PONTIANAK, SP - Aroma bawang tumis bercampur rempah memenuhi ruangan sederhana di kawasan Jalan Sawo Jalur 4, Kota Pontianak.
Di sela suara ulekan bumbu dan dentingan peralatan dapur, canda tawa para perempuan terdengar hangat, menandai semangat kebersamaan yang tumbuh di Rumah Kreatif Bougenville.
Pagi itu, beberapa anggota komunitas tampak sibuk menyiapkan aneka lauk dan sayuran untuk pesanan makan siang dari sejumlah kantor dan pelanggan pribadi yang tengah menggelar kegiatan maupun hajatan keluarga.
Ada yang meracik sambal, mengemas nasi kotak, hingga memastikan setiap hidangan tersaji rapi sebelum diantar.
Bagi mereka, dapur kecil itu bukan sekadar tempat memasak. Rumah Kreatif Bougenville menjadi ruang bertumbuh bagi perempuan untuk belajar, berkarya, dan memperkuat ekonomi keluarga.
Seluruh kegiatan para ibu tadi selalu dipantau langsung oleh Ketua Wanita Kreatif Bougenville (WKB), Lusiana, yang mengatakan komunitas tersebut dibentuk sebagai wadah pemberdayaan perempuan agar memiliki kesempatan mengembangkan usaha rumahan, khususnya di bidang makanan olahan dan berbagai produk kreatif lainnya.
“Awalnya hanya kumpul biasa, kemudian berkembang menjadi kegiatan produktif. Kami ingin ibu-ibu di Pontianak punya ruang untuk belajar usaha, saling mendukung, dan bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Menurut Lusiana, sebagian anggota sebelumnya hanya mengerjakan aktivitas rumah tangga sehari-hari. Namun melalui komunitas itu, mereka mulai belajar membuat produk makanan, menerima pesanan katering, hingga memasarkan hasil usaha secara mandiri.
“Yang paling penting bukan hanya penghasilan, tetapi rasa percaya diri perempuan untuk terus berkarya. Di sini kami belajar bersama,” katanya.
Tak hanya bergerak di bidang kuliner, para anggota WKB juga aktif menghasilkan berbagai karya kreatif seperti kerajinan tangan, hantaran dan parcel, aneka kue tradisional, keripik olahan rumahan, hingga produk fesyen sederhana hasil keterampilan anggota.
Beberapa produk bahkan mulai dikenal dalam kegiatan pameran UMKM lokal dan mendapat apresiasi dari masyarakat.
Komunitas ini juga rutin mengadakan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi anggota, mulai dari pelatihan memasak, pengemasan produk, pemasaran digital, hingga pelatihan kerajinan kreatif yang bertujuan meningkatkan kualitas usaha rumahan para ibu-ibu.
Suasana kebersamaan semakin terasa melalui berbagai aktivitas sosial dan pembinaan yang dilakukan secara rutin.
Selain menjadi wadah kreativitas perempuan, kelompok ini juga aktif menggelar senam sehat bersama untuk menjaga kebugaran anggota, pengajian rutin sebagai sarana mempererat silaturahmi dan pembinaan rohani, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Tidak jarang, anggota komunitas juga terlibat dalam kegiatan berbagi kepada warga sekitar, mendukung acara lingkungan, serta mendampingi para lansia melalui Forum Lansia Bougenville Ceria agar tetap aktif, sehat, dan produktif di usia senja.
“Di sini bukan hanya belajar usaha, tetapi juga belajar menjaga kebersamaan. Kami saling menguatkan seperti keluarga sendiri,” ungkap salah seorang anggota sambil menyiapkan pesanan katering.
Di antara para anggota, kisah Ayu Lestari menjadi salah satu cerita yang menginspirasi. Perempuan sederhana itu mengaku awalnya hanya membantu ekonomi keluarga dengan menerima pesanan kecil-kecilan dari rumah.
Sang suami bekerja sebagai penjaga malam di sebuah komplek perumahan dengan penghasilan terbatas.
Namun setelah bergabung dengan WKB, Ayu mulai percaya diri mengembangkan usaha kuliner rumahan.
Ia belajar memasak dalam jumlah besar, mengelola pesanan, hingga memahami cara memasarkan produk secara lebih luas.
“Dulu kami hanya berpikir cukup untuk makan sehari-hari. Tapi setelah ikut komunitas ini, saya mulai berani menerima pesanan dan belajar mengembangkan usaha,” tuturnya.
Perlahan, hasil usaha katering dan makanan olahan yang dijalankannya mulai membantu perekonomian keluarga.
Dari keuntungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Ayu bersama suaminya kini mampu mencicil rumah sederhana untuk keluarga mereka.
Bahkan, mereka juga berhasil membeli kendaraan roda dua yang digunakan sebagai alat transportasi sekaligus mendukung aktivitas usaha.
“Saya bersyukur bisa membantu suami. Sekarang kami punya harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan anak-anak juga semakin semangat belajar,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Karya kreatif Komunitas WKB semakin bermanfaat, tatkala hadirnya akses pembiayaan usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI turut membantu pengembangan usaha para anggota. Dengan tambahan modal, pelaku usaha rumahan dapat membeli bahan baku, perlengkapan memasak, hingga meningkatkan kapasitas produksi.
Kepala BRI Unit Nata Kusuma Pontianak, Arfiah Zawawi, mengatakan KUR menjadi salah satu solusi bagi pelaku UMKM perempuan yang ingin berkembang namun terkendala modal usaha.
“Kami melihat ibu-ibu di komunitas ini memiliki semangat usaha yang luar biasa. Melalui KUR BRI, kami berharap usaha makanan olahan mereka bisa semakin berkembang dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ari Munandar, sang Mantri KUR BRI, yang menilai perempuan memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi keluarga melalui usaha mikro.
“Usaha kecil seperti katering rumahan punya potensi besar jika dikelola bersama dan konsisten. Kami mendukung agar mereka naik kelas,” katanya.
Di tengah aktivitas memasak yang tak pernah benar-benar berhenti, senyum para anggota Wanita Kreatif Bougenville menjadi gambaran sederhana tentang perempuan-perempuan yang memilih terus bergerak. Dari dapur kecil di sudut Pontianak, mereka merangkai harapan melalui cita rasa, kebersamaan, dan semangat untuk mandiri.
Kini, Rumah Kreatif Bougenville bukan hanya tempat berkumpul, melainkan ruang lahirnya mimpi-mimpi baru perempuan Pontianak untuk tumbuh bersama dan memberi arti lebih bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.
Komunitas Wanita Kreatif Bougenville di Pontianak juga dikenal aktif sebagai wadah pemberdayaan perempuan. Anggotanya kerap mengharumkan nama daerah melalui berbagai penghargaan dan apresiasi dalam kegiatan UMKM maupun kreativitas perempuan.
Semangat berkarya yang terus dijaga menjadi bukti bahwa perempuan mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus penjaga keharmonisan keluarga melalui kreativitas dan kebersamaan. (aep mulyanto)