Opini post author Kiwi 31 Oktober 2026

Bukan Otak yang Berpikir, Menelusuri Tiga Lapis Eksistensi Manusia: Jasadiah, Zhahiriah, dan Bathiniah

Photo of Bukan Otak yang Berpikir, Menelusuri Tiga Lapis Eksistensi Manusia: Jasadiah, Zhahiriah, dan Bathiniah

0leh: Prof. Dr. H. Syarif, S.Ag., MA

Pendahuluan: Siapakah Sesungguhnya yang Berpikir?

Selama ini manusia terbiasa mengatakan bahwa otak adalah pusat pikiran. Ketika seseorang berpikir, kita mengatakan otaknya bekerja. Ketika seseorang mengingat, kita menyebutnya sebagai aktivitas otak. Bahkan, ketika seseorang mengambil keputusan, otak sering kali ditempatkan sebagai pusat yang menentukan segala sesuatu.

Namun, pernahkah kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah benar otak itu sendiri yang berpikir? Apakah otak merupakan subjek yang memiliki kesadaran, ataukah ia hanya bagian dari perangkat jasadiah manusia yang menjalankan fungsi tertentu?

Pertanyaan ini membawa kita pada perenungan tentang hakikat manusia. Manusia bukan sekadar tubuh biologis yang tersusun atas kulit, daging, tulang, darah, saraf, dan organ-organ lainnya. Manusia memiliki dimensi eksistensi yang lebih dalam daripada sekadar struktur fisiknya.

Dalam perspektif yang hendak dibangun di sini, manusia terdiri atas tiga lapis eksistensi, yaitu lahiriah atau jasadiah, zhahiriah atau ruhaniah, dan bathiniah. Ketiganya memiliki kedudukan dan fungsi yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membentuk keutuhan diri manusia. Kita sebut tiga sejoli eksistensi.

Dari perspektif inilah muncul tesis utama: bukan otak yang berpikir. Otak merupakan bagian dari jasad, sedangkan aktivitas berpikir merupakan aktualisasi daya batin melalui diri manusia yang dihidupkan oleh ruh.

1. Lahiriah: Jasad Bukanlah Subjek
Lapis pertama eksistensi manusia adalah lahiriah atau jasadiah. Inilah dimensi fisik manusia yang dapat dilihat, disentuh, diukur, dan diamati secara biologis. Jasad manusia berasal dari proses biologis yang melibatkan kedua orang tua (Q.s. al-Hujutar [49]: 13, al-Thariq [86]: 5-7, al-Mu’minun [23]: 12-14, al-Sajadah [32]:8). Ia merupakan perangkat fisik yang memungkinkan manusia hadir di permukaan bumi ini.
Dalam kerangka pemikiran ini, jasad dapat dipahami melalui tiga tingkatan: Pertama, basyar. Basyar merupakan lapisan terluar tubuh manusia yang tampak secara fisik, terutama kulit dan rambut atau bulu tubuh; Kedua, jasmaniah. Jasmaniah mencakup basyar beserta daging dan bagian-bagian fisik yang membentuk tubuh manusia; dan Ketiga, tubuh secara keseluruhan. Tubuh merupakan kesatuan seluruh unsur fisik, meliputi kulit, rambut, daging, urat, saraf, otak, tulang, darah, dan organ-organ lainnya.
Perlu dicatat bahwa pembagian tiga tingkatan ini merupakan kerangka konseptual yang digunakan dalam artikel ini, adalah klasifikasi anatomi baku ataupun pembagian eksplisit yang inspirasinya ada dalam Al-Qur'an dan keterangan hadis.
Dalam pandangan ini, jasad bukanlah subjek yang dapat berdiri sendiri. Ia merupakan perangkat tempat kehidupan diri berlangsung. Mata adalah organ penglihatan, telinga adalah organ pendengaran, dan otak merupakan organ yang menjalankan fungsi neurologis. Akan tetapi, persoalan tentang siapa yang menyadari, mengalami, dan memberi makna terhadap seluruh aktivitas tersebut tidak selesai hanya dengan menjelaskan fungsi organ-organ itu.
Untuk menjelaskannya, kita dapat menggunakan analogi sebuah mobil.
Mobil, secanggih apa pun teknologinya, tidak akan bergerak tanpa adanya sistem penggerak dan kendali. Pada mobil konvensional, driver atau pengemudilah yang mengendalikan perjalanan. Pada mobil otonom, sistem kecerdasan buatan – AI yang menjalankan fungsi kendali berdasarkan rancangan, data, perintah, dan algoritma yang dibuat manusia. Dengan demikian, istilah tanpa awak tidak selalu berarti tanpa sistem pengendali. Ada mekanisme yang membuat kendaraan itu bergerak.
Demikian pula jasad manusia. Ia tidak cukup dipahami hanya sebagai kumpulan organ. Ada dimensi kehidupan yang membuatnya menjadi manusia yang hidup, sadar, mengalami, dan beraktivitas.

2. Zhahiriah: Ruh sebagai Dimensi Kehidupan dan Pengaktifan Jasad
Lapis kedua adalah zhahiriah atau ruhaniah. Secara bahasa, zhahr berarti sesuatu yang tampak, nyata, atau hadir. sedang zhâhir berati fâ’il yang menyatakan ada, atau menyatakan tampak atau hadir. Dalam kerangka pemikiran ini, istilah zhahiriah digunakan untuk menunjuk dimensi yang mewujudkan keberadaan diri pada manusia sebagai hamba yang hidup, yaitu ruh. Jika jasadiah berkaitan dengan proses biologis yang melibatkan ayah dan ibu, maka ruh berkaitan dengan kehendak dan pemberian Allah Swt (Q.s. al-Sajadah [32]:9).
Ruh bukanlah benda biologis. Ia bukan organ tubuh yang dapat ditemukan melalui pembedahan, bukan pula jaringan yang dapat diukur sebagaimana darah atau saraf. Ruh merupakan bagian dari perkara ketuhanan yang hakikat sepenuhnya berada dalam hal yang diurus Allah. Allah menyatakan dalam Q.s. l-Isra' [17]: 85: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan [tentangnya] melainkan sedikit [orang saja]."
Ayat ini memberikan batas epistemologis yang sangat penting. Kita dapat merenungkan fungsi dan kedudukan ruh, tetapi tidak boleh mengklaim telah mengetahui keseluruhan hakikatnya. Yang paling tegas dari teks di atas bahwa hanya Tuhan yang bisa mengurus ruh. Kemudian ruh ini yang dipercaya Tuhan untuk mengurus jasadnya.
Dalam analogi sebelumnya, ruh dapat dipahami sebagai pengemudi yang memungkinkan jasad menjalankan fungsi kehidupannya. Mata, telinga, tangan, dan seluruh organ merupakan perangkat fisik. Namun, kehidupan manusia tidak dapat direduksi menjadi keberadaan organ-organ tersebut. Al-Qur'an menggambarkan penyempurnaan penciptaan manusia dan peniupan ruh dalam beberapa ayat, antara lain Q.s. al-Hijr [15]: 28–29, Q.a. al-Sajdah [32]: 7–9, dan Q.s. Shad [38]: 71–72.
Dalam Q.s. al-Sajdah [32]: 9, Allah menyebutkan bahwa setelah menyempurnakan kejadian manusia dan meniupkan ruh di dalamnya, Dia menjadikan baginya pendengaran, penglihatan, dan rasa. Ayat tersebut mengajak kita merenungkan hubungan antara penciptaan jasad, peniupan ruh, dan pemberian perangkat kesadaran yautu rasa.
Di sinilah ruh memperoleh kedudukan penting dalam memahami eksistensi manusia. Ia bukan sekadar pelengkap jasad, melainkan dimensi kehidupan yang tidak dapat disamakan dengan materi fisik. Karena memang ruh itu wujudnya cahaya, seperti keterangan Q.s al-S?ûrâ [42] : 52

3. Bathiniah: Inti Terdalam Diri Pada Manusia
Lapis ketiga adalah bathiniah. Jika lahiriah merupakan dimensi fisik dan zhahiriah merupakan dimensi ruhaniah, maka bathiniah adalah dimensi inti terdalam eksistensi diri pada manusia.
Bathin berasal dari kata Arab bathn, yang menunjuk pada sesuatu yang tersembunyi, tidak tampak pada permukaan, atau berada di kedalaman.
Dalam konstruksi pemikiran ini, bathin merupakan pusat pengalaman terdalam diri pada manusia: tempat rasa, kesadaran nilai, pemahaman, dan penghayatan memperoleh makna.
Bathin bukan organ jantung atau bagian fisik yang berada di dalam dada. Ia merupakan dimensi terdalam yang tidak dapat diukur dengan ukuran anatomis.
Kepada dimensi bathin inilah dianugerahkan akal, pikir, khayal, faham, ilmu. Karenanya ruh atau kita dapat berfikir, mengkhayal, memahami, mendapat pengetahuan dan membedakan kebaikan dan keburukan.
Al-Qur'an menerangkan bathin dengan istilah lubb untuk menggambarkan kedalaman akal dan pemahaman diri pada manusia. Orang-orang yang memiliki albab (ulu al-albáb) bukan sekadar orang yang mampu mengolah informasi, melainkan mereka yang mampu menangkap makna, mengambil pelajaran, dan menyadari atau merasakan eksistensi Allah sebagai Asalnya.
Allah menyatakan dalam Q.s. Ali Imran [3]: 190–191: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki kedalaman diri." Ayat ini menunjukkan bahwa berpikir bukan semata-mata kegiatan mengolah informasi. Berpikir yang sesungguhnya membawa manusia kepada pengenalan terhadap kebenaran, kesadaran tentang keberadaan dirinya, dan pengakuan terhadap eksisrensi Sang Pencipta. Al-albâb ini sering diterjmah dengan orang-orang yang yang befiilkir. Betul, bahwa lubb itu bathin, dan ia yang berfikir, bukan otak.
Dalam perspektif ini, bathin merupakan ruang terdalam tempat kemampuan berpikir memperoleh orientasi dan nilai. Diri pada manusia tidak hanya mampu mengetahui sesuatu, tetapi juga dapat menyadari apakah pengetahuannya membawa kebaikan atau keburukan. Bhatin dalam diri pada manusia tidak hanya dapat merasakan sesuatu, tetapi juga mampu menghayati cinta, kasih sayang, kesedihan, penyesalan, kebahagiaan, dan kerinduan kepada Tuhan. Di sinilah letak kedalaman eksistensi bathin dalam diri pada manusia.

4. Jika Bukan Otak, Lalu Siapakah yang Berpikir?
Inilah pertanyaan sentral dari seluruh pembahasan. Otak merupakan organ biologis yang memiliki fungsi sangat penting dalam kehidupan manusia. Ilmu neurologi menjelaskan bahwa otak berperan dalam memori, bahasa, persepsi, pengambilan keputusan, pengaturan gerakan, dan berbagai proses kognitif.
Namun, penjelasan mengenai bagaimana proses biologis berlangsung belum dengan sendirinya menyelesaikan pertanyaan filosofis tentang siapa yang mengalami kesadaran dan bagaimana pengalaman itu memiliki makna. Bahkan apa yang dinyatakan oleh ilmu neorologi itu, kenyataan absurd. Riset terhadap otak Albert Eimstein selama tiga tahun setelah diawetkan selama dua puluh tahun, tidak ada apa-apa di dalamnya. Tidak ada memori apa pun di dalamnya.
Dalam kerangka tiga lapis eksistensi yang dibangun di sini, aktivitas berpikir tidak diletakkan sebagai aktivitas otak yang berdiri sendiri. Bathin merupakan inti pemberi makna, sedangkan ruh menjadi dimensi kehidupan yang memungkinkan diri pada manusia hadir sebagai subjek yang mengalami dan bertindak. Pada case berfikir, ruh adalah penyambung atau yang menyenggolkan bathin kepada organ yang bernama otak. Sebutannya, dengan bathin ruh berfikir menggunakan otak.
Dengan kata lain, otak adalah perangkat jasadiah, ruh merupakan dimensi sunyek kehidupan, sedangkan bathin merupakan inti terdalam kesadaran dan penghayatan diri pada manusia. Ketiganya tidak boleh dipisahkan secara mutlak.
Mengapa bathin baru dapat mengaktualisasikan potensinya ketika ruh hadir dalam jasad? Karena dalam konstruksi pemahaman ini, bathin dan ruh dipahami sebagai dua dimensi yang menyertai keutuhan eksistensi diri dalam tubuh manusia. Ruh memungkinkan kehidupan berlangsung dalam jasad, sementara bathin memberikan kedalaman pengalaman, rasa, dan orientasi nilai terhadap kehidupan tersebut.
Maka ketika manusia berpikir, sesungguhnya yang sedang berlangsung bukanlah aktivitas otak yang berdiri sendiri, melainkan aktivitas diri pada manusia secara utuh: jasad sebagai perangkat fisik, ruh sebagai dimensi sunek kehidupan, dan bathin sebagai inti kesadaran serta pemaknaan, di mana wujud batin itu adalah adalah ‘aql fikr, khayal, fahm, ‘ilmu.

5. Bathin sebagai Pengendali Moral: Dari Perbuatan Menuju Catatan Kehidupan
Salah satu aspek paling menarik dari keberadaan bathin adalah kemampuannya dalam memberikan penilaian moral. Diri pada manusia tidak hanya melakukan perbuatan. Ia juga dapat menyadari, menilai, menyesali, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Itu karena ada batin yang mencatat semuanya.
Seseorang mungkin melakukan sesuatu yang secara lahiriah tampak baik, tetapi di dalam batinnya tersimpan niat yang buruk. Sebaliknya, suatu perbuatan yang tidak diketahui manusia lain dapat memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah karena ketulusan niatnya.
Di sinilah pentingnya dimensi batin. Allah menyatakan dalam Q.s. al-Hajj [22]: 46: "...Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada." Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa kebutaan manusia yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan batin yang menyebabkan seseorang gagal mengenali kebenaran.
Dalam Q.s. al-Qiyamah [75]: 14, Allah juga menyatakan bahwa manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, sekalipun ia mengemukakan berbagai alasan.
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa manusia memiliki dimensi pertanggungjawaban yang tidak dapat dihindari hanya dengan menyembunyikan perbuatannya dari orang lain. Karena yang paling dalam pada dirinya yaitu bathin mengetahui dan mencatatnya.
Dalam konteks ini, bathin yang merasa dalam hati menjadi ruang kesadaran moral tempat diri pada manusia mengenali dirinya sendiri. Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan menugaskan malaikat untuk mencatat amal diri pada manusia. Ini terjadi karena bathin atau dzat yang dianugerahkan Allah itu.
Q.s. Qaf [50]: 17–18 menjelaskan keberadaan dua malaikat yang mencatat setiap perkataan manusia. QS. Al-Infithar [82]: 10–12 juga menjelaskan adanya malaikat-malaikat penjaga yang mulia dan mencatat amal manusia. Ajaibnya, catatan itu terbaca di dalam dada setiap diri pada manusia, sebelum dua malaikat itu membacakannya. Catatan itulah yang diperintahkan kepada kita untuk membacanya setiap detik (Q.s. al-Isrâ [17]:14.
Dengan demikian, terdapat seperti dua dimensi yang perlu dibedakan: kesadaran batin manusia terhadap perbuatannya dan pencatatan amal oleh malaikat atas perintah Allah. Padahal jika mendapat kefahaman tentang hubungan ruh dan malaikat itu bukan entitas yang berbeda, jika ruh itu memaksimalkan potensi bathin yang ada pada dirinya.
Diri pada manusia mungkin dapat membaca kembali jejak perbuatannya melalui kesadaran dan hati nuraninya sebelum datangnya hari perhitungan. Akan tetapi, pencatatan malaikat merupakan perkara tersendiri yang hakikat mekanismenya berada dalam pengetahuan Allah.

6. Iman: sang yang dipercayakan oleh Allah yaitu Batin
Pembahasan tentang bathin akhirnya membawa kita kepada persoalan iman.
Iman bukan sekadar pernyataan verbal. Iman bukan pula hanya pengetahuan tentang definisi kepercayaan. Iman adalah wujud yang dipercaya oleh Allah untuk menyertai kehidupan ruh dalam tubuh manusia. Dalam perspektif sufistik, hati memiliki kedudukan sentral dalam perjalanan diri pada manusia menuju Allah. Karena di dalamnya bathin itu bersuara kebenaran, namanya nurani. Juga di dalamnya bathin bersuara mengabarkan keburukan perilaku ruh, namanya sanubari.
Sedikit disclaimer, Rasulullah Saw bersabda bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh, itulah hati. Padahal hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Hadis ini sering dikaitkan dengan baik buruknya amal. Hati yang dimaksud adalah liver. Sesungguhnya ini tidak ada hubungannya dengan bathin. Hadis ini murni berbicara fisik dan bukan bicara baik buruknya amal. Hadis ini juga tidak berbicara iman. Secara fisik kalau liver bagus, maka seluruh tubuh sehat, dan sebaliknya.
Kita lanjutkan, orang yang cerdas belum tentu bijaksana. Orang yang berilmu belum tentu berakhlak mulia. Orang yang memiliki kemampuan berpikir tinggi belum tentu mampu mengenali kebenaran dalam dirinya. Sebab, pengetahuan memerlukan orientasi diri terhadap kebenaran di dalam dirinya, dan kecerdasan memerlukan kejernihan diri dengan bathin yang merasakan sesuatu dalam hati.
Dalam konteks ini, iman sisi terdalam, boleh disebut di kedalaman, namanya batin dan ia mengarahkan lurusnya kehidupan ruh yang berbuat pada jasad manusia untuk menuju kepada Allah Swt.

7. Mengembalikan Diri pada Manusia kepada Keutuhan Eksistensinya
Pemahaman bahwa otak bukan satu-satunya penjelasan tentang manusia membawa kita kepada kesimpulan yang lebih luas: manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar tubuh biologis. Ilmu pengetahuan modern dapat menjelaskan banyak hal tentang otak, saraf, hormon, dan proses kognitif. Semua penjelasan tersebut penting dan harus dihargai. Akan tetapi, pertanyaan tentang kesadaran, makna hidup, tanggung jawab moral, cinta, dan hubungan manusia dengan Tuhan juga membutuhkan pendekatan filosofis dan spiritual.
Manusia bukan makhluk yang mampu berpikir, tetapi tetapi diri pada manusia adalah hamba yang mampu berpikir. Diri pada Manusia mampu berfikir kareana ada bathin yang menyertainya, dan karenanya pula diri itu dapat merasa. Karena batin itu juga mampu memberikan makna terhadap seluruh perilakunya dengan rasa yang dianugerahkan kepadanya. Diri pada manusia bukan hanya wujud yang bergerak dengan tubuhnya, tetapi mampu mempertanggungjawabkan ke mana dan untuk apa ia bergerak dengan bathin di dalam dirinya.
Karena itu, tiga lapis eksistensi manusia perlu dipahami dalam satu kesatuan:
1. Lahiriah atau jasadiah: dimensi fisik yang menjadi perangkat biologis kehidupan manusia.
2. Zhahiriah atau ruhaniah: dimensi atau wujud ruh yang berkaitan dengan kehidupan dan keberadaan diri pada manusia sebagai hamba yang hidup dan menggerakkan.
3. Bathiniah: dimensi terdalam yang berkaitan dengan rasa, kesadaran, pemahaman, nilai, dan orientasi spiritual manusia.
Ketiganya membentuk keutuhan diri pada manusia sebagai wujud dalam satu Qudrat Allah.

Penutup: Otak Bukanlah Segala-galanya
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mempelajari otak sehingga lupa merenungkan siapa sesungguhnya diri kita. Kita mengenali fungsi mata, tetapi belum tentu memahami hakikat siapa yang melihat. Kita mengetahui fungsi telinga, tetapi belum tentu memahami hakikat siapa mendengar. Kita mempelajari fungsi otak, tetapi belum tentu memahami hakikat siapa yang berpikir. Otak memang penting, tetapi manusia tidak berhenti pada otak. Jasad adalah perangkat. Ruh adalah dimensi kehidupan. Bathin adalah kedalaman kesadaran dan pemaknaan.
Dalam perspektif ini, berpikir bukanlah kerja organ biologis seperti otak. Berpikir merupakan aktivitas ruh karena ada bathin atau dzat atau rasa dengannya. Namun antivitas berfikir itu merupakan sejoli tiga dimensi yaitu: bathin atau dzat sebagai îmân (wujud yang dipercaya oleh Allah, maka ia ditugaskan pada ruh); Ruh sebagai bamba, dialah subyek, dan jasad sebagai makhluk sekaligus obyek yang digerakkan oleh bamba. Hamba inilah central, dia yang menyembah Tuhan dangan îmân padanya. Hamba ini pula lah yang berfikir dengan menggunakan organ otak sebagai bagian dari jasadnya.
Pada akhirnya, persoalan diri kita bukan tampil dengan eksistensi jasad ini semata. Tetapi bagaimana seluruh eksistensi diarahkan untuk mengenali kebenaran, menghayati kebaikan, dan mengenal diri secara utuh untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab tanpa mengenal diri ini, kita tidak bisa mengenal dan mendekat bahkan tidak dapat menyembah Allah Swt.
Sebab, diri yang sesungguhnya bukanlah sekadar tubuh yang makhluk memiliki otak, melainkan ada hamba yang menggerakkan dan yang memiliki bathin sebagai sisi dalam diri untuk mengenali dirinya, memahami kehidupan, serta mengenal Tuhannya.

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda