PONTIANAK, SP - Orang tua atlet bulutangkis tunggal putri asal Kabupaten Kubu Raya menyampaikan keberatan terhadap hasil technical meeting (TM) cabang olahraga bulutangkis pada ajang O2SN jenjang SD tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar di Aula Balai Serumpun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Senin (6/7/2026).
Keberatan tersebut disampaikan karena penentuan unggulan (seeded) dalam bagan pertandingan (main draw) dinilai tidak mengacu pada prestasi hasil pertandingan para atlet.
Orang tua atlet, mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan hasil pertandingan apabila ditentukan berdasarkan kemampuan atlet. Namun, ia mempertanyakan mekanisme penetapan unggulan yang menurutnya tidak didukung data prestasi yang jelas.
"Kami menerima dengan lapang dada apabila anak kami kalah karena memang prestasinya di bawah lawan. Tetapi yang kami keberatan adalah apabila penentuan unggulan tidak berdasarkan prestasi dan data otentik. Dalam olahraga, sportivitas dan meritokrasi harus menjadi dasar," ujarnya.
Ia menjelaskan, guru pendamping telah menyampaikan keberatan saat technical meeting, namun tidak mendapat tanggapan dari panitia karena panitia sudah merasa mempunyai data yang akurat. Setelah itu, pihak keluarga juga berupaya berkoordinasi dengan pelatih, wasit, referee, panitia, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar hingga Ketua PBSI Kalbar.
"Kami sudah menghubungi berbagai pihak sampai menjelang tengah malam. Kami juga telah mengirimkan data prestasi anak kami, namun hingga pukul 00.00 WIB data otentik yang menjadi dasar penetapan unggulan kedua belum dapat ditunjukkan kepada kami, sementara bagan pertandingan tetap tidak berubah," katanya.
Akibat penetapan bagan tersebut, kontingen asal Kubu Raya, harus bertemu unggulan pertama asal Kota Pontianak setelah mengalahkan Kontingen dari Kayong Utara pada babak delapan besar. Padahal, berdasarkan rekam jejak pertandingan sebelumnya, keduanya kerap bertemu di partai final berbagai kejuaraan tingkat Kalbar, hal tersebut dinilai tidak fair dalam hal pembinaan rekam jejak atlit berprestasi.
"Kalau memang berdasarkan prestasi, tentu kami bisa menerima. Tetapi kami ingin semua proses dilakukan secara terbuka dan objektif agar tidak menimbulkan dugaan adanya perlakuan yang tidak adil," tegasnya.
Ia juga berharap Ketua KONI Kalbar, Daud Yordan, dapat memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut agar pembinaan olahraga di Kalbar berjalan sesuai prinsip keadilan dan prestasi.
"Kami bangga memiliki tokoh olahraga seperti Bang Daud Yordan. Karena itu kami berharap beliau memberikan atensi agar kejadian seperti ini tidak terulang. Anak-anak harus dididik melalui kompetisi yang sehat dan menjunjung tinggi kejujuran," ucapnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari pelatih bulutangkis, persoalan serupa disebut bukan kali pertama terjadi sehingga perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kompetisi.
Sementara itu, Ketua PBSI Kalbar, Joko Sularso, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait keberatan tersebut. Menurutnya, PBSI akan mengumpulkan data yang menjadi dasar penetapan unggulan untuk dilakukan penelaahan lebih lanjut.
"Kami sudah menerima informasi tersebut. PBSI akan mengumpulkan data otentik terkait penetapan unggulan sebagai bahan evaluasi." katanya.
Hingga berita ini diturunkan, panitia pelaksana O2SN cabang bulutangkis Tingkat Provinsi Kalbar maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat belum memberikan keterangan resmi terkait dasar penetapan unggulan dalam bagan pertandingan tersebut. (aep)