MELAWI,SP - Pengelolaan sampah menjadi satu isi yang hingga kini masih krusial di Indonesia, termasuk Melawi.
Volume sampah terus meningkat ditambah dengan fasilitas tempat pembuangan sampah yang terbatas dan faktor kesadaran masyarakat untuk membuang sampah atau melakukan pemilahan sampah juga masih minim sehingga menjadi tantangan bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai stakeholder yang bertanggung jawab mengelola sampah di Melawi.
Sosialisasi dan diskusi digelar DLH, pada Selasa (7/7) untuk mengungkapkan tantangan dan kendala serta solusi alternatif untuk tata kelola sampah yang lebih baik. DLH mengundang perangkat desa, pelaku usaha, perwakilan sekolah, unsur masyarakat, serta sejumlah instansi terkait serta organisasi.
Kepala DLH, Yusuf Affandi menyampaikan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kegiatan sosialisasi ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat agar semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan. Kami ingin membangun kesadaran bahwa membuang sampah pada tempatnya dan mengelola sampah dengan benar merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” ujar Yusuf Afandi.
Menurutnya, pemerintah desa, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga komunitas memiliki peran strategis sebagai pelopor dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang baik di tengah masyarakat.
“Kami berharap perusahaan, pemerintah desa, sekolah, dan seluruh lapisan masyarakat dapat menjadi contoh dalam penerapan pengelolaan sampah yang baik. Jika semua pihak bergerak bersama, maka persoalan sampah di Kabupaten Melawi akan lebih mudah diatasi,” katanya.
Yusuf juga mengungkapkan bahwa pengelolaan persampahan di Kabupaten Melawi masih menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana. Saat ini, dari delapan armada truk pengangkut sampah yang dimiliki DLH, hanya empat unit yang masih beroperasi.
“Kondisi armada yang terbatas tentu menjadi kendala dalam pelayanan pengangkutan sampah. Namun demikian, kami terus berupaya meningkatkan pelayanan dengan memaksimalkan armada yang masih berfungsi serta mengusulkan penambahan sarana pendukung,” ungkapnya.
Ke depan, kata Yusuf, DLH Melawi akan memprioritaskan penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, pemerintah juga akan mengaktifkan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), mendorong pembentukan bank sampah di desa maupun sekolah, serta melakukan pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Kami ingin pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik. Bank sampah juga akan terus kami dorong agar memiliki pengelola yang aktif sehingga sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan sistem pengelolaan TPA dari metode open dumping menuju controlled landfill masih terkendala oleh rusaknya alat berat milik DLH yang menjadi penunjang utama operasional di TPA.
“Perbaikan sistem pengelolaan TPA menjadi salah satu prioritas kami. Kendala utama saat ini adalah alat berat yang mengalami kerusakan. Kami akan mengupayakan perbaikannya sekaligus mencari dukungan pengadaan alat baru, termasuk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Melawi,” tambah Yusuf.
Jafung Pengendali Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Melawi, Ridwansyah menjelaskan aspek pengelolaan persampahan, mulai dari regulasi dan kebijakan pemerintah di bidang persampahan, kondisi pengelolaan TPA Nanga Pinoh, tindak lanjut terhadap sanksi administratif yang diterima Pemerintah Kabupaten Melawi, langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan DLH, hingga arah kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan sampah.
Ridwansyah menekankan bahwa program prioritas DLH saat ini adalah mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
“Pemilahan sampah merupakan kunci keberhasilan pengelolaan persampahan. Tantangannya saat ini masih banyak, baik dari sisi fasilitas maupun kebiasaan masyarakat. Karena itu diperlukan dukungan semua pihak agar sistem pemilahan sampah organik, anorganik, maupun sampah plastik dapat berjalan secara bertahap,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya keberadaan bank sampah sebagai salah satu solusi dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah yang masih dapat dimanfaatkan.
“Bank sampah bukan hanya tempat menabung sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana bank sampah tersebut memiliki pengelola yang aktif sehingga dapat berjalan secara berkelanjutan,” katanya.
Kegiatan berlanjut dengan diskusi antar peserta yang hadir bersama DLH Melawi. (eko)