SAMBAS, SP - Di tepian Sungai Sambas, bunyi kayu alat tenun berdetak perlahan. Irama itu terdengar seperti napas panjang sebuah tradisi yang menolak hilang ditelan zaman.
Di sebuah rumah produksi sederhana di Dusun Semberang, para perempuan duduk tekun di depan alat tenun bukan mesin.
Jemari mereka bergerak lincah menyusun benang demi benang, menghadirkan motif yang bukan sekadar corak kain, melainkan kisah hidup orang Melayu Sambas yang diwariskan turun-temurun.
Di tempat inilah, Sentra IKM Tenun Koperasi Rantai Mawar menjaga denyut warisan nenek moyang tetap hidup.
Bagi masyarakat Sambas, tenun bukan sekadar busana adat. Ia adalah identitas, kehormatan, dan ingatan kolektif tentang budaya yang telah tumbuh sejak abad ke-17.
Kain tenun Sambas, atau lebih dikenal sebagai Songket Sambas, menjadi salah satu mahakarya wastra Nusantara yang hingga hari ini masih ditenun secara tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Benang emas dan perak yang berkilau di atas kain menghadirkan kesan mewah sekaligus anggun. Namun keunikan tenun Sambas tidak berhenti di situ.
Di bagian pinggir kain terdapat bidang putih polos yang menjadi penanda khas hasil tenunan para penenun Sambas. Sebuah “tanda tangan budaya” yang membedakannya dari songket daerah lain di Nusantara.
Motif-motifnya lahir dari alam dan kehidupan masyarakat pesisir. Ada Pucuk Rebung yang melambangkan harapan dan kemakmuran, Bunga Tanjung dan Melur yang merepresentasikan kelembutan serta kesabaran, hingga motif Angin Putar dan Bintang Beraleh yang terinspirasi dari kekayaan alam Kalimantan Barat.
Setiap motif mengandung doa. Setiap helaian menyimpan cerita. Dan di balik setiap cerita itu, ada perempuan-perempuan yang menjaga tradisi agar tetap bernapas.
Dari Kampung Semberang ke Dunia
Koperasi Rantai Mawar kini menjadi salah satu pusat pelestarian tenun Sambas yang paling aktif di Kabupaten Sambas.
Tidak hanya memproduksi kain, koperasi ini juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi perempuan, tempat belajar generasi muda, sekaligus benteng terakhir menjaga warisan budaya Melayu Sambas.
Ketua Koperasi Rantai Mawar, Nurlela, percaya bahwa tenun Sambas bukan sekadar kerajinan tangan. Baginya, tenun adalah wajah budaya yang memperlihatkan jati diri masyarakat Sambas kepada dunia.
Keyakinan itu terbukti. Pada Osaka Expo 2025, tenun Sambas terpilih sebagai salah satu dari tiga tenun terbaik yang mewakili Indonesia. Dipilih langsung oleh Cita Tenun Indonesia (CTI), karya tenun dari Sambas tampil di panggung internasional memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Barat kepada dunia.
Dua motif yang ditampilkan adalah Motif Tabur Tiga Suku dan Motif Kelopak. Keduanya menjadi simbol harmoni keberagaman masyarakat Sambas, sekaligus menunjukkan kerumitan teknik tenun yang diwariskan secara turun-temurun.
“Tenun Sambas bukan hanya karya tradisi, tapi sudah menjadi representasi kekuatan budaya yang diakui dunia,” ujar Nurlela.
Perjalanan menuju pengakuan dunia itu bukanlah sesuatu yang instan. Sebelumnya, tenun Sambas telah menerima berbagai penghargaan internasional, mulai dari penghargaan UNESCO tahun 2012 atas kontribusinya dalam pelestarian budaya wastra Indonesia, penghargaan dari World Craft Council (WCC) tahun 2014 sebagai kerajinan unggulan Asia.
Hingga kemudian meraih pula penghargaan “Best of the Best” UNESCO 2024 berkat inovasi penggunaan serat bambu alami yang dipadukan dengan benang katun.
Pada tahun 2025, tenun Sambas kembali memperoleh pengakuan nasional melalui program One Village One Product (OVOP) dengan raihan Bintang Dua Nasional, menjadikannya salah satu produk desa terbaik di Indonesia.
Namun di balik segala pencapaian itu, para penenun di Sambas tetap bekerja dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu: duduk bersila, menggulung benang, menghitung helai demi helai, dan menenun dengan kesabaran yang nyaris tak ditemukan di dunia serba cepat hari ini.
Sahidah, Penjaga Motif-Motif Lama
Jika berbicara tentang tenun Sambas, ujar Nurlela, tidak bisa lepas dari nama nenek Sahidah, sang penjaga eksistensi Kain Tenun Sambas dengan sejarah panjang pelestariannya.
Perempuan berusia 83 tahun itu dikenal sebagai legenda hidup tenun Sambas. Sejak kecil, ia telah akrab dengan bunyi alat tenun di Kampung Semberang, pusat tenun songket di tepian Sungai Sambas.
“Saya belajar langsung dari beliau dan ia pun belajar langsung dari orang tuanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar,” ujar Nurlela.
“Dulu belajar langsung praktik, tidak ada bukunya,” kenangnya.
Dari mengenal benang hingga memahami rumitnya pola motif, semua dipelajari secara turun-temurun. Tidak ada teori tertulis. Yang ada hanyalah ketelatenan dan ketekunan.
Rumah Sahidah kini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga galeri budaya bernama “Tenun Songket Sambas Sahidah”.
Di dinding ruang tamunya tergantung piagam penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2008 yang menganugerahinya sebagai Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya.
Di ruangan itu pula tersimpan kain-kain tenun berusia ratusan tahun peninggalan keluarganya.
“Itu tenun ikat bikinan neneknya dulu,” kata Nurlela pelan. Bagi Nurlela, Sahidah punya peran sangat besar menjaga tenun yang berarti juga menjaga jejak para leluhur.
Nenek Sahidah tidak berhenti pada pelestarian motif lama. Dengan ketelitian luar biasa, ia juga menciptakan motif-motif baru yang terinspirasi dari tanaman dan bunga di tepian Sungai Sambas. Salah satunya motif Daun Gali yang terinspirasi dari tanaman pakis.
“Setiap rancangan motif ia gambar sendiri di atas kertas millimeter blok. Garis demi garis dibuat hati-hati karena kesalahan kecil akan mengubah keseluruhan pola tenun,” tuturnya.
Lebih dari 20 motif klasik dan motif baru berhasil ia arsipkan. Sahidah juga membuka ruang belajar bagi anak-anak dan remaja putri di kampungnya. Dapur rumahnya pernah diubah menjadi tempat belajar menenun.
Hingga kini, ia masih terus mengajarkan keterampilan itu kepada generasi muda.
“Jangan sampai anak muda sekarang tidak kenal tenun. Ini warisan budaya, harus dilestarikan,” demikian Nenek Sahidah berpesan.
“Semangat itulah yang kini diwariskan kepada generasi penerus, termasuk saya dan rekan-rekan yang ada saat ini,” papar Nurlela dan para anggota Koperasi Rantai Mawar.
Menenun Masa Depan
Di tengah gempuran industri tekstil modern dan budaya instan, mempertahankan tenun tradisional bukan pekerjaan mudah.
Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghasilkan satu lembar kain. Belum lagi tantangan regenerasi penenun yang semakin berat.
Karena itu, Sekretaris Koperasi Rantai Mawar, Mutia, berharap generasi muda tidak malu mengenakan tenun Sambas dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pengakuan dunia terhadap tenun Sambas seharusnya menjadi alasan untuk semakin bangga terhadap budaya sendiri.
“Tidak ada salahnya menjadikan tenun sebagai identitas sehari-hari atau bahkan karier,” ujarnya.
Harapan itu perlahan mulai tumbuh. Dukungan Pemerintah Kabupaten Sambas turut membantu keberlangsungan industri tenun melalui pelatihan, bantuan alat produksi, hingga berbagai event promosi budaya.
Kebijakan penggunaan pakaian tenun bagi aparatur sipil negara pada hari-hari tertentu juga ikut mendongkrak penggunaan tenun di masyarakat.
Kini, kain tenun Sambas tidak hanya dikenakan dalam upacara adat atau pernikahan Melayu.
Ia telah hadir di panggung-panggung mode, pameran internasional, hingga menjadi cenderamata kehormatan bagi tamu penting yang datang ke Sambas.
Perlahan, kondisi para penenun mulai membaik setelah mendapat dukungan pembinaan dan bantuan peralatan. Pelatihan, tambahan alat tenun, hingga pembangunan galeri membuat proses produksi kini bisa dilakukan langsung di kampung tersebut.
Mendunianya Kain Tenun Sambas dengan tradisi ratusan tahun lalu, juga mendapat dukungan pembinaan dari sektor perbankan melalui program sosial perusahaan.
Para penenun memperoleh tambahan alat tenun, pelatihan, hingga pembangunan galeri sehingga produksi kini dapat dilakukan langsung di kampung tersebut.
Ada pendampingan langsung dari Tumah BUMN BRI, yang memberikan banyak kesempatam untuk berkembang.
Dari rumah-rumah kayu sederhana di tepian sungai, kain tenun Sambas melangkah jauh menembus batas negara.
Namun sesungguhnya, yang sedang dijaga para penenun bukan hanya kain. Mereka sedang menjaga ingatan. Menjaga nilai hidup. Menjaga kisah tentang siapa mereka sebenarnya.
Dan selama bunyi alat tenun itu masih terdengar di Kampung Semberang, selama tangan-tangan perempuan Sambas masih sabar merangkai benang, warisan nenek moyang itu akan terus hidup, menyala dalam setiap helai songket yang ditenun dengan cinta. (aep mulyanto)