Ponticity post author Kiwi 15 Juli 2026

Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Photo of Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Mengakselerasi Transformasi Digital untuk Membangun Budaya Kerja dan Memperkuat Tata Kelola

PONTIANAK, SP - Kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, jumlah mahasiswa, atau capaian akademik semata.

Lebih dari itu, keberhasilan institusi ditentukan oleh bagaimana kepemimpinan mampu membangun sistem kerja, memperkuat tata kelola, menciptakan budaya organisasi yang sehat, serta menghadirkan inovasi yang menjawab tantangan zaman.

Bagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, periode kepemimpinan Prof. Dr. H. Syarif, M.A. selama dua periode, yakni 2018-2022 dan 2022-2026, menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pengembangan institusi.

Kepemimpinannya dinilai telah membawa berbagai perubahan, terutama dalam penguatan tata kelola kelembagaan, peningkatan kualitas pelayanan, perencanaan berbasis data, hingga percepatan transformasi digital.

Sejumlah pejabat dan sivitas akademika IAIN Pontianak menilai bahwa kepemimpinan Prof. Syarif tidak hanya berorientasi pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga menitikberatkan pada pembangunan sistem dan sumber daya manusia agar institusi mampu berkembang secara berkelanjutan.

Kepemimpinan Terbuka dan Mendorong Kolaborasi

Muhammad Syahrun, S.E., M.M., Kepala Bagian Umum dan Layanan Akademik (Kabag ULA) Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan (AUAK) IAIN Pontianak, melihat Prof. Syarif sebagai sosok pemimpin yang komunikatif dan memberikan ruang bagi setiap unit kerja untuk berkembang.

Menurutnya, salah satu karakter utama kepemimpinan Prof. Syarif adalah keterbukaan dalam membangun komunikasi serta kepercayaan kepada jajaran di bawahnya.

“Prof. Syarif memimpin dengan pendekatan yang terbuka. Beliau memberikan kepercayaan kepada setiap unit untuk berinovasi, tetapi tetap menekankan akuntabilitas dan tanggung jawab. Pola kepemimpinan seperti ini membuat koordinasi antarbidang berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Menurut Syahrun, kepemimpinan yang memberikan ruang kreativitas tersebut membuat setiap unit kerja lebih aktif mencari solusi terhadap berbagai tantangan kelembagaan.

“Kepercayaan yang diberikan kepada jajaran bukan berarti tanpa kontrol. Setiap pekerjaan tetap harus memiliki tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Ia menilai salah satu perubahan yang paling terasa selama kepemimpinan Prof. Syarif adalah meningkatnya kualitas layanan akademik dan administrasi kepada mahasiswa maupun dosen.

“Dulu masih banyak layanan dilakukan secara manual. Kini berbagai proses administrasi mulai bertransformasi menggunakan sistem digital sehingga pelayanan menjadi lebih cepat, transparan, dan mudah diakses,” katanya.

Beberapa layanan seperti administrasi akademik, surat-menyurat, serta pengelolaan data mahasiswa mengalami perubahan signifikan melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Memperkuat Tata Kelola Organisasi

Penguatan tata kelola menjadi salah satu aspek penting dalam perjalanan kepemimpinan Prof. Syarif.

Hal ini disampaikan langsung oleh Sumarman, S.Ag., salah satu pejabat senior di lingkungan IAIN Pontianak, menilai kepemimpinan Prof. Syarif membawa perubahan terhadap budaya kerja organisasi yang semakin tertib, terencana, dan terukur.

Menurutnya, perguruan tinggi modern membutuhkan sistem kerja yang tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki perencanaan yang jelas, indikator keberhasilan, serta evaluasi yang berkelanjutan.

“Beliau selalu mendorong agar setiap program memiliki perencanaan yang jelas, target yang terukur, dan evaluasi yang berkelanjutan. Hal itu membuat tata kelola organisasi menjadi semakin baik,” ungkapnya.

Ia melihat perbedaan penting kepemimpinan Prof. Syarif dibandingkan periode sebelumnya adalah kemampuan menggabungkan pembangunan sumber daya manusia dengan penguatan sistem kelembagaan.

Kepemimpinan tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi organisasi agar mampu menghadapi perubahan dan tuntutan perguruan tinggi modern.

Perencanaan Berbasis Data dan Penguatan Mutu Institusi

Dalam pengembangan institusi, aspek perencanaan menjadi bagian penting yang mendapat perhatian selama kepemimpinan Prof. Syarif.

Suhaimi, S.Ag., M.Pd., Perencana Ahli Madya Biro AUAK IAIN Pontianak, mengatakan bahwa perencanaan yang matang menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan kampus.

Menurutnya, setiap program perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata, data yang akurat, serta memiliki dampak terhadap peningkatan mutu institusi.

“Setiap program harus berbasis data, kebutuhan nyata, dan memiliki dampak terhadap peningkatan mutu institusi. Pola ini membuat proses perencanaan hingga akreditasi berjalan lebih sistematis,” jelasnya.

Ia menilai sinergi antarunit kerja selama periode tersebut semakin kuat sehingga pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif dan terukur.

Perencanaan yang baik juga menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan akreditasi, penguatan sistem penjaminan mutu, serta pengembangan layanan akademik.

