berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), kami, H. Yuliansyah, SE, Anggota Komisi V DPR RI Dapil Kalbar 1 dari Fraksi Gerindra, mendukung sepenuhnya upaya untuk perubahan bentuk tersebut. Karena dengan perubahan bentuk diharapkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri kebanggaan masyarakat Kalbar ini dapat meningkatkan kualitas dan kiprahnya bagi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Kalimantan Barat.  Dengan perubahan dari IAIN menjadi UIN memungkin untuk pengembangan fakultas dan penambahan jumlah mahasiswa dan dosen.  Nanti UIN bisa membuka fakultas umum seperti fakultas sosial politik, humaniora, tekhnik dan kedokteran.  Berarti nanti memberikan kesempatan  yang lebih luas bagi generasi muda Kalbar untuk mendapatkan akses Pendidikan.   Pada akhirnya ini akan berdampak terhadap peningkatan IPM Kalbar.

Kemudian, kita adalah daerah yang memiliki beberapa keunggulan strategis seperti berbatasan dengan dua negara sahabat Kuching Malaysia dan Brunei Darussalam.  Dengan peningkatan kualitas Pendidikan Tinggi Keagamaan Negeri di Pontianak, memungkinkan untuk menyerap potensi mahasiswa dari luar negeri.  Kemudian, peluang kerjasama antar penguruan tinggi akan semakin besar.

Terkait dengan rangkaian perubahan bentuk adalah keharusan pengusulan nama lembaga tersebut.  Kami mengusulkan dalam pemberian nama tersebut mempertimbangkan nama-nama tokoh yang ada di Kalbar.  Dan jangan sampai overlapping dengan lembaga lain yang sudah memberikan nama yang serupa.   Saya secara pribadi mengusulkan salah satu tokoh penting di Pontianak, yang perannya diakui secara nasional yaitu Sultan Ke-VII Keraton Qadariah Pontianak yaitu Sultan Hamid II.  Beliau adalah tokoh besar yang dimiliki Kalbar, kiprahnya selalu diingat berperan dalam mewakili BFO (badan permusyawaratan federal) dalam Konferensi Meja Bundar di Belanda bersama dengan pihak Republik yang diwakili oleh Moh. Hatta yang memutuskan pengakuan kedaulatan Indonesia secara penuh.   Beliau juga berjasa mendesign lambang negara Burung Garuda yang menjadi lambang resmi negara.  Disamping itu, banyak juga peran-peran lain yang dimainkan beliau.  Meskipun ada pro kontra tentang beliau, harus kita baca dalam konstelasi politik pada masanya.  Dan itu menjadi tugas kita untuk meluruskan seperti apa sebenarnya kebenaran sejarah.  Karena sejarah selalu dituliskan oleh pemenang, oleh karenanya tidak otomatis itu sebagai satu-satunya kebenaran.

Mengapa nama Sultan Hamid II ini perlu kita munculkan Kembali, walaupun sebenarnya beliau sudah cukup popular sebagai tokoh politik nasional.  Pertama, beliau adalah Raja Keraton Qadariah yang memiliki track record Pendidikan yang jelas dan membanggakan.   Kedua, beliau menunjukkan peran aktif dalam diplomasi politik, menyatukan para tokoh berbagai etnis di Kalbar, menyatukan para raja-raja nusantara dan bersedia bersatu dengan NKRI. Ketiga, beliau terlibat aktif dalam diplomasi tripartit, pihak Belanda, pihak RI dan pihak BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), dan dimediasi oleh UNCI (United Nations Commission for Indonesia) PBB,  yang menentukan masa depan politik dan eksistensi Indonesia.  Keempat, beliau adalah pembuat design lambang negara burung garuda yang sampai hari ini diakui dalam konstitusi kita. Kelima, beliau merupakan tokoh Kalbar yang eksis di tingkat nasional pada era awal-awal kemerdekaan. Keenam, akibat Pendidikan dan jaringan komunikasinya yang luas, beliau adalah intelektual, politikus dan diplomat yang berpandangan cosmopolitan dan internasionalis.  Beliau berinteraksi dengan berbagai tokoh nasional, bahkan duduk sejajar dengan para founding father Indonesia. Beliau juga memiliki jaringan komunikasi dengan dunia internasional, karena Pendidikan di Breda Belanda dan hubungan baiknya dengan keluarga kerajaan Belanda.

Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, kami mengusulkan nama beliau sebagai salah satu alternatif nama UIN Sultan Syarif Hamid II.  Karena siapa lagi yang akan mengingat dan membesarkan tokoh-tokoh yang dimiliki oleh Kalbar, kecuali kita sendiri.  Ini adalah momentum, memberikan nama sebuah kampus besar dengan nama besar. Selamat kepada IAIN Pontianak untuk mewujudkan cita-cita UIN. Kami selaku anggota Parlemen dari Kalbar siap mendukung upaya-upaya tersebut, demi kemajuan Kalbar.(*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda