PONTIANAK, SP - Rumah kayu sederhana di Desa Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, saksi abadi pada bunyi “tak…tak…tak…”.
Bunyi tersebut berasal dari alat tenun bukan mesin yang selalu terdengar bersahut-sahutan sejak pagi.
Denting kayu yang saling beradu itu berbaur dengan suara lembut senandung Melayu Mempawah yang dilantunkan pelan oleh Erna Juwita.
Lagu lama itu mengalun seperti doa, menjaga agar benang-benang tradisi tidak putus dimakan zaman.
Di sela jemarinya yang lincah menarik helaian benang sutera, perempuan berusia 42 tahun itu sesekali tersenyum kecil menatap motif awan berarak yang mulai tampak di permukaan kain.
Baginya, menenun bukan sekadar pekerjaan. Ia sedang merawat warisan budaya yang telah hidup sejak abad ke-17.
“Kalau menenun itu harus pakai rasa,” tutur Erna lirih. “Kalau hati tidak tenang, motifnya bisa salah.”
Di ruang yang juga difungsikan sebagai galeri tenun itu, aroma benang, kayu, dan pewarna kain bercampur menjadi satu.
Beberapa lembar kain songket tergantung rapi di dinding, berwarna merah marun, emas, hijau zamrud, hingga biru laut.
Motif awan berarak yang menjadi ciri khas Mempawah tampak mendominasi. Motif itu menyerupai gumpalan awan yang bergerak perlahan di langit, simbol kebesaran dan kemuliaan budaya Melayu Keraton Amantubillah.
Dulu, kain bermotif awan berarak hanya boleh dikenakan kalangan kerabat kerajaan dan dipakai pada acara-acara besar istana.
Kini, berkat tangan-tangan para penenun seperti Erna, kain itu hidup kembali di tengah masyarakat.
Perjalanan Erna menjadi penjaga tradisi dimulai sejak 1999. Saat itu ia masih menenun kain Sambas atau yang dikenal sebagai kain lunggi, kain tradisional Melayu Kalimantan Barat (Kalbar) yang telah eksis sejak abad ke-17.
Modal pertamanya hanya Rp275 ribu, uang yang ia gunakan untuk mencicil alat tenun dari seorang teman.
Tidak ada yang menyangka usaha kecil itu kelak berkembang menjadi sentra budaya tenun yang dikenal luas.
“Dulu saya hanya punya satu alat tenun. Sekarang sudah banyak dan bisa mengajak ibu-ibu lain ikut bekerja,” katanya.
Pada 2004, jumlah alat tenunnya bertambah menjadi tujuh unit. Sedikit demi sedikit, perempuan-perempuan di kampung sekitar mulai belajar menenun bersamanya.
Kini, sedikitnya 10 pekerja tetap membantu produksi kain tenun di rumah galeri miliknya. Jika pesanan meningkat, Erna memanggil penenun tambahan dari desa sekitar.
Dalam sebulan, mereka mampu menghasilkan 20 hingga 30 lembar kain tenun.
Harga setiap kain bervariasi, mulai Rp1,5 juta hingga Rp10 juta, tergantung jenis benang, tingkat kerumitan motif, dan penggunaan benang emas.
Namun bagi Erna, nilai sebuah kain tenun tidak pernah semata soal harga.
“Ada cerita dan doa di setiap tenunan,” ucapnya sambil membenarkan posisi benang.
Inspirasi terbesar dalam hidupnya datang ketika ia mulai mendalami motif khas Mempawah.
Ia mengaku sempat merasa motif tenun yang dibuatnya monoton. Sampai suatu hari ia bertemu Raja Mempawah dan mendapat dorongan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan motif khas daerah sendiri.
Dukungan besar juga datang dari Baginda Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, M.Sc., Raja Mempawah ke-13 yang memimpin Istana Amantubillah saat itu.
Sebagai tokoh adat dan pelestari budaya Melayu di Kalbar, ia dikenal aktif mendorong kebangkitan warisan budaya lokal, termasuk tenun awan berarak khas Mempawah.
Baginda Raja Mempawah memberikan apresiasi tinggi terhadap ketekunan Erna dan para penenun yang dinilai berhasil menjaga identitas budaya Melayu tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Menurutnya, tenun bukan hanya produk kerajinan, melainkan simbol jati diri, sejarah, dan marwah masyarakat Melayu Mempawah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
“Tenun awan berarak adalah warisan luhur Kesultanan Mempawah. Kehadiran para penenun seperti Ibu Erna menjadi cahaya yang menjaga budaya ini tetap hidup dan dikenal luas,” ujar Baginda dalam salah satu kesempatan pembinaan budaya.
Ia juga berharap generasi muda tidak malu mempelajari tenun tradisional dan mulai mencintai produk budaya daerah sendiri.
Dukungan kerajaan bersama pemerintah daerah terus dilakukan melalui promosi budaya, festival, hingga penggunaan motif awan berarak dalam berbagai kegiatan resmi.
Inovasi Nafas Karya Terbaik

Lalu ada momen lain yang mengubah cara pandangnya terhadap tenun. Suatu ketika saat berjalan-jalan di Pontianak, Erna melihat lukisan burung. Dari situlah ide-ide baru bermunculan.
“Dalam tiga hari saya buat desainnya, lalu langsung saya tenun untuk pajangan,” kenangnya sambil tertawa kecil. “Kadang saya juga heran kok bisa cepat.”
Kreativitas Erna berkembang seiring perjalanan waktu. Ia memadukan motif awan berarak dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan identitas Melayu Mempawah.
Kain-kain hasil karyanya kini tak hanya menjadi sarung tradisional, tetapi juga diolah menjadi busana, tanjak Melayu, syal, hingga dekorasi interior.
Di tengah derasnya produk tekstil pabrikan, Erna memilih bertahan dengan cara tradisional. Setiap proses dilakukan penuh ketelitian, mulai dari pemintalan benang, pengikatan motif, pencelupan warna, penjemuran, hingga penenunan.
“Kalau salah sedikit saja, hasilnya tidak sempurna,” katanya.
Dulu, proses pewarnaan benang harus dilakukan hingga ke Sambas atau Pontianak karena keterbatasan alat.
Kebangkitan tenun Mempawah juga mendapat dukungan pembinaan dari sektor perbankan melalui program sosial perusahaan.
Para penenun memperoleh tambahan alat tenun, pelatihan, hingga pembangunan galeri sehingga produksi kini dapat dilakukan langsung di kampung tersebut.
Di Jalan Sungai Pandan, gapura bertuliskan “Teras BRI Nusantara Kampung Wisata Budaya Tenun” berdiri menyambut pengunjung.
Di dalam kawasan itu, denting alat tenun terdengar hampir sepanjang hari, menjadi irama khas kampung budaya tersebut.
Bagi wisatawan yang datang, Kampung Wisata Budaya Tenun Mempawah menawarkan pengalaman yang berbeda.
Mereka tidak hanya membeli kain, tetapi juga melihat langsung bagaimana selembar tenun diciptakan dengan kesabaran dan ketelitian tinggi.
Erna kerap menjelaskan proses demi proses kepada pengunjung. Dengan penuh semangat ia memperlihatkan alat-alat tradisional yang digunakan, mengenalkan filosofi motif, hingga bercerita tentang sejarah tenun Melayu.
“Kain tenun punya filosofi luhur yang harus dijaga bara apinya,” katanya. “Supaya generasi mendatang tidak lupa akar budayanya.”
Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha Erna terpuruk. Pesanan menurun drastis selama hampir tiga tahun. Omzet puluhan juta rupiah menghilang begitu saja. Namun perempuan itu tidak menyerah.
Perlahan, pesanan mulai kembali berdatangan, termasuk dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Nama tenun awan berarak kembali dikenal hingga ke negeri seberang.
Di Mempawah sendiri, motif awan berarak kini menjadi kebanggaan daerah. Pemerintah kabupaten bahkan menjadikannya salah satu motif seragam ASN dan sekolah.
Berbagai lomba desain busana awan berarak rutin digelar untuk mendorong kreativitas masyarakat.
Bagi Erna, hal itu menjadi pertanda bahwa tradisi belum kehilangan tempat di hati masyarakat.
Menjelang sore, cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah dinding rumah galeri miliknya. Bunyi alat tenun masih terdengar ritmis, seperti detak waktu yang terus bergerak menjaga warisan leluhur tetap hidup.
Erna kembali menarik benang dengan hati-hati. Senandung Melayu yang sejak tadi ia nyanyikan belum berhenti.
Di tangannya, kain awan berarak perlahan selesai ditenun, membentang seperti kisah panjang tentang perempuan penjaga tradisi dari Mempawah yang memilih setia merawat jejak budaya abad ke-17.
Dan selama denting alat tenun itu masih terdengar di Sungai Pandan, selama itu pula napas budaya Melayu Mempawah akan terus hidup. (aep mulyanto)