Ponticity post author Kiwi 05 Juli 2026

Gara-gara Diancam Demo Pasokan Listrik di Pontianak Berangsur Normal

Photo of Gara-gara Diancam Demo Pasokan Listrik di Pontianak Berangsur Normal

PONTIANAK, SP – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat memastikan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir, disebabkan gangguan teknis pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar.

Seperti diketahui pemadaman bergilir terjadi di berbagai daerah yang terhubung dalam Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat, di antaranya; Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, dan sejumlah wilayah lain dalam sistem interkoneksi Kalbar.

Di beberapa daerah, termasuk di Kota Pontianak, durasi pemadaman mencapai sekitar lima jam bahkan lebih, tergantung kebutuhan pengaturan beban sistem.

Manager Komunikasi PLN UID Kalimantan Barat, Mukhlis Zarkasih, menegaskan pemadaman listrik yang terjadi bukan disebabkan kekurangan batu bara, maupun krisis energi primer sebagaimana isu yang beredar di masyarakat.

Menurut Mukhlis, gangguan berupa kebocoran boiler menyebabkan kemampuan pasok daya pada Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat menurun, sehingga sistem belum dapat beroperasi secara optimal.

Untuk menjaga keandalan sistem sekaligus mencegah gangguan meluas, PLN menerapkan pembatasan aliran listrik secara terukur di sejumlah wilayah.

“Saat ini terjadi penurunan kemampuan pasok daya pada Sistem Kelistrikan Kalimantan Barat akibat gangguan teknis berupa kebocoran boiler pada salah satu unit PLTU berkapasitas besar,” ujar Mukhlis, Senin (5/7).

Pasokan Batu Bara Aman

Mukhlis menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar pembangkit karena stok energi primer, termasuk batu bara, dalam kondisi aman.

“Bukan, bukan karena ketersediaan Batu Bara. Pasokannya (batu bara) saat ini dalam kondisi aman,” katanya.

PLN, lanjut Mukhlis, mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pemulihan sistem. Selain mengoptimalkan pembangkit yang tersedia, perusahaan juga menambah pasokan listrik melalui pengoperasian pembangkit milik mitra.

“Seluruh sumber daya kami kerahkan untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Kami memaksimalkan pembangkit yang tersedia dan menambah pasokan melalui pembangkit mitra agar dampak kepada pelanggan dapat diminimalkan,” jelasnya.

Diperkirakan Satu Pekan

PLN memperkirakan proses perbaikan unit PLTU yang mengalami gangguan memerlukan waktu sekitar satu pekan sejak pemadaman listrik bergilir dilakukan.

Selama masa perbaikan, evaluasi sistem akan terus dilakukan agar pemulihan berlangsung secepat mungkin.

“Proses perbaikan diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu minggu. Kami berharap pemulihan pasokan listrik dapat segera dilakukan dan akan terus menyampaikan perkembangan penanganan melalui kanal komunikasi resmi PLN,” ujar Mukhlis.

Listrik Pontianak Mulai Normal

Mukhlis mengatakan proses perbaikan mulai menunjukkan hasil. Pasokan listrik di Kota Pontianak telah berangsur normal, meski sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat masih mengalami pemadaman bergilir secara terukur.

“Perbaikan kerusakan terus dilakukan, dan hasilnya untuk wilayah Kota Pontianak pasokan listrik sudah mulai berangsur normal,” katanya.

Surplus Daya Masih Terbatas

Terkait daya listrik di Kalimantan Barqt, Mukhlis menjelaskan sistem kelistrikan Kalimantan Barat sebenarnya masih berada dalam kondisi surplus daya.

Namun, cadangan surplus tersebut tidak besar sehingga rentan ketika salah satu pembangkit utama mengalami gangguan.

Menurut dia, gangguan pada PLTU berkapasitas besar yang terjadi bersamaan dengan suhu udara tinggi turut menurunkan kemampuan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) akibat meningkatnya temperatur operasi atau derating.

“Benar, secara sistem kelistrikan Kalimantan Barat masih memiliki surplus daya, namun besarnya tidak terlalu signifikan,” katanya.

Ia menambahkan cuaca panas yang melanda Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir ikut memengaruhi performa pembangkit listrik.

Kombinasi gangguan pembangkit dan penurunan daya mampu tersebut membuat pasokan listrik menjadi lebih terbatas sehingga diperlukan manajemen beban secara terukur untuk menjaga stabilitas sistem.

Ancam Gelar Demonstrasi Besar

Pemadaman listrik yang dilakukan PLN mematik protes dari masyarakat, seperti yang disuarakan masyarakat yang tergabung dalam Barisan Pemuda Melayu (BPM) Kalimantan Barat.

Mereka meminta PLN segera memulihkan pasokan listrik yang padam di sejumlah wilayah Kalimantan Barat..

Ketua Umum Barisan Pemuda Melayu (BPM) Kalimantan Barat, Gusti Edy menegaskan akan menggelar aksi demonstrasi dengan melibatkan sekitar 1.000 massa apabila gangguan listrik tidak segera diatasi.

“Kalau kondisi ini tidak segera normal, BPM akan menggelar aksi demonstrasi. Kami menuntut kejelasan, perbaikan pasokan listrik, dan pertanggungjawaban dari PLN,” tegas Gusti Edy.

Menurutnya, pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah mengganggu aktivitas masyarakat, perekonomian, dan pelayanan publik. Ia menilai gangguan yang berulang tidak dapat dianggap sebagai persoalan teknis semata.

“Dua hari tanpa listrik saja sudah membuat roda ekonomi Kalimantan Barat nyaris lumpuh. Kondisi seperti ini tidak boleh terus berulang,” katanya.

BPM juga meminta pemerintah pusat mengevaluasi kinerja pimpinan PLN Kalimantan Barat serta mendorong aparat penegak hukum bersama Forkopimda mengusut penyebab pemadaman.

Desakan Gubernur Kalbar

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mendesak PLN segera menuntaskan perbaikan pembangkit yang mengalami gangguan teknis agar pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah tidak terus berlarut.

Norsan menegaskan masyarakat sudah terlalu lama menanggung dampak pemadaman listrik yang berlangsung hingga lima sampai enam jam setiap hari.

“Masyarakat sudah terlalu lama menanggung dampak pemadaman yang mencapai lima hingga enam jam setiap hari,” kata Norsan

Menurut Norsan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah berkoordinasi dengan PLN dan pihak terkait untuk memastikan penyebab terganggunya pasokan listrik.

Awalnya, Norsan menduga gangguan berkaitan dengan pasokan bahan bakar. Namun, hasil koordinasi menunjukkan masalah disebabkan kerusakan pada salah satu mesin pembangkit.

“Kami sudah berkoordinasi dengan PLN dan Pertamina untuk memastikan penyebabnya. Setelah dikonfirmasi, ternyata ada mesin pembangkit yang mengalami kerusakan,” ujarnya.

Ia menilai pemadaman yang berkepanjangan telah mengganggu aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Karena itu, PLN diminta menjadikan percepatan perbaikan pembangkit sebagai prioritas agar pelayanan listrik segera kembali normal.

“Saya minta pimpinan PLN segera memperbaiki mesin yang rusak. Jangan biarkan masyarakat terus menjadi korban pemadaman listrik hingga lima sampai enam jam setiap hari,” tegas Norsan.

Pembangunan PLTN Kalbar Ditargetkan Mulai 2027

Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dimulai pada 2027 dengan lokasi awal di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan masing-masing lokasi direncanakan memiliki kapasitas sekitar 250 megawatt (MW) dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.

“Kita menargetkan PLTN bisa beroperasi pada 2032. Artinya, kalau waktu pembangunan sekitar lima tahun, maka pada 2027 keputusan harus sudah diambil. Untuk tahap awal, lokasi yang dipersiapkan antara lain Bangka Belitung dan Kalimantan Barat,” ujarnya dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 di Jakarta.

Airlangga menambahkan pengembangan PLTN merupakan bagian dari target bauran energi nasional dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yang menargetkan sekitar 8 persen pasokan energi pada 2060 berasal dari energi baru dan terbarukan, termasuk nuklir.

Menurutnya, Indonesia juga memiliki cadangan lebih dari 5.000 ton uranium dan sekitar 4.700 ton thorium serta telah memenuhi sebagian besar persyaratan pembangunan PLTN, didukung Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2025.

Darmawan: Retrofit PLTU Jadi Solusi Jangka Panjang

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan PLN akan melakukan modifikasi atau retrofit PLTU agar mampu menggunakan batu bara berkalori rendah.

Menurut Darmawan, langkah tersebut menjadi solusi jangka panjang terhadap ketidaksesuaian antara dominasi produksi batu bara kalori rendah dengan kebutuhan PLTU yang selama ini menggunakan batu bara kalori menengah hingga tinggi.

Keberhasilan retrofit PLTU Suralaya Unit 6 dan 7 menjadi acuan PLN untuk melakukan kajian serupa pada pembangkit lain. Kedua unit tersebut kini mampu menggunakan batu bara berkadar 4.100–4.300 kcal per kilogram, lebih rendah dibanding spesifikasi awal 4.600–4.800 kcal per kilogram.

“Suksesnya retrofit di Suralaya 6 dan 7 saat ini langsung kami melakukan kajian kelayakan proyek di seluruh pembangkit PLN,” katanya.

Untuk jangka pendek, PLN juga telah memperoleh tambahan pasokan batu bara berkalori di atas 4.500 kcal per kilogram, yakni sekitar 1,8 juta ton pada Juli serta sekitar 3 juta ton untuk periode Agustus hingga Desember. Dengan tambahan tersebut, Darmawan memastikan tidak akan ada lagi pemadaman bergilir di sistem Jawa.

Pengamat: Panas Bumi Perkuat Ketahanan Listrik

Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menilai pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus mengurangi risiko blackout.

Menurut Feiral, panas bumi memiliki karakter sebagai pembangkit baseload yang mampu beroperasi selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

“Panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload,” ujarnya.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen dari cadangan dunia. Namun, pemanfaatannya baru mencapai sekitar 2,7 GW atau sekitar 12 persen dari total potensi.

Meski demikian, pengembangan panas bumi harus dibarengi penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pembangunan sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS), digitalisasi jaringan, serta diversifikasi sumber energi.

Feiral menilai pengembangan panas bumi juga masih menghadapi tantangan berupa tingginya investasi awal, persoalan tarif, perizinan, hingga kesiapan infrastruktur.

“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” pungkasnya (din/jee)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda