PONTIANAK, SP - Pagi itu, matahari baru saja merayap naik di langit Pontianak ketika lorong-lorong Kampus Politeknik Tonggak Equator mulai dipenuhi langkah mahasiswa.
Udara masih lembap selepas embun subuh, namun dari salah satu ruang laboratorium komputer, kehidupan sudah lebih dulu menyala. Bukan suara gaduh yang terdengar.
Melainkan bunyi ketikan keyboard yang bersahutan, cepat, ritmis, seolah menjadi bahasa baru anak-anak muda yang sedang mengejar masa depan.
Di ruangan itu, deretan monitor baru memantulkan cahaya biru ke wajah-wajah penuh harapan. Mata mereka fokus menatap layar.
Jemari bergerak hati-hati menyusun baris demi baris kode program. Sesekali terdengar suara dosen memberi arahan, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian yang dipenuhi semangat belajar.
Bagi sebagian orang, komputer mungkin hanya benda elektronik biasa. Namun bagi mahasiswa Polteq, layar-layar itu adalah jendela menuju mimpi.
Ada mimpi menjadi programmer. Ada yang ingin menjadi analis data. Ada pula yang diam-diam menyimpan cita-cita membangun perusahaan teknologi sendiri agar suatu hari nanti bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang di kampung halamannya.
Dulu, suasana belajar tak selalu semudah itu. Mahasiswa harus bergantian menggunakan perangkat praktik.
Pendingin ruangan kadang tak bekerja optimal. Jaringan komputer sering tersendat di tengah proses pembelajaran.
Tidak jarang mahasiswa harus menunggu lama hanya untuk mencoba satu program sederhana.
Kini keadaan mulai berubah. Bantuan 25 unit PC komputer melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari BRI Cabang Pontianak seperti membawa napas baru ke ruang belajar itu.
Laboratorium terasa lebih hidup. Pendingin ruangan bekerja stabil. Jaringan komputer tersambung lancar. Para mahasiswa bisa langsung mempraktikkan materi tanpa harus menunggu giliran terlalu lama.
Di balik bantuan senilai Rp250 juta itu, tumbuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar fasilitas: rasa percaya diri.
Di antara mahasiswa yang duduk serius di depan layar monitor itu, ada nama Ardius Kohan.
Mahasiswa semester akhir itu datang dari Kampung Empaong, sebuah kampung di Desa Tinting Boyok, pedalaman Kabupaten Sekadau.
Baginya, perjalanan menuntut ilmu di kota bukan sekadar untuk meraih gelar. Ia membawa harapan kampung halaman.
Ardius masih mengingat bagaimana akses teknologi di desanya belum sepenuhnya berkembang.
Banyak anak muda di kampungnya yang belum akrab dengan dunia digital, sementara perkembangan zaman bergerak semakin cepat.
Karena itulah ia bercita-cita menjadi sarjana ilmu komputer agar kelak bisa kembali ke tanah kelahirannya dan membantu masyarakat memahami teknologi.
“Kalau nanti saya sudah selesai kuliah, saya ingin pulang ke kampung. Saya ingin berbagi ilmu tentang komputer dan digitalisasi supaya masyarakat di desa kami juga bisa berkembang dan tidak tertinggal,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ia membayangkan suatu hari nanti anak-anak muda di Kampung Empaong bisa belajar komputer tanpa harus pergi jauh ke kota.
Ia ingin membantu pengelolaan digitalisasi desa, mulai dari administrasi, pengembangan informasi desa, hingga membuka peluang usaha berbasis teknologi bagi masyarakat pedalaman.
Di dalam dirinya tumbuh keyakinan sederhana: ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus pulang.
Kini, dengan fasilitas laboratorium yang lebih baik, Ardius merasa memiliki kesempatan lebih besar untuk mengasah kemampuan.
Ia tak lagi sekadar belajar teori. Bersama teman-temannya, ia mulai memahami pemrograman, pengolahan data, hingga pengembangan sistem digital yang suatu hari ingin ia terapkan di kampung halamannya.
Di sudut ruangan lain, beberapa mahasiswi tampak serius mengerjakan proyek aplikasi sederhana.
Wajah mereka sesekali tegang ketika program mengalami error, lalu berubah menjadi tawa kecil saat berhasil dijalankan. Tidak ada rasa minder berada di dunia teknologi yang dikenal penuh persaingan.
Yang ada hanyalah tekad untuk membuktikan bahwa anak-anak muda dari daerah juga mampu berdiri sejajar.
Dosen di depan kelas terus menjelaskan tentang pengembangan sistem digital.
Kalimat demi kalimat mengalir bersama suara pendingin ruangan dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.
Suasana kuliah berlangsung tertib, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan bara semangat yang menyala.
Mereka sadar, dunia sedang berubah cepat. Dan mereka tak ingin tertinggal.
Branch Office Head BRI Pontianak, Ardika Prasetyo, mengatakan bantuan TJSL berupa 25 unit komputer senilai Rp250 juta diberikan untuk mendukung peningkatan kemampuan mahasiswa di bidang teknologi.
“Bantuan ini bukan hanya soal pengadaan fasilitas kampus. Di balik layar-layar komputer yang menyala itu, ada harapan agar anak-anak muda Kalbar memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang dan bersaing,” katanya.
Namun sesungguhnya, cerita terbesar bukanlah tentang angka bantuan atau jumlah perangkat yang diberikan. Cerita itu ada pada anak-anak muda di dalam ruang laboratorium tersebut.
Pada mata mereka yang berbinar saat berhasil menjalankan program pertama. Pada diskusi kecil tentang aplikasi impian yang ingin mereka ciptakan.
Pada keyakinan sederhana bahwa ilmu yang dipelajari hari ini bisa mengubah hidup mereka di masa depan.
Di ruang kelas yang tenang itu, suara keyboard bukan lagi sekadar bunyi ketikan. Ia telah menjelma menjadi suara harapan.
Suara tentang generasi muda yang tidak ingin hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus transformasi digital. Generasi yang ingin ikut membangun bangsa lewat inovasi, kreativitas, dan teknologi.
Dan dari sudut kecil kampus vokasi di Pontianak itu, mimpi-mimpi besar mulai mengetuk masa depan, termasuk mimpi seorang anak muda dari pedalaman Sekadau yang ingin pulang membawa ilmu, agar cahaya digitalisasi juga menyala di kampungnya sendiri. (aep mulyanto)