PONTIANAK, SP - Pemadaman listrik secara bergilir masih terus terjadi di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak. Kejadian ini memberikan dampak kerugian yang besar bagi para pengusaha setempat.
Anggota sekaligus Wakil Ketua Komisi 3 DPRD Kota Pontianak, Berdi, menanggapi pemadaman tersebut. Ia menyebut kejadian ini sangat merugikan masyarakat, terutama para pelaku usaha.
“Kejadian ini sangat merugikan masyarakat Kota Pontianak. Terutama, kalau menurut saya, ini sebenarnya kerugian yang dialami pelaku-pelaku usaha yang ada di Kota Pontianak,” kata Berdi.
Ia berharap PLN bertanggung jawab atas kerugian masyarakat dengan cara memberikan potongan tagihan listrik sebesar 30% sampai 40%. Menurutnya, PLN harus bertindak tegas agar masyarakat tidak selalu menjadi pihak yang dirugikan.
“Jadi PLN harus transparan dan terbuka. Jangan hanya berbicara di media sosial, mereka secara terbuka harus memberikan edukasi dan keterangan ke masyarakat mengenai apa permasalahan yang sebenarnya terjadi sekarang,” tegas Berdi.
Ia juga mengingatkan pemerintah kota untuk ikut memberikan solusi nyata kepada masyarakat.
“Tidak hanya bicara, namun perlu tindakan dari pemerintah kota dan pihak PLN. Tindakan apa yang konkret? Itulah yang ditunggu oleh masyarakat,” terangnya.
Berdi menambahkan bahwa harus ada kejelasan dan transparansi dari semua kejadian ini demi keterbukaan informasi.
Dampak buruk pemadaman ini juga diakui oleh Anam, seorang pengusaha distribusi ayam di pasar kawasan Sungai Jawi.
“Yang paling dirasakan itu adalah pasokan air. Karena memang salah satu kendala kami di situ. Untuk mesin produksi segala macam kami bisa menggunakan solar, tapi kalau untuk pasokan air, otomatis kami pakai mesin air yang menggunakan listrik,” ungkap Anam.
Ia mengatakan bahwa pemadaman yang terjadi berulang-ulang sangat mengganggu bisnisnya. Ia berharap ke depan tidak ada lagi masalah serupa dan PLN bisa segera menyelesaikan persoalan ini.
“Kalau kami estimasi kerugiannya, omzet bisa menurun sampai 50%. Sebab, pelanggan kami—terutama penjual rumah makan atau restoran—turut mengurangi pembelian mereka,” pungkas Anam. (abdul wesi)