Unggul Berbasis Sufistik, Mapan Berintegrasi Ilmu, Mengakar dalam Kebudayaan Borneo serta Berwawasan Global
Oleh: Prof. Dr. K.H. Syarif, S.Ag., MA.
Oleh: Gagasan Visi Pengembangan UIN Pontianak 2026–2046
Ada sebuah pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan ketika membicarakan masa depan Universitas Islam Negeri (UIN) Pontianak: apa yang membuat sebuah perguruan tinggi dikenang oleh dunia, bahkan ketika zaman telah berubah dan generasi demi generasi telah berlalu?
Jawabannya tidak selalu terletak pada luasnya kampus, banyaknya program studi, megahnya gedung, atau tingginya jumlah mahasiswa. Semua itu penting sebagai fondasi kelembagaan, tetapi universitas yang mampu meninggalkan jejak dalam sejarah peradaban biasanya memiliki sesuatu yang lebih mendasar: identitas keilmuan, tradisi intelektual, dan kontribusi pemikiran yang diakui melampaui batas geografisnya.
Atas dasar pemikiran tersebut, UIN Pontianak patut mempertimbangkan sebuah visi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian keunggulan akademik, tetapi juga membangun identitas peradaban yang khas, yakni universitas Islam yang unggul berbasis sufistik.
Gagasan ini bukanlah ajakan untuk menjadikan UIN Pontianak sebagai kampus yang hanya berbicara tentang tasawuf, zikir, tarekat, atau kehidupan spiritual dalam pengertian yang sempit. Lebih jauh daripada itu, sufisme hendak ditempatkan sebagai ruh etis dan spiritual yang menjiwai pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter akademisi, tata kelola kelembagaan, pengabdian kepada masyarakat, serta hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya.
Dengan visi demikian, UIN Pontianak tidak hanya bercita-cita menjadi universitas Islam yang maju, tetapi juga memiliki peluang untuk membangun reputasi internasional sebagai salah satu pusat rujukan kajian sufisme dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
Menengok Nizhamiyah: Ketika Lembaga Pendidikan Melahirkan Tokoh Peradaban
Inspirasi historis bagi gagasan ini dapat ditelusuri melalui Madrasah Nizhamiyah yang berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Seljuk, terutama melalui peran wazir Nizhamal-Mulk. Madrasah Nizhamiyah Baghdad yang didirikan pada abad ke-11 menjadi salah satu institusi pendidikan Islam yang paling dikenal dalam sejarah pendidikan klasik. Jaringan Nizhamiyah juga berkembang di sejumlah kota lain.
Kemasyhuran lembaga ini berkaitan dengan dukungan kelembagaan, pembiayaan, jaringan ulama, dan pengembangan tradisi keilmuan. Di antara tokoh yang berhubungan dengan tradisi Nizhamiyah adalah Imam al-Haramain al-Juwaini dan Abu Hamid al-Ghazali. Sejarahnya menunjukkan pentingnya hubungan antara dukungan institusional dan kehadiran sarjana yang memiliki pengaruh luas. CambridgeUniversityPress.
Al-Ghazali merupakan contoh yang sangat menarik untuk direnungkan. Ia menguasai fikih, usul fikih, teologi, dan filsafat, kemudian menjalani pergulatan intelektual dan spiritual yang mendalam. Setelah meninggalkan kedudukannya di Baghdad, ia menempuh kehidupan yang lebih berorientasi pada penyucian jiwa dan penghayatan sufistik. Pergulatan tersebut kemudian tercermin dalam karya-karya besarnya, terutama Ihya’ ‘Ulum al-Din.
Al-Ghazali tidak meninggalkan tradisi intelektualnya untuk sekadar menggantinya dengan kehidupan spiritual. Ia justru berusaha mempertemukan pengetahuan, pengamalan agama, pembinaan akhlak, dan pengalaman batin dalam suatu kerangka kehidupan yang utuh. Pemikirannya memperlihatkan bahwa kecerdasan intelektual perlu disertai kesadaran moral dan tanggung jawab spiritual.
Dari sinilah muncul pelajaran penting bagi UIN Pontianak. mengingat apa yang dipertemukan oleh al-Ghazalai di atas terasa sangat kering di IAIN Pontianak khususnya, dan di PTKIN pada umumnya.
Universitas yang besar bukan hanya universitas yang menghasilkan sarjana, melainkan universitas yang membangun ekosistem sehingga lahir pemikir-pemikir yang mengubah cara manusia memahami ilmu, agama, masyarakat, dan kehidupan.
Jika Madrasah Nizhamiyah menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam melalui tradisi keilmuan dan tokoh-tokohnya, UIN Pontianak dapat mengambil inspirasi serupa untuk membangun keunggulan yang sesuai dengan tantangan abad ke-21. Bukan dengan menyalin struktur Nizhamiyah, melainkan dengan mengembangkan tradisi akademik yang kuat, terbuka, produktif, dan berakar pada nilai-nilai sufistik.
Tentu saja, kejayaan Nizhamiyah tidak semata-mata disebabkan oleh al-Ghazali. Keberhasilannya juga terkait dengan dukungan politik, pembiayaan, jaringan pendidikan, dan kondisi sosial pada masanya. Justru karena itu, pelajaran sejarah tersebut menegaskan bahwa cita-cita besar memerlukan visi yang jelas sekaligus institusi yang kokoh.
Mengapa UIN Pontianak Memerlukan Distingsi Sufistik?
UIN Pontianak memiliki peluang untuk mengembangkan identitas akademik yang mempertemukan kajian Islam, integrasi ilmu, dan kebudayaan Borneo. Visi IAIN Pontianak yang telah dikenal sebelumnya menekankan keunggulan dan keterbukaan dalam kajian serta riset keilmuan, keislaman, dan kebudayaan Borneo. Profil resmi IAIN Pontianak.
Usulan visi sufistik tidak harus dipahami sebagai pemutusan hubungan dengan fondasi tersebut. Sebaliknya, gagasan ini dapat menjadi pendalaman identitas kelembagaan: keunggulan akademik diperkuat oleh etika spiritual, integrasi ilmu diarahkan pada kemaslahatan manusia, dan kebudayaan Borneo dikaji sebagai ruang perjumpaan agama, adat, alam, sejarah, serta kehidupan sosial.
Ada sekurang-kurangnya tiga alasan mengapa gagasan ini layak dipertimbangkan.
Pertama, dunia modern menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan kecanggihan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Krisis lingkungan, kekerasan, keserakahan, intoleransi, serta penyalahgunaan kekuasaan juga berkaitan dengan persoalan moral dan cara manusia memandang dirinya serta alam semesta.
Kedua, sufisme memiliki khazanah konseptual yang relevan untuk mengembangkan pendidikan karakter, etika kepemimpinan, kesederhanaan, pengendalian diri, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut dapat dikaji secara kritis, diterjemahkan menjadi kompetensi, dan diuji manfaatnya melalui penelitian.
Ketiga, kebudayaan Borneo menyediakan konteks yang khas bagi penelitian tentang spiritualitas, hubungan manusia dengan alam, tradisi keagamaan, kearifan lokal, serta perjumpaan antarkomunitas. Seluruhnya dapat menjadi medan penelitian multidisipliner yang mempertemukan ilmu agama, sejarah, antropologi, hukum, pendidikan, ekonomi, ilmu lingkungan, dan teknologi.
Dengan demikian, sufisme tidak ditempatkan sebagai ornamen keagamaan yang sekadar memperindah nama universitas. Sufisme menjadi sumber inspirasi bagi pembentukan orientasi etis ilmu pengetahuan, tanpa mengurangi ketelitian akademik, kebebasan berpikir, dan tanggung jawab ilmiah.
Merumuskan Visi UIN Pontianak
Usulan visi yang dapat dikembangkan adalah:
“Unggul Berbasis Sufistik, Mapan Berintegrasi Ilmu, Mengakar dalam Kebudayaan Borneo, serta Berwawasan Global.”
Visi ini mengandung empat dimensi strategis yang saling berkaitan.
Pertama, unggul berbasis sufistik.
Keunggulan tidak hanya diukur melalui akreditasi, publikasi ilmiah, reputasi akademik, dan kompetensi lulusan, tetapi juga melalui integritas, kematangan moral, tanggung jawab sosial, serta kontribusi pemikiran sufistik bagi persoalan kontemporer.
Sufistik di sini bukan berarti semua sivitasakademika harus menjadi pengamal tarekat tertentu. Yang dimaksud ialah menjadikan nilai-nilai tasawuf yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah—seperti kejujuran, keikhlasan, amanah, kerendahan hati intelektual, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama—sebagai orientasi etis universitas.
Kedua, mapan berintegrasi ilmu.
UIN Pontianak perlu membangun hubungan yang kokoh antara ilmu-ilmu keislaman, ilmu sosial-humaniora, sains, teknologi, dan profesi. Integrasi ilmu tidak berhenti pada penambahan ayat Al-Qur'an ke dalam materi kuliah umum, tetapi menyentuh landasan epistemologi, metodologi, etika, dan penerapan ilmu.
Nilai sufistik dapat menjadi orientasi aksiologis: untuk apa ilmu dikembangkan, siapa yang memperoleh manfaatnya, dan bagaimana ilmu digunakan secara bertanggung jawab?
Ketiga, mengakar dalam kebudayaan Borneo.
Borneo bukan sekadar lokasi geografis universitas. Ia merupakan ruang kehidupan dengan sejarah, tradisi keagamaan, keragaman masyarakat, kekayaan ekologis, dan jaringan budaya lintas batas negara.
UIN Pontianak dapat mengembangkan kajian sufisme Nusantara dan Borneo, sejarah ulama, manuskrip keislaman, tradisi spiritual masyarakat, hubungan Islam dan adat, serta etika lingkungan. Kajian itu harus dilakukan secara ilmiah, menghargai keragaman, dan tidak meromantisasi tradisi tanpa penelitian kritis.
Keempat, berwawasan global.
Keunggulan lokal akan semakin berarti ketika dapat berdialog dengan dunia. Karena itu, UIN Pontianak perlu mengembangkan publikasi internasional, konferensi, pertukaran akademik, pendidikan pascasarjana, kerja sama riset, serta jejaring dengan pusat kajian tasawuf dan universitas di berbagai negara.
Sufisme Borneo dapat diperkenalkan sebagai sumbangan akademik bagi percakapan global tentang spiritualitas, etika, perdamaian, kemanusiaan, dan keberlanjutan lingkungan.
Keempat dimensi tersebut tidak berdiri sendiri. Sufistik adalah ruh yang menjiwai keunggulan, integrasi ilmu, kebudayaan Borneo, dan wawasan global sekaligus.
Mimpi Dua Puluh Tahun: Ketika Dunia Mencari Sufisme ke Pontianak
Bayangkan suatu keadaan pada tahun 2046.
Seorang mahasiswa dari Maroko ingin meneliti sufisme Nusantara. Seorang profesor dari Eropa hendak mengkaji hubungan spiritualitas dan etika lingkungan. Seorang peneliti dari Asia Tenggara ingin memahami jaringan ulama sufi di Borneo. Seorang mahasiswa doktoral dari Indonesia ingin mengkaji pemikiran al-Ghazali dalam kaitannya dengan krisis moral masyarakat digital.
Mereka menemukan pusat dokumentasi, perpustakaan digital, manuskrip yang telah dikatalogkan, jurnal ilmiah bereputasi, program pascasarjana, dosen ahli, dan forum akademik yang berkembang di UIN Pontianak. Mereka kemudian datang ke Pontianak karena universitas ini memiliki sumber daya dan reputasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Itulah gambaran strategis yang dapat diperjuangkan: ketika seseorang ingin melakukan penelitian mendalam tentang sufisme, UIN Pontianak menjadi salah satu destinasi akademik yang secara alami dipertimbangkan.
Mimpi tersebut bukan ramalan bahwa UIN Pontianak pasti akan menjadi pusat dunia dalam dua dekade. Ia merupakan sasaran jangka panjang yang harus dibuktikan melalui kualitas riset, produktivitas publikasi, jejaring internasional, dan pengakuan komunitas ilmiah.
Untuk mewujudkannya, UIN Pontianak dapat membangun Pusat Unggulan Sufisme dan Peradaban, dengan fungsi utama sebagai pusat riset, dokumentasi, pendidikan, publikasi, dan kerja sama internasional.
Pusat ini dapat mengembangkan beberapa bidang utama:
1. Sufisme klasik dan pemikiran al-Ghazali, termasuk epistemologi, etika, pendidikan jiwa, serta hubungan syariat dan hakikat.
2. Sufisme Nusantara dan Borneo, meliputi sejarah ulama, jaringan tarekat, manuskrip, tradisi keagamaan, dan dinamika spiritual masyarakat.
3. Sufisme dan persoalan kontemporer, seperti etika digital, kesehatan sosial, kepemimpinan, ekonomi, perdamaian, serta lingkungan.
4. Perbandingan tradisi spiritual dan pemikiran kemanusiaan, yang dilaksanakan secara akademik, dialogis, dan menghormati perbedaan keyakinan.
5. Digitalisasi dan pemetaan khazanah sufisme, melalui repositori terbuka, katalog manuskrip, pangkalan data bibliografi, dan sumber pembelajaran digital multibahasa.
Pusat unggulan ini harus menjadi penggerak seluruh universitas, bukan lembaga eksklusif yang terpisah dari fakultas-fakultas lainnya. Nilai sufistik harus hadir dalam pendidikan hukum, ekonomi, pendidikan, komunikasi, sains, teknologi, dan bidang profesional lainnya sesuai relevansi keilmuan masing-masing.
Menerjemahkan Visi ke dalam Misi dan Tujuan
Visi yang besar tidak akan memiliki daya transformasi apabila tidak diterjemahkan menjadi misi, tujuan, sasaran, indikator, dan strategi yang dapat dievaluasi.
Misi berikut merupakan usulan konseptual untuk dibahas bersama sivitasakademika dan diselaraskan dengan regulasi serta dokumen perencanaan resmi universitas.
Misi 1: Mengembangkan pendidikan tinggi unggul yang menanamkan nilai-nilai sufistik dan integritas akademik
Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang kompeten dalam bidang keilmuannya, berakhlak, kritis, mandiri, dan mampu menggunakan pengetahuan untuk kemaslahatan.
Sasarannya meliputi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola program studi.
Strateginya antara lain mengintegrasikan etika sufistik dalam kurikulum secara relevan; mengembangkan pembelajaran reflektif dan berbasis masalah; memperkuat keteladanan dosen; serta membangun sistem pencegahan plagiarisme, korupsi, diskriminasi, dan penyalahgunaan wewenang.
Nilai spiritual tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Ia harus tercermin dalam perilaku akademik, budaya dialog, cara memperlakukan mahasiswa, dan kejujuran dalam menghasilkan karya ilmiah.
Misi 2: Mengembangkan integrasi ilmu yang mapan, kritis, dan produktif
Tujuannya adalah membangun paradigma integrasi yang mempertemukan ilmu keislaman, sains, teknologi, dan ilmu sosial-humaniora tanpa mengaburkan standar keilmuan setiap bidang.
Sasarannya adalah terbentuknya kurikulum lintas disiplin, penelitian kolaboratif, dan luaran ilmiah yang relevan bagi masyarakat.
Strateginya meliputi pembentukan kelompok riset lintas fakultas; pengembangan mata kuliah etika ilmu; pemberian hibah penelitian integratif; serta penyelenggaraan seminar yang mempertemukan ulama, ilmuwan, praktisi, dan masyarakat.
Dalam kerangka ini, sufisme memberi orientasi etis, sedangkan metode penelitian yang sesuai dengan bidang masing-masing menjamin ketepatan analisis dan validitas kesimpulan.
Misi 3: Menjadikan sufisme dan peradaban Borneo sebagai keunggulan akademik yang khas
Tujuannya adalah menghasilkan pengetahuan yang mendalam mengenai sejarah, tradisi spiritual, pemikiran ulama, hubungan Islam dan budaya, serta persoalan masyarakat Borneo.
Sasarannya adalah tersedianya pusat kajian, basis data ilmiah, publikasi, dan program pendidikan yang diakui komunitas akademik.
Strateginya meliputi penelitian lapangan, digitalisasi manuskrip, dokumentasi tradisi lisan dengan persetujuan komunitas, pengembangan jurnal khusus, dan kerja sama dengan lembaga kebudayaan serta perguruan tinggi di kawasan Borneo.
Kajian ini perlu melibatkan komunitas Dayak, Melayu, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya sesuai objek penelitian, dengan pendekatan yang menghormati hak, martabat, dan keragaman mereka.
Misi 4: Membangun pusat unggulan sufisme yang berjejaring global
Tujuannya adalah menjadikan UIN Pontianak sebagai salah satu rujukan internasional dalam studi sufisme dan kontribusinya terhadap persoalan kontemporer.
Sasarannya mencakup peningkatan publikasi internasional, mahasiswa asing, kerja sama riset, pertukaran akademik, dan penyelenggaraan konferensi ilmiah.
Strateginya adalah membangun kemitraan dengan pusat studi Islam, universitas, perpustakaan, dan lembaga penelitian; menyediakan program internasional; serta mengembangkan publikasi berbahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa lain sesuai kebutuhan.
Pengakuan global harus dibangun melalui mutu karya, bukan sekadar banyaknya nota kesepahaman.
Misi 5: Mengembangkan pengabdian masyarakat berbasis etika sufistik dan kemaslahatan
Tujuannya adalah menerjemahkan nilai kasih sayang, kepedulian, keadilan, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial menjadi program nyata.
Sasarannya adalah meningkatnya kapasitas masyarakat, berkembangnya dialog lintas komunitas, dan terselesaikannya sebagian persoalan sosial melalui program berbasis bukti.
Strateginya mencakup pendampingan komunitas, penguatan pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi, literasi digital, pelestarian lingkungan, serta program perdamaian dan penguatan kohesi sosial.
Dengan demikian, sufisme tidak hanya hidup dalam ruang kajian, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Misi 6: Mewujudkan tata kelola universitas yang amanah, profesional, transparan, dan berkelanjutan
Tujuannya adalah memastikan bahwa nilai yang diajarkan universitas tercermin dalam sistem kelembagaan.
Sasarannya adalah meningkatnya kualitas layanan, akuntabilitas keuangan, mutu akademik, kepuasan sivitasakademika, dan kepercayaan masyarakat.
Strateginya mencakup digitalisasi layanan, penguatan pengawasan internal, transparansi pengadaan, evaluasi berbasis data, sistem pengaduan yang aman, serta penilaian kinerja yang terukur.
Sufistik dalam tata kelola tidak berarti mengganti prosedur profesional dengan pertimbangan moral semata. Nilai amanah justru harus diwujudkan melalui prosedur yang adil, bukti yang dapat diperiksa, dan pertanggungjawaban yang jelas.
Peta Jalan 2026–2046: Dari Fondasi hingga Pengakuan Global
Agar visi ini tidak berhenti sebagai wacana, UIN Pontianak dapat menggunakan peta jalan tiga tahap berikut.
Tahap I — 2026–2030: Membangun fondasi.
Fokusnya adalah penyusunan kebijakan, penguatan kurikulum, pemetaan kepakaran dosen, pembentukan pusat unggulan, inventarisasi sumber kajian, serta pengembangan indikator kinerja. Pada tahap ini, universitas perlu menetapkan data dasar agar kemajuan berikutnya dapat diukur secara objektif.
Tahap II — 2031–2036: Memperkuat reputasi nasional dan regional.
Fokusnya adalah peningkatan mutu publikasi, lahirnya kelompok riset unggulan, pengembangan program pascasarjana yang relevan, digitalisasi khazanah sufisme, serta kerja sama akademik lintas negara. Pada akhir tahap ini, UIN Pontianak diharapkan memiliki produk ilmiah dan program unggulan yang dikenali secara nasional dan mulai memperoleh pengakuan regional.
Tahap III — 2037–2046: Memperluas pengakuan internasional.
Fokusnya adalah memperkuat jejaring penelitian global, menarik mahasiswa dan peneliti internasional, meningkatkan kontribusi pada diskursus akademik dunia, serta menghasilkan karya rujukan mengenai sufisme, integrasi ilmu, dan peradaban Borneo.
Keberhasilan setiap tahap harus ditentukan berdasarkan evaluasi berkala. Periode tersebut merupakan usulan perencanaan, bukan jaminan bahwa seluruh capaian otomatis akan terwujud pada tahun yang ditetapkan.
Sasaran dan Target yang Dapat Diukur
Berikut contoh target indikatif yang dapat dipertimbangkan. Angka-angka ini bukan data capaian UIN Pontianak saat ini dan harus disesuaikan setelah audit kapasitas, sumber daya, anggaran, serta baseline pada tahun pertama.
|
Bidang |
Target 2030 |
Target 2036 |
Target 2046 |
|
Kurikulum |
Seluruh program studi memetakan relevansi nilai sufistik dan etika ilmu |
Integrasi diterapkan dan dievaluasi sesuai disiplin |
Model integrasi terdokumentasi dan menjadi rujukan |
|
Pusat unggulan |
Pusat kajian dan agenda riset terbentuk |
Program pascasarjana dan jaringan riset berkembang |
Menjadi salah satu rujukan internasional yang diakui |
|
Riset dan publikasi |
Peta jalan riset dan basis data awal tersedia |
Publikasi dan kolaborasi lintas negara meningkat |
Karya rujukan dan kontribusi ilmiah global berkelanjutan |
|
Khazanah Borneo |
Inventarisasi dan digitalisasi prioritas dimulai |
Repositori dan katalog berkembang |
Koleksi digital menjadi sumber penting bagi peneliti |
|
Kemitraan global |
Kemitraan aktif dengan luaran terukur mulai dibangun |
Pertukaran akademik dan riset bersama meluas |
Jejaring global berkelanjutan dan produktif |
|
Pengabdian |
Program percontohan berbasis kebutuhan masyarakat berjalan |
Program diperluas berdasarkan evaluasi dampak |
Model pemberdayaan direplikasi sesuai konteks |
|
Tata kelola |
Indikator kinerja, integritas, dan transparansi ditetapkan |
Evaluasi berbasis data menjadi praktik rutin |
Budaya amanah dan akuntabilitas mengakar |
Peta jalan ini harus disertai dengan rumusan strategi pada setiap periodenya.Target kuantitatif seperti jumlah publikasi, peneliti asing, manuskrip terdigitalisasi, dan program kerja sama perlu ditetapkan lebih lanjut berdasarkan baseline. Indikator tidak boleh hanya menghitung keluaran, tetapi juga mengukur mutu, pemanfaatan, dan dampaknya.
Strategi Kunci agar Visi Tidak Berhenti sebagai Slogan
Ada lima strategi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Pertama, membangun kepemimpinan akademik. Universitas perlu merekrut, mempertahankan, dan mengembangkan sarjana yang memiliki kepakaran mendalam dalam sufisme, sejarah Islam, integrasi ilmu, dan kebudayaan Borneo. Beasiswa doktoral, program profesor tamu, serta kolaborasi lintas disiplin dapat menjadi instrumennya.
Kedua, menyediakan pembiayaan yang berkelanjutan. Pusat unggulan membutuhkan anggaran riset, pengembangan perpustakaan, digitalisasi, penerbitan, dan mobilitas akademik. Sumber pendanaan dapat dikembangkan melalui anggaran institusi, hibah kompetitif, kerja sama yang sah, dan filantropi pendidikan dengan tata kelola yang transparan.
Ketiga, membangun infrastruktur pengetahuan. Perpustakaan digital, repositori terbuka, katalog manuskrip, jurnal ilmiah, dan sistem pengelolaan data harus dikembangkan sebagai ekosistem yang saling terhubung. Teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk membantu penelusuran dan pengolahan sumber, dengan tetap memperhatikan validitas data, hak cipta, dan etika penelitian.
Keempat, memastikan keterbukaan akademik. Kajian sufisme harus dilakukan dengan argumentasi yang dapat diuji, metode yang jelas, dan dialog dengan berbagai perspektif. Keunggulan tidak akan tercapai apabila tradisi spiritual hanya diperlakukan sebagai sesuatu yang kebal dari pertanyaan ilmiah.
Kelima, menjadikan visi sebagai budaya kelembagaan. Nilai sufistik perlu tampak dalam cara universitas mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, memperlakukan kelompok yang rentan, mengelola anggaran, mengembangkan karier dosen, dan melayani mahasiswa.
Dengan strategi tersebut, sufisme bukan sekadar identitas pada papan nama, melainkan prinsip yang hidup dalam perilaku dan sistem organisasi.
Penutup: Dari Pontianak untuk Peradaban Dunia
Gagasan visi “Unggul Berbasis Sufistik, Mapan Berintegrasi Ilmu, Mengakar dalam Kebudayaan Borneo serta Berwawasan Global” menawarkan sebuah arah pengembangan yang layak dikaji secara serius dalam transformasi UIN Pontianak.
Inspirasi dari Nizhamiyah dan al-Ghazali mengingatkan kita bahwa pengaruh sebuah lembaga pendidikan dapat melampaui batas zamannya apabila didukung tradisi ilmu, pembiayaan yang kokoh, kepemimpinan akademik, dan lahirnya pemikir yang memberi sumbangan berarti bagi peradaban.
Namun, UIN Pontianak tidak perlu bercita-cita menjadi Nizhamiyah kedua. Ia perlu membangun identitasnya sendiri: universitas yang tumbuh dari Borneo, mengembangkan ilmu secara integratif, menjadikan nilai sufistik sebagai orientasi etis, dan berdialog dengan kebutuhan kemanusiaan global.
Dua puluh tahun mendatang, pertanyaan yang patut kita perjuangkan bukan hanya berapa banyak gedung yang telah berdiri atau berapa banyak mahasiswa yang telah diluluskan. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: pengetahuan apa yang telah disumbangkan UIN Pontianak kepada dunia? Persoalan kemanusiaan apa yang telah dibantu penyelesaiannya? Pemikir seperti apa yang telah dilahirkannya? Dan apakah masyarakat memperoleh manfaat nyata dari keberadaan universitas ini?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab melalui kerja akademik yang konsisten, bukan mustahil UIN Pontianak akan dikenal karena kontribusinya dalam studi sufisme, integrasi ilmu, dan peradaban Borneo.
Mimpi besarnya ialah membangun universitas yang tidak hanya mengajarkan ilmu tentang manusia dan kehidupan, tetapi juga membentuk manusia yang mampu menggunakan ilmunya dengan kebijaksanaan, integritas, dan tanggung jawab.
Dari Pontianak, sebuah tradisi keilmuan dapat tumbuh. Dari Borneo, sebuah sumbangan pemikiran dapat menjangkau dunia. Dan melalui ruh sufistik yang diwujudkan dalam keunggulan akademik, UIN Pontianak dapat mengambil bagian dalam membangun peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.(*)