PONTIANAK, SP - Pagi itu suasana di Markas Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) di Jalan Purnama IX terasa berbeda. Sebuah tenda berwarna gelap berdiri rapi di ruang tamu markas.
Bukan untuk kegiatan berkemah atau acara komunitas, melainkan menjadi tempat beristirahat seorang tamu jauh yang datang dari Italia dengan kendaraan yang telah menjadi bagian hidupnya, sebuah Vespa.
Tamu itu bernama Marino Hilario. Pria yang telah menghabiskan dua tahun terakhir menjelajahi berbagai negara itu memilih tidur di dalam tenda yang dipasangnya sendiri di ruang tamu markas FRKP.
Alasannya sederhana, namun bagi sebagian orang terdengar tidak biasa.
Ia tidak ingin jauh dari Vespa kesayangannya.
Bagi Marino, Vespa bukan sekadar alat transportasi. Kendaraan itu adalah rumah berjalan, teman seperjalanan, sekaligus saksi ribuan kilometer perjalanan yang telah membawanya melintasi berbagai belahan dunia.
Ketua FRKP, Bruder Stephanus Paiman, mengaku terkesan dengan kesederhanaan sekaligus ketangguhan pria asal Italia tersebut.
"Awalnya saya pikir dia akan memilih kamar untuk beristirahat. Ternyata dia lebih nyaman mendirikan tenda di ruang tamu. Setelah berbincang panjang, saya memahami bahwa ikatan antara dirinya dan Vespa itu memang luar biasa. Dia ingin selalu dekat dengan kendaraannya yang telah menemaninya mengelilingi dunia," tutur Bruder Stephanus sambil tersenyum.
Menurut Bruder Stephanus, kisah Marino seperti cerita petualangan yang sering hanya ditemukan dalam buku atau film. Namun semua itu nyata dan terjadi di hadapannya.
Selama dua tahun berkeliling Indonesia dan berbagai negara lainnya, Marino nyaris tidak membawa banyak barang berharga. Tidak ada koper besar, tidak ada tas penuh uang tunai.
Sebaliknya, ia mengandalkan teknologi dan kedisiplinan dalam mengelola perjalanan.
"Yang membuat saya kagum, hampir semua dokumen pentingnya tersimpan secara digital. Paspor, visa, hingga dokumen kendaraan seperti carnet semuanya sudah terhubung secara online.
Jika ada yang perlu diperpanjang atau diperiksa, dia bisa mengaksesnya melalui internet. Pembayaran pun sebagian besar menggunakan kartu kredit. Uang tunai yang dibawa hanya seperlunya saja," ujar Bruder Stephanus.
Di era ketika banyak orang masih khawatir bepergian jauh tanpa membawa uang tunai dalam jumlah besar, Marino justru menunjukkan cara hidup seorang pengelana modern.
Ia mempercayakan banyak urusan administratif kepada sistem digital, sehingga dapat bergerak lebih ringan dan fleksibel.
Meski telah menempuh perjalanan ribuan kilometer melewati berbagai medan, Marino tetap tampil sederhana.
Tidak ada kesan ingin dipuji atau dianggap hebat. Saat berada di Markas FRKP, ia justru larut dalam suasana kekeluargaan bersama para anggota komunitas Vespa yang datang silih berganti menyambutnya.
Dalam perbincangan santai sambil menikmati kopi pagi, Marino mengaku merasakan sambutan yang hangat sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pontianak.
"Saya senang berada di Pontianak, khususnya di FRKP. Persaudaraannya sangat terasa. Sejak saya tiba, semua orang menyambut saya seperti keluarga," ungkap Marino.
Kesan itu tidak muncul tanpa alasan. Sejak malam pertama kedatangannya, para pecinta Vespa yang tergabung dalam FRKP West Borneo Vespa Lovers datang bergantian menyapa, berbagi cerita perjalanan, hingga membantu memenuhi kebutuhan selama singgah di Kota Khatulistiwa.
Bagi Bruder Stephanus, kedatangan Marino bukan sekadar kunjungan seorang wisatawan. Lebih dari itu, kehadirannya menjadi pengingat bahwa persaudaraan bisa terjalin melampaui batas negara, bahasa, dan budaya.
"Vespa ternyata bukan hanya kendaraan. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Ketika Marino datang ke sini, kami merasa seperti menerima saudara lama yang baru pulang dari perjalanan panjang," katanya.
Kini, setelah ribuan kilometer dilalui dan berbagai negara disinggahi, Marino masih melanjutkan petualangannya dengan Vespa yang setia menemaninya. Sementara bagi keluarga besar FRKP, sosok pria Italia yang memilih tidur di dalam tenda demi tetap dekat dengan skuternya akan menjadi cerita yang terus dikenang.
Sebuah kisah sederhana tentang seorang pengelana, sebuah Vespa tua, dan persaudaraan yang tumbuh tanpa mengenal batas negara.
Sebab bagi petualang sejati seperti Marino Hilario, tujuan perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, melainkan tentang orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan. (mul)