Transformasi Digital Mengubah Wajah Pelayanan Kampus

Salah satu perubahan besar yang dirasakan selama kepemimpinan Prof. Syarif adalah percepatan transformasi digital di lingkungan IAIN Pontianak.

Digitalisasi tidak hanya dipandang sebagai penggunaan teknologi, tetapi sebagai perubahan cara kerja agar layanan menjadi lebih efektif, transparan, dan akuntabel.

Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan IAIN Pontianak, Dr. Cucu, S.Ag., M.Ag., menilai transformasi digital merupakan salah satu warisan penting dari kepemimpinan Prof. Syarif.

“Transformasi digital bukan hanya mengganti proses manual menjadi elektronik, tetapi mengubah cara kerja menjadi lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Itu yang terus didorong oleh Prof. Syarif,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai layanan kampus kini mulai memanfaatkan sistem digital sehingga memudahkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam memperoleh layanan.

Namun, ia mengakui bahwa transformasi digital masih membutuhkan pengembangan berkelanjutan.

Beberapa hal yang masih perlu diperkuat antara lain integrasi seluruh aplikasi layanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan infrastruktur teknologi informasi.

“Kami ingin seluruh layanan kampus nantinya benar-benar terintegrasi dalam satu ekosistem digital sehingga memberikan pengalaman layanan yang lebih cepat, nyaman, dan efektif bagi mahasiswa maupun dosen,” tambahnya.

Digitalisasi Bukan Sekadar Teknologi

Menurut Dr. Cucu, keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada aplikasi atau perangkat teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam menjalankan sistem tersebut.

Teknologi hanyalah alat, sedangkan perubahan budaya kerja menjadi faktor utama agar digitalisasi dapat berjalan maksimal.

Karena itu, peningkatan kemampuan tenaga kependidikan dan sivitas akademika dalam menggunakan teknologi menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut.

Layanan digitalisasi kampus di IAIN Pontianak berpusat pada platform terintegrasi Smart Campus IAIN Pontianak menggunakan sistem Single Sign-On (SSO).

Sistem ini mencakup layanan E-Office, Sistem Informasi Akademik, E-Data, pengajuan Tugas Akhir, e-Wisuda, serta akses perpustakaan digital.

Layanan Akademik ini mencakup pengelolaan jadwal, nilai, dan absensi (e-presensi), serta sistem perkuliahan jarak jauh (E-Learning) yang mendukung pembelajaran blended learning Smart Campus IAIN Pontianak.

Perpustakaan Digital, didukung oleh layanan Digilib dan aplikasi E-Pustaka berbasis seluler yang memudahkan mahasiswa membaca ribuan koleksi buku digital dari mana saja

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), di mana pendaftaran mahasiswa baru untuk berbagai jalur seperti SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, hingga Jalur Mandiri dilakukan secara daring melalui portal resmi PMB Institut Agama Islam Negeri Pontianak 2026.

Layanan Informasi (Chatbot WhatsApp), dengan hadir pula asisten virtual WhatsApp resmi yang melayani informasi dan PTSP Akademik selama 24 jam penuh IAIN Pontianak on Instagram.

Membangun Fondasi untuk Masa Depan

Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, S.Ag., M.A., yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan dua periode, yaitu 2018-2022 dan 2022-2025, menilai kepemimpinan Prof. Syarif telah memberikan fondasi penting bagi pengembangan IAIN Pontianak.
Menurutnya, perubahan institusi membutuhkan visi jangka panjang, konsistensi, dan kerja bersama seluruh unsur kampus.

“Transformasi kelembagaan memerlukan visi jangka panjang. Selama kepemimpinan Prof. Syarif, arah pembangunan institusi menjadi lebih jelas, baik dari sisi tata kelola, pelayanan, maupun pengembangan sumber daya manusia,” katanya.

Ia berharap berbagai fondasi yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan oleh kepemimpinan berikutnya sehingga IAIN Pontianak semakin mampu bersaing di tingkat nasional.

Kepemimpinan Adalah Membangun Sistem

Menutup refleksi perjalanan kepemimpinannya, Prof. Dr. H. Syarif menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi bukanlah hasil kerja seorang pemimpin semata, melainkan hasil kolaborasi seluruh sivitas akademika.

“Saya selalu meyakini bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana membangun sistem yang mampu bekerja secara berkelanjutan. Ketika sistem berjalan baik, maka institusi akan terus berkembang meskipun kepemimpinan berganti,” tuturnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra yang telah bersama-sama membangun IAIN Pontianak.

“Semoga apa yang telah kita bangun menjadi fondasi bagi kemajuan IAIN Pontianak di masa depan. Tantangan pendidikan tinggi semakin kompleks, sehingga inovasi, kolaborasi, dan integritas harus terus menjadi budaya kerja kita bersama,” pungkas Prof. Syarif.

Delapan tahun perjalanan kepemimpinan Prof. Syarif menjadi bagian penting dari dinamika perkembangan IAIN Pontianak.

Berbagai perubahan yang terjadi menunjukkan bahwa pembangunan institusi tidak hanya membutuhkan program besar, tetapi juga kepemimpinan yang mampu membangun budaya kerja, memperkuat sistem, dan menyiapkan kampus menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, jejak seorang pemimpin tidak hanya terlihat dari apa yang dibangun selama masa jabatannya, tetapi juga dari seberapa kuat fondasi yang ditinggalkan untuk generasi berikutnya. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda