PONTIANAK, SP - Tahun 1999 menjadi titik balik yang mengubah hidup Kurniati selamanya. Konflik Sambas memaksanya meninggalkan kampung halaman.
Bersama ribuan warga lainnya, ia mengungsi ke Pontianak dengan membawa sedikit barang dan banyak ketidakpastian.
Saat itu, ia tidak memiliki modal besar, tidak memiliki usaha, bahkan belum tahu bagaimana harus memulai hidup baru di kota orang.
Yang tersisa hanyalah satu keterampilan yang diwariskan orang tuanya sejak kecil: menenun.
Dengan modal sekitar Rp60 ribu, Kurniati perlahan membangun kehidupan dari nol di Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara.
Di rumah sederhana yang menjadi tempat berteduh keluarganya, ia mulai menenun lembar demi lembar kain songket untuk menyambung hidup.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa keterampilan yang dahulu menjadi pegangan untuk bertahan hidup itu kelak akan mengantarkannya menjadi salah satu tokoh pelestari tenun Kalimantan Barat.

Hingga pagi itu, suara alat tenun masih berdenting dari sebuah rumah di Gang Sambas Jaya. Bunyi kayu yang beradu dengan benang seolah menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang menolak menyerah pada keadaan.
Dari gang kecil di pinggiran Kota Pontianak itulah Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa tumbuh dan berkembang.
Kawasan yang dahulu hanya menjadi tempat Kurniati menenun kini menjelma menjadi sentra kerajinan, destinasi wisata budaya, sekaligus rumah bagi puluhan perajin tenun yang menggantungkan harapan dari warisan budaya leluhur.
Tak hanya menghasilkan Songket Sambas, para perajin juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti selendang, tas, dompet, pakaian, hingga aksesori berbahan tenun.
Inovasi terus dilakukan, termasuk memanfaatkan pewarna alami dari bahan-bahan lokal seperti jengkol yang menghasilkan warna khas pada kain.
Perjalanan panjang itu mencapai salah satu puncaknya pada tahun 2022 ketika Kanun Khatulistiwa dipercaya mewakili Kalimantan Barat dalam Tong-Tong Fair di Belanda.
Tak hanya menghasilkan Songket Sambas, para perajin juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti selendang, tas, dompet, pakaian, hingga aksesori berbahan tenun.
Inovasi terus dilakukan, termasuk memanfaatkan pewarna alami dari bahan-bahan lokal seperti jengkol yang menghasilkan warna khas pada kain.
Dari tangan-tangan terampil para penenun itu lahir karya dengan nilai ekonomi yang beragam.

Di Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa, kain tenun dijual mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per helai, tergantung jenis benang, motif, tingkat kerumitan, dan lamanya proses pengerjaan.
Tenun sederhana dan produk turunan seperti sarung, tanjak, atau aksesori dapat dijangkau dengan harga mulai sekitar Rp150 ribuan.
Sementara tenun halus dan songket eksklusif yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi bisa mencapai Rp2 juta atau lebih per lembar.
Perbedaan harga itu mencerminkan panjangnya proses yang harus dilalui, karena satu helai kain dapat dikerjakan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Bagi para penenun, setiap lembar kain bukan sekadar barang dagangan. Di dalamnya tersimpan kesabaran, ketekunan, serta pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itulah, semakin rumit motif yang dirajut, semakin tinggi pula nilai yang terkandung di dalamnya.
Bagi Kurniati, momen tersebut terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.
Dua dekade sebelumnya, ia adalah seorang pengungsi yang berusaha bertahan hidup dengan keterampilan seadanya.
Kini, karya yang lahir dari tangan-tangan perajin di kampung kecil yang dibangunnya dipamerkan di panggung budaya dunia.
“Termasuk BRI, BUMN telah membukakan pintu bagi usaha kami untuk berekspansi dan memperluas pasar hingga go global,” katanya.
Kini produk tenun dan songket dari Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa telah dipasarkan hingga ke Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Turki, Qatar, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Daya tariknya terletak pada proses produksi yang masih dilakukan secara manual. Di tengah dunia yang semakin modern dan serba instan, para wisatawan justru datang untuk menyaksikan bagaimana sehelai kain lahir dari ketelatenan, kesabaran, dan sentuhan tangan manusia.
Salah seorang pengunjung yang terkesan adalah Amoy, wisatawan asal Medan yang sengaja datang untuk melihat langsung proses pembuatan tenun.
“Saya baru pertama kali melihat proses menenun secara langsung. Ternyata rumit sekali dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Setelah melihat sendiri, saya jadi lebih menghargai setiap lembar kain tenun karena di baliknya ada kerja keras dan cerita panjang para penenun,” ujarnya.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, aktivitas wisata berhenti. Pameran dibatalkan. Pesanan menurun drastis. Kain-kain hasil tenunan yang biasanya cepat terjual mulai menumpuk di lemari penyimpanan.
“Produksi jalan terus, tetapi barang tidak ada yang laku. Sampai penuh lemari saya dengan kain songket,” kenang Kurniati.
Sekali lagi, ia memilih bertahan.
Melalui dukungan program pembinaan UMKM, akses permodalan, serta pemasaran digital yang dibantu anak-anaknya, usaha tersebut perlahan bangkit. Pesanan kembali berdatangan dan roda usaha kembali berputar.
Di balik keberhasilan Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa, ada banyak kisah perempuan yang ikut berubah nasibnya.
Salah satunya adalah Wasilah, seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi penenun aktif di kampung tersebut.
Sebelum mengenal dunia tenun, ia tidak memiliki penghasilan sendiri dan hanya mengandalkan pendapatan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dulu saya tidak punya penghasilan. Setelah belajar menenun di sini, saya bisa membantu biaya sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Alhamdulillah, sekarang ada penghasilan sendiri dari hasil tenun,” tuturnya.
Bagi Wasilah, keterampilan menenun bukan sekadar pekerjaan. Ia menjadi jalan untuk membantu keluarga sekaligus membangun rasa percaya diri.
Apa yang dirintis Kurniati selama puluhan tahun telah membuka peluang bagi banyak perempuan yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.
Dari yang awalnya hanya tiga penenun, kini sekitar 20 hingga 25 perajin aktif bekerja dan berkarya di Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa.
Karena itu, bagi Kurniati, keberhasilan terbesar bukanlah ketika produknya dipamerkan hingga ke mancanegara atau menembus pasar internasional.
Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika perempuan-perempuan yang dulu datang dengan segala keterbatasan kini mampu berdiri di atas kaki sendiri, memiliki penghasilan, dan ikut menopang ekonomi keluarga mereka.
Sore mulai turun di Batu Layang. Suara alat tenun masih terdengar bersahutan dari rumah-rumah perajin. Benang demi benang terus dirajut menjadi kain yang indah. Namun lebih dari sekadar menenun kain, tangan-tangan itu sedang merajut harapan. Merajut masa depan.
Merajut kisah tentang ketabahan yang tidak patah oleh keadaan, tentang budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman, dan tentang seorang perempuan yang berhasil mengubah luka pengungsian menjadi kebanggaan Kalimantan Barat di mata dunia. (aep mulyanto)