Ponticity post author elgiants 06 Juli 2026

Pemuda Nahdliyin Kalimantan Barat Dorong Gus Yusuf Pimpin PBNU

Photo of Pemuda Nahdliyin Kalimantan Barat Dorong Gus Yusuf Pimpin PBNU

PONTIANAK,SP — Gelombang dukungan kepada KH. Muhammad Yusuf Chudlori untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mengalir dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk dari Kalimantan Barat.

Komunitas Kita Muda Nahdliyin Kalimantan Barat secara resmi menyatakan dukungannya kepada pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang itu dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat di Warung Kopi Alvan, Kota Pontianak, Ahad, 5 Juli 2026.

Koordinator Kita Muda Nahdliyin Kalbar, Husni, menegaskan bahwa sosok Gus Yusuf adalah figur yang paling tepat untuk memimpin NU di abad keduanya. Bagi Husni, kekuatan utama Gus Yusuf bukan terletak pada popularitas atau jabatan yang pernah ia sandang — melainkan pada konsistensi dan ketulusannya dalam berkhidmat kepada umat.

"Beliau tidak silau dengan jabatan. Itu yang membedakannya," ujar Husni yang juga merupakan mantan Ketua PMII Pontianak Raya.

Kiai Pesantren yang Membuktikan dengan Kerja

Gus Yusuf dikenal luas sebagai tokoh pesantren yang tidak berhenti pada wacana. Dalam bukunya Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi, ia menulis sebuah prinsip yang menjadi kompas hidupnya:
"Khidmah tidak boleh berhenti pada niat baik. Niat baik harus diubah menjadi kerja nyata."

Prinsip itu bukan sekadar kata-kata. Di bawah kepemimpinannya, Pesantren API Tegalrejo — yang kini dihuni lebih dari 10.000 santri — tumbuh menjadi ekosistem pendidikan yang utuh. Yayasan Syubbanul Wathon yang ia kelola membawahi pendidikan formal dari jenjang TK hingga perguruan tinggi, dilengkapi SMK vokasi yang menyiapkan santri menjadi tenaga terampil dan wirausahawan. Radio Fast FM hadir sebagai media dakwah yang menyapa masyarakat desa dengan bahasa yang hangat dan membumi. RSU Syubbanul Wathon berdiri sebagai bukti bahwa pesantren bisa menjadi institusi pelayan kesehatan umat yang nyata.

Gus Yusuf juga dikenal sebagai kiai yang melek zaman tanpa kehilangan akar. Ia aktif berdakwah melalui platform digital, namun di saat yang sama tetap mengajarkan kitab kuning kepada santrinya setiap hari. Inilah yang ia sebut sebagai perwujudan kaidah NU yang ia yakini sepenuh hati:

"Menjaga tradisi yang baik, mengambil hal baru yang lebih baik."

Politik Sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Husni juga menyoroti satu hal yang menurutnya menjadi teladan penting bagi generasi muda nahdliyin — cara Gus Yusuf memandang politik.

"Gus Yusuf mengajarkan kepada kami bahwa politik itu sarana, bukan tujuan. Tujuan akhirnya satu: kesejahteraan masyarakat dan kemaslahatan umat," tegasnya.

Sikap itu selaras dengan apa yang Gus Yusuf tulis dalam bukunya tentang tanggung jawab kepemimpinan NU ke depan:

"NU tidak boleh hanya bangga karena usianya panjang. Usia adalah catatan waktu. Kedewasaan adalah kemampuan menanggung amanah."

Muktamar ke-35 NU, Agustus 2026

Pernyataan dukungan ini disampaikan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang telah ditetapkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Ketetapan itu dihasilkan dari Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026, meski lokasi penyelenggaraan hingga saat ini masih belum ditetapkan secara resmi.

Bagi Kita Muda Nahdliyin Kalimantan Barat, Muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia adalah momen penting untuk memastikan NU di abad keduanya dipimpin oleh sosok yang tidak hanya fasih berbicara tentang perubahan — tetapi yang sudah lebih dahulu membuktikannya.

"Kami dari Kalimantan Barat ingin NU dipimpin oleh kiai yang betul-betul kiai — yang akarnya dalam di pesantren, tangannya terbiasa bekerja, dan hatinya tetap berada di tengah umat," tutup Husni.

Kita Muda Nahdliyin adalah komunitas pemuda nahdliyin lintas daerah yang mendorong lahirnya kepemimpinan NU yang berakar pada tradisi pesantren dan responsif terhadap kebutuhan umat. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda