Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing tidak selalu membawa dampak negatif bagi perekonomian domestik. Di sektor pariwisata dan ritel, kondisi ini justru menjadi peluang emas yang memicu tren lonjakan wisata belanja lintas negara (cross-border shopping).
?Wisatwawan mancanegara (wisman), terutama dari Malaysia dan Singapura, kini berbondong-bondong memanfaatkan momentum kejatuhan kurs rupiah untuk berlibur sekaligus memborong produk lokal. Bagi mereka, harga barang dan jasa di Indonesia kini menjadi jauh lebih murah.
?Fenomena ini menjadikan kota-kota perbatasan seperti Pontianak di Kalimantan Barat dan Batam di Kepulauan Riau sebagai surga belanja murah bagi turis jiran.
?Di Kota Pontianak, aktivitas penukaran mata uang Ringgit Malaysia (MYR) ke Rupiah (IDR) di sejumlah money changer dilaporkan meningkat tajam. Selain itu, deretan kendaraan berpelat nomor Malaysia belakangan ini juga tampak semakin hilir mudik di jalan-jalan protokol kota.
?Yoga, salah seorang staf money changer di Pontianak, mengungkapkan bahwa warga Malaysia kini menjadi kelompok yang paling aktif menukarkan mata uang mereka.
?"Orang Malaysia memang banyak yang tukar uang di sini karena nilai rupiah dinilai murah bagi mereka. Saat ini, satu ringgit bisa mendapatkan sekitar Rp4.000 lebih. Makanya mereka sangat tertarik datang ke Pontianak untuk kulineran, belanja, atau sekadar jalan-jalan,” ujarnya.
?Berdasarkan data pasar keuangan teranyar pada awal Juni 2026, nilai tukar rupiah memang tengah tertekan hebat. Rupiah bergerak di kisaran Rp4.495 per Ringgit Malaysia bahkan sempat menyentuh level terlemahnya di angka Rp4.500 per MYR. Sementara terhadap Dolar AS (USD), rupiah telah menembus level Rp18.000.
?Menanggapi fenomena ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat, Harisson, meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa melonjaknya kunjungan wisatawan Malaysia semata-mata dipicu oleh anjloknya nilai tukar rupiah.
?Menurut Harisson, pergerakan pelemahan rupiah terhadap ringgit dan dolar AS sebenarnya masih dalam batas fluktuasi yang relatif kecil di tingkat riil, sehingga belum bisa diklaim sebagai faktor tunggal.
?“Kita jangan dulu berprasangka bahwa mereka banyak datang ke Kalbar karena nilai tukar rupiah kita jatuh. Memang rupiah melemah, tetapi pelemahannya tipis, tidak sampai melonjak ekstrem di sektor riil,” kata Harisson, Rabu (3/6/2026).
?Harisson menilai, ada banyak faktor lain yang lebih berpengaruh besar, seperti momentum musim liburan panjang serta semakin kuatnya daya tarik wisata dan kuliner khas Kalimantan Barat di mata warga Sarawak, Malaysia Timur. Jarak geografis yang dekat dan aksesibilitas yang mudah via darat maupun udara menjadi keunggulan komparatif.
?“Mungkin mereka ingin menikmati suasana luar negeri yang dekat dan mudah dijangkau. Pontianak menjadi pilihan karena akses daratnya lancar, dan sekarang juga didukung konektivitas penerbangan,” jelasnya.
?Lebih lanjut, Harisson menyebut pesona kuliner khas Pontianak, menjamurnya warung kopi ikonik, hingga pusat perbelanjaan modern menjadi magnet utama yang tidak bisa diabaikan. Promosi word-of-mouth dari mulut ke mulut antar-keluarga di Malaysia turut mendongkrak kunjungan.
?Meskipun mengakui kekuatan mata uang ringgit memberi keuntungan daya beli bagi turis Malaysia, Harisson menegaskan dampak negatif pelemahan rupiah terhadap ekonomi Kalbar sejauh ini masih bisa dimitigasi. Pemerintah pusat dan daerah terus bersinergi menjaga stabilitas harga barang dan menekan inflasi.
?“Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia, OJK, Kemenkeu, serta unsur TNI-Polri terus berkolaborasi menjaga inflasi. Harga kebutuhan pokok dan bahan bakar bersubsidi di Kalbar harus tetap terkendali agar daya beli masyarakat domestik tidak ikut goyang,” tegasnya. Karena itu, Harisson memandang lonjakan turis ini murni sebagai peluang positif bagi sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM daerah.
?Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menilai pelemahan kurs rupiah di satu sisi berpotensi besar mendongkrak penerimaan devisa negara melalui sektor pariwisata.
?"Sejumlah data menunjukkan kunjungan wisatawan dari negara tetangga dan kawasan Asia mengalami tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat biaya berwisata di Indonesia relatif murah bagi mereka yang memegang mata uang kuat," ujar Chusnunia di Jakarta.
?Dampak positifnya, daya beli wisman yang meninggi membuat mereka cenderung memperpanjang durasi tinggal (length of stay) dan meningkatkan alokasi belanja untuk akomodasi, kuliner, hiburan, hingga produk ekonomi kreatif lokal.
?Namun, politisi ini juga mengingatkan tantangan nyata di balik fenomena ini. Sektor industri yang masih bergantung pada material atau barang impor, seperti makanan premium, minuman impor, hingga perlengkapan hotel mewah, dipastikan menghadapi kenaikan biaya operasional (cost of production).
?"Seluruh pelaku industri pariwisata harus tetap optimistis melihat peluang di tengah tantangan global ini. Kita harus bergandeng tangan untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata nasional agar tetap berkelanjutan," imbaunya.
?Dampak ganda kurs ini tidak hanya dirasakan di Kalimantan Barat. Di media sosial, fenomena ini menjadi perbincangan hangat. Konten kreator David Alfa Sunarna sempat menyoroti bagaimana daya beli warga Malaysia melesat berkali-kali lipat ketika bertandang ke Jakarta.
?“Turis Malaysia sekarang lagi ramai menyerbu Indonesia, datang ke Jakarta, borong semua barang Indonesia. Murah soalnya menurut mereka. Bayangin, 500 ringgit itu sudah Rp2,2 juta loh. Di Malaysia, 500 ringgit itu cuma buat makan sama jajan dikit,” ungkap David dalam unggahan video di akun Instagram-nya, Kamis (4/6/2026).
?Sementara itu, lonjakan pergerakan riil terekam jelas di pintu masuk Kepulauan Riau. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam mencatat lonjakan penumpang yang sangat signifikan selama periode libur panjang akhir Mei hingga awal Juni 2026.
?Total pergerakan penumpang domestik dan internasional di berbagai pelabuhan Batam pada periode 26 Mei–1 Juni 2026 menembus angka 255.406 orang. Angka ini melonjak tajam hingga 41 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencatat 149.693 penumpang.
?Lonjakan tertinggi arus wisman asal Singapura dan Malaysia di Batam tercatat pada Sabtu, 30 Mei 2026, dengan total 24.562 penumpang internasional dalam sehari. Pelabuhan Batam Centre menjadi titik pintu masuk paling sibuk, disusul Harbour Bay, Nongsa, Sekupang, dan Gold Coast Bengkong.
?Guna mengantisipasi membeludaknya turis asing ini, KSOP Batam terpaksa menambah personel terminal serta mengaktifkan patroli laut 24 jam demi menjamin keselamatan dan kelancaran arus transportasi laut.
?Pada akhirnya, fenomena menyerbunya turis Malaysia dan Singapura ke kota-kota Indonesia menjadi cermin dua sisi bagi perekonomian nasional: di satu sisi menjadi angin segar penyuntik devisa pariwisata dan penggerak UMKM, namun di sisi lain menjadi alarm bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal akibat mahalnya biaya impor dan beban utang luar negeri. (ind)