PONTIANAK, SP - Ketua Umum DPP MABT Indonesia, Suyanto Tanjung, mengapresiasi pelaksanaan perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Pontianak yang berlangsung aman, tertib, dan mendapat antusiasme besar dari masyarakat.
Ia bersyukur rangkaian perayaan budaya tersebut dapat digelar dengan lancar tanpa kendala berarti. Menurutnya, keberhasilan itu tidak lepas dari kerja keras panitia penyelenggara, dukungan pemerintah daerah, serta kedewasaan masyarakat dalam menjaga suasana kondusif selama kegiatan berlangsung.
“Kita bersukur gelaran Cap Go Meh 2026 berjalan dengan baik, lancar, dan antusiasme masyarakat juga luar biasa. Kita tentu mengapresiasi penyelenggara karena acara berlangsung aman dan tertib tanpa ada masalah,” ujarnya.
Suyanto menilai tingginya antusiasme masyarakat yang memadati kawasan perayaan juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, khususnya para pedagang yang berjualan di sepanjang lokasi kegiatan.
Menurutnya, momentum festival budaya seperti Cap Go Meh mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan karena banyak masyarakat yang memanfaatkan keramaian untuk berdagang serta menawarkan berbagai produk.
“Dengan ramainya masyarakat tentu berdampak terhadap perekonomian, terutama bagi pedagang di sepanjang jalan. Ini menjadi salah satu manfaat nyata dari penyelenggaraan event budaya seperti ini,” katanya.
Ia berharap ke depan perayaan Cap Go Meh di Pontianak dapat terus dikembangkan agar mampu menarik lebih banyak wisatawan, tidak hanya dari Kota Pontianak, tetapi juga dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, luar provinsi, hingga mancanegara.
Suyanto mengakui selama ini perayaan Cap Go Meh di Singkawang memang telah dikenal luas dan menjadi magnet wisata budaya. Namun demikian, Pontianak juga dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan perayaan yang tidak kalah menarik.
“Kita akui Cap Go Meh yang paling terkenal memang di Singkawang. Namun ke depan perlu dikemas lebih baik lagi agar Pontianak juga dapat merasakan dampak positif dari event ini sehingga tidak semuanya terpusat di Singkawang,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan festival budaya di Pontianak perlu terus diperbaiki dan dikembangkan, baik dari sisi konsep, pengemasan acara, maupun jumlah kegiatan yang digelar.
Dengan semakin banyaknya festival budaya, ia optimistis Pontianak dapat menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
“Ke depan tentu kita akan berupaya membuat pagelaran lebih baik lagi dengan penyelenggaraan yang lebih baik dan memperbanyak festival budaya. Harapannya yang datang bukan hanya masyarakat Pontianak atau Kalbar saja, tetapi juga dari luar provinsi hingga mancanegara,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam setiap penyelenggaraan kegiatan agar pelaksanaan event dapat berjalan profesional dan dipercaya oleh masyarakat.
“Kita berharap setiap penyelenggaraan event dilakukan secara transparan dan akuntabel. Hal itu penting agar kesuksesan kegiatan tidak hanya terlihat dari kemeriahan acara, tetapi juga dari tata kelola yang baik,” tegasnya.
Menurut Suyanto, salah satu hal yang paling membanggakan dari pelaksanaan Cap Go Meh tahun ini adalah momentum perayaan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Ia menilai kondisi tersebut justru menunjukkan kedewasaan masyarakat Kota Pontianak dalam menjaga harmoni dan toleransi antarbudaya.
“Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan, tetapi semua masyarakat tetap bisa bersatu. Ini menunjukkan masyarakat Pontianak sangat dewasa dalam menyikapi persoalan adat dan budaya,” pungkasnya.
Wajah Keberagaman Pontianak
Pada perayaan Cap Go Meh di Pontianak, sebanyak 49 kelompok naga berparade memeriahkan perayaan Cap Go Meh 2577 di Pontianak. Masing-masing kelompok menampilkan naga dengan panjang bervariasi, dihiasi lampu penuh warna dan gerakan atraktif yang memikat perhatian ribuan pasang mata.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi pelaksanaan event budaya yang menyedot perhatian masyarakat lintas etnis dan usia. Padatnya Jalan Gajah Mada menjadi bukti antusiasme warga yang ingin menyaksikan langsung parade tersebut.
“Kita lihat sendiri setiap digelarnya Parade Naga Bersinar pada perayaan Cap Go Meh, sudah dipastikan jalan ini penuh oleh warga yang menyaksikannya, tidak hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi masyarakat dari berbagai etnis semua berkumpul di sini,” ujarnya saat menyaksikan festival Cap Go Meh.
Menurut Edi, kondisi itu menunjukkan budaya mampu mempersatukan berbagai kalangan. Ia menegaskan, perayaan Cap Go Meh bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk menunjukkan bahwa keberagaman di Pontianak tumbuh dalam ruang toleransi yang nyata. Terlebih, perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
“Ini menjadi sinyal bahwa kota ini ramah bagi siapa pun yang ingin berkreasi dan berkarya,” ungkapnya.
Ia menilai, perayaan ini menjadi magnet budaya yang memperlihatkan wajah keberagaman Pontianak di ruang publik. Penyelenggaraan Cap Go Meh juga dinilai sebagai bukti bahwa Pontianak mampu menjaga harmoni sosial di tengah kemajemukan etnis dan budaya.
“Atraksi disesuaikan dengan kondisi saling menghormati agama lain, khususnya bulan suci Ramadan. Kita memberi ruang bagi semua kegiatan yang berdampak pada ekonomi dan budaya,” tuturnya.
Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, menilai antusiasme masyarakat tahun ini sangat luar biasa. Ia melihat arak-arakan naga semakin meriah dan mendapat sambutan hangat dari warga.
“Terlihat hampir lima puluh naga berpartisipasi pada malam ini. Ini potensi besar yang harus terus kita kembangkan sebagai event wisata unggulan Kota Pontianak,” sebutnya.
Menurutnya, jika dikemas lebih baik dan profesional, perayaan Cap Go Meh dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan daerah. Tingginya antusiasme menjadi indikator kuat bahwa event budaya ini memiliki daya tarik bukan hanya bagi warga lokal, tetapi juga wisatawan luar daerah hingga mancanegara.
“Dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang, tentu berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Ini yang harus kita kelola dengan baik,” imbuhnya. (din/bro)