Internasional post authorelgiants 03 Juli 2025

Direktur RS Indonesia di Gaza Dibunuh Israel, Indonesia Berduka

Photo of Direktur RS Indonesia di Gaza Dibunuh Israel, Indonesia Berduka

GAZA, SP - Direktur Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, dr Marwan Al Sultan, meninggal dunia dalam serangan udara Israel yang menghantam kediamannya di sebelah barat Kota Gaza, Rabu (2/7/2025). Serangan itu juga menewaskan sejumlah anggota keluarganya, termasuk istri dan anaknya.

Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA, Al Sultan gugur bersama istri dan beberapa anaknya. Jenazah mereka telah dibawa ke RS Al-Shifa di Gaza.

Al Sultan adalah petugas kesehatan ke-70 yang terbunuh oleh serangan udara Israel. Kematiannya dinilai sebagai kerugian besar bagi dunia medis Gaza, terutama di tengah krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda mereda sejak 7 Oktober 2023.

Anak Al Sultan yang selamat, Lubna Al Sultan, menceritakan bahwa jet tempur F-16 milik Israel menembakan rudal secara  tiba-tiba dan menghantam kamar sang Ayah.

"Rudal F-16 menargetkan kamarnya, tempat dia berada, langsung ke arahnya. Semua kamar di rumah itu utuh kecuali kamar dia yang terkena rudal. Ayah saya menjadi martir di sana," kata dia.

“Semoga ayahku, Marwan Al Sultan; Ibuku, dr Dhikra Nimr Al Sultan; dan saudaraku, Lamis Marwan Al Sultan; menjadi syahid," imbuh Lubna, dikutip dari video Al-Jazeera pada Kamis (3/7/2025).

Al-Sultan merupakan sumber informasi utama dari Gaza, yang melaporkan kondisi warga Palestina di wilayah utara yang terkepung.

Dia berulang kali meminta masyarakat internasional untuk mendesak keselamatan tim medis, termasuk ketika tentara Israel mengepung dan menyerang secara brutal RS Indonesia.

"Seluruh hidupnya didedikasikan untuk kesehatan dan perjuangan mengobati pasien, tak ada alasan untuk menjadikannya sebagai target. Semoga ia syahid," ujar Lubna.

Kementerian Kesehatan Palestina menyebut serangan ini sebagai kejahatan yang disengaja terhadap tenaga medis dan kemanusiaan.

“Setiap kejahatan terhadap personel medis menegaskan metodologi berdarah dan desakan yang direncanakan sebelumnya untuk secara langsung menargetkan mereka,” demikian bunyi pernyataan resmi kementerian tersebut.

Pembunuhan terhadap Al Sultan menambah daftar panjang korban sipil dalam agresi Israel di Gaza. Lebih dari 1.500 petugas kesehatan telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023.

“Kami mengutuk kejahatan keji ini terhadap kader medis kami. Dia menjadi simbol pengabdian, keteguhan, dan ketulusan di tengah agresi tanpa henti,” tulis Kementerian Kesehatan Palestina.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan rasa belasungkawa atas wafatnya ahli jantung intervensional sekaligus Direktur RS Indonesia di Gaza Utara tersebut.

“Indonesia turut berduka atas wafatnya dr. Marwan Al Sultan, Direktur RS Indonesia di Gaza, beserta keluarganya pada 2 Juli 2025, dan mengutuk serangan Israel tersebut,” demikian disampaikan Kemlu RI dalam pernyataan tertulis di media sosial X, Kamis (3/7/2025).

Selain itu, pemerintah Indonesia juga mengapresiasi jasa dan perjuangan dokter Al Sultan untuk kemanusiaan dan perdamaian Palestina.

Lebih lanjut, Kemlu memastikan bahwa pihaknya akan terus memonitor dari dekat perkembangan atas situasi RS Indonesia di Gaza utara di tengah agresi Israel yang tak kunjung berakhir.

“Indonesia kembali menyerukan dihentikannya kekejaman Israel dan dilakukannya gencatan senjata segera di Palestina,” demikian pernyataan Kemlu.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta juga turut berduka atas tewasnya Al Sultan.

“Kita semua berduka dan kehilangan atas wafatnya dr Marwan al-Sultan, direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, beserta keluarganya hari ini,” tulis Anis, dikutip dari akun Instagram pribadinya, @anismatta, Kamis (3/7/2025).

Anis menyampaikan, dr Marwan Al Sultan bersama istri dan anak-anaknya bertahan hingga titik darah penghabisan sebelum akhirnya meninggal dunia.

"Ia bertahan hingga titik darah penghabisan, di tempat perjuangan yang telah berulang kali dibom dan dihancurkan," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Anis turut mendoakan agar almarhum dr Marwan sekeluarga bisa tenang beristirahat dan diterima di tempat terbaik.

Senada, organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia mengecam keras pembunuhan Al Sultan dalam serangan udara Israel pada Rabu (2/7/2025).

“Pembunuhan dr. Marwan Al Sultan dan keluarganya merupakan pelanggaran mencolok terhadap prinsip kemanusiaan dan tindakan ketidakadilan serius yang harus dimintai pertanggungjawaban. Ini adalah hari berkabung bagi seluruh umat manusia. Kami menolak untuk diam,” demikian pernyataan resmi MER-C Indonesia, Kamis (3/7/2025).

MER-C menyebut, dari informasi yang diterima total ada sembilan warga Palestina syahid dalam serangan tersebut, dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Sementara, Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera mengutuk serangan Israel yang menewaskan Al Sultan, sebagai bukti nyata pelanggaran terhadap prinsip-prinsip perlindungan misi kemanusiaan.

"Serangan terhadap rumah sakit dan tenaga medis merupakan bentuk kejahatan perang yang tidak bisa ditoleransi. Ini menunjukkan bahwa agresi Israel telah melampaui batas kemanusiaan," kata Mardani.

Ia mengatakan BKSAP DPR mencatat bahwa serangan itu terjadi dalam konteks eskalasi kekerasan yang terus memburuk di Jalur Gaza.

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), lanjut Mardani, sebelumnya melaporkan bahwa RS Indonesia di Gaza utara mengalami kerusakan parah akibat serangan militer Israel. Mulai dari plafon yang terus berjatuhan menimpa alat medis hingga kaca-kaca jendela yang pecah sehingga mengganggu aktivitas medis.

Ia juga menambahkan fakta yang menunjukkan situasi kemanusiaan semakin memburuk sebagaimana laporan RS di Gaza, yakni sebanyak 67 warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir, termasuk 11 orang yang menjadi korban jiwa saat tengah menunggu bantuan kemanusiaan.

Untuk itu, Mardani menyerukan dunia tidak boleh terus membiarkan kejahatan kemanusiaan seperti di atas terus berlalu tanpa konsekuensi.

"Parlemen-parlemen di seluruh dunia harus mengambil sikap tegas, mendorong mekanisme akuntabilitas internasional, dan memastikan bahwa perlindungan terhadap warga sipil serta pekerja kemanusiaan ditegakkan tanpa kompromi," kata Mardani.

Untuk diketahui, Israel meluncurkan agresi ke Palestina pada Oktober 2023. Sejak saat itu, mereka menggempur habis-habisan fasilitas sipil seperti rumah sakit, kamp pengungsian, hingga tempat ibadah.

RS Indonesia di Jalur Gaza juga sudah berulang kali menjadi sasaran tembak tentara Zionis Israel. Secara serampangan, mereka menuding ada markas Hamas di fasilitas medis tersebut sehingga perlu dihancurkan.

Namun tuduhan Israel tak pernah terbukti. Mereka sering menggunakan dalih yang sama untuk menghancurkan berbagai fasilitas medis di Gaza.

RS Indonesia terakhir diserang Israel pada akhir Mei lalu, sehingga menyebabkan kerusakan struktural parah dan menghambat layanan kesehatan warga setempat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga Juni 2024, 464 fasilitas medis telah diserang dan 727 petugas kesehatan tewas.

Selain itu, laporan Pusat Pengembalian Palestina (PRC) pada Januari 2025 mengungkapkan bahwa 34 rumah sakit dan 80 pusat medis hancur total.

Serangan brutal Zionis Israel terhadap Gaza juga telah menyebabkan lebih dari 56.000 warga di Palestina meninggal, mayoritas perempuan dan anak-anak serta 133.419 lainnya terluka. Ratusan ribu rumah dan fasilitas sipil juga hancur porak-poranda. (ant)

Dedikasi dalam Krisis Kemanusiaan

Sejak dimulainya genosida Gaza pada 2023, Al Sultan memimpin operasional RS Indonesia dalam situasi yang sulit, dengan menyediakan layanan medis penting bagi rakyat Palestina.

Meski terus-menerus menghadapi ancaman serangan udara Israel dan keterbatasan sumber daya cukup parah, ia tetap menjalankan tugasnya memberikan layanan medis esensial kepada warga Palestina, bahkan setelah RS Indonesia diblokade pada Desember 2024 dan ia dipaksa keluar dari fasilitas tersebut.

Selama gencatan senjata Januari 2025, Al Sultan kembali mengaktifkan layanan rumah sakit. Ia menjalin kerja sama erat dengan tim kemanusiaan internasional dari berbagai negara, termasuk Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, dan Maroko.

Di bawah kepemimpinannya, RS Indonesia menjadi pusat layanan kesehatan utama di Gaza, bukan target militer seperti yang kerap diklaim oleh Israel.

Al Sultan juga dikenal sebagai pribadi terbuka dan kooperatif. MER-C mencatat bahwa antara Januari hingga Maret 2025, Emergency Medical Team (EMT) mereka bekerja langsung bersama Al Sultan untuk menghidupkan kembali layanan darurat dan memulihkan operasional rumah sakit secara penuh.

 “Ia dikenal terbuka, spontan, dan memiliki kepemimpinan yang tegas. Rapat harian rumah sakit kerap berlangsung penuh debat namun selalu ditutup dengan canda, kopi, dan makan bersama,” tulis MER-C.

Kematian Al Sultan menjadi pukulan besar bagi dunia medis di Gaza. Ia adalah satu dari sedikit spesialis dokter jantung yang tersisa dan sangat dibutuhkan masyarakat. Lebih dari itu, ia telah menjadi teladan tentang arti pengabdian tanpa pamrih di tengah kehancuran. (ant)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda