Opini post authorKiwi 22 Mei 2026

IAIN Pontianak Belum Selesai Dibaca

Photo of IAIN Pontianak Belum Selesai Dibaca

Oleh: Syamsul Kurniawan / Perancang Lambang Kampus IAIN Pontianak

ADA sembilan nama yang mendaftarkan diri sebagai calon Rektor IAIN Pontianak. Di permukaan, ini tampak seperti prosedur biasa dalam pergantian kepemimpinan kampus. Namun sesungguhnya, di balik daftar nama itu, ada sesuatu yang sedang dipertaruhkan: cara membaca masa depan sebuah institusi.

Sebab kampus bukan sekadar gedung dan jabatan. Ia adalah himpunan ingatan, arah, dan imajinasi tentang masyarakat yang ingin dibentuknya. Karena itu, setiap pergantian rektor sesungguhnya adalah pergantian tafsir tentang masa depan.

IAIN Pontianak hari ini berdiri dalam situasi yang tidak sederhana. Ada harapan agar kampus ini segera bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri. Tetapi perubahan nama tidak otomatis menghadirkan perubahan peradaban akademik.

Banyak perguruan tinggi di negeri ini berhasil mengganti nomenklatur, tetapi gagal membangun identitas intelektual. Mereka membesar secara administratif, tetapi mengecil secara gagasan. Mereka tampak modern di luar, tetapi kehilangan arah di dalam.

Karena itu, pertanyaan penting dalam kontestasi rektor kali ini bukanlah siapa yang paling populer atau paling kuat jejaring politiknya. Pertanyaannya jauh lebih mendasar: apakah para kandidat benar-benar membaca IAIN Pontianak sebagai ruang sejarah dan ruang peradaban?

Henri Lefebvre (1974) pernah mengatakan bahwa ruang tidak pernah netral. Ruang diproduksi oleh relasi sosial, kekuasaan, simbol, dan kepentingan manusia. Kampus juga demikian. Ia tidak hadir begitu saja.

Universitas adalah ruang yang diproduksi terus-menerus oleh visi pengetahuan. Karena itu, kampus yang kehilangan imajinasi akhirnya hanya menjadi birokrasi pendidikan. Ia hidup secara administratif, tetapi mati secara intelektual.

Di titik inilah saya merasa IAIN Pontianak belum selesai dibaca. Terlalu banyak potensi yang belum sungguh-sungguh diterjemahkan menjadi identitas akademik. Terlalu banyak kekayaan sosial dan sejarah yang baru berhenti sebagai dekorasi seremonial.

Padahal Pontianak bukan kota biasa. Ia berdiri tepat di garis khatulistiwa, di lintang nol derajat. Satu-satunya kota di Indonesia yang dilintasi garis ekuator.

Posisi geografis itu sering disebut dalam pidato dan brosur kampus. Tetapi sejauh mana ia benar-benar diolah menjadi proyek pengetahuan? Di sinilah masalahnya. Kita terlalu sering menyebut simbol, tetapi jarang mengembangkannya menjadi arah intelektual.

Pontianak seharusnya dapat dibaca sebagai ruang strategis dunia tropis. Kota ini berada di jalur sungai, perdagangan, migrasi, dan perjumpaan budaya sejak ratusan tahun lalu. Ia bukan kota yang lahir dari ruang kosong.

Di tengah kota itu, Sungai Kapuas mengalir seperti nadi panjang sejarah. Sungai ini bukan hanya bentang alam. Ia adalah jalur distribusi gagasan, perdagangan, agama, dan perpindahan manusia.

Pontianak juga menjadi miniatur etnis dan agama-agama. Melayu, Dayak, Tionghoa, Madura, Jawa, Bugis, Banjar, dan banyak komunitas lain hidup dalam ruang sosial yang terus bergerak dan bernegosiasi.

Karena itu, IAIN Pontianak sesungguhnya memiliki laboratorium sosial yang sangat kaya. Kampus ini berada di tengah ruang multikultural yang hidup. Persoalannya adalah apakah ruang itu dibaca sebagai potensi epistemologis atau hanya dianggap latar belakang geografis biasa.

Selama ini, banyak perguruan tinggi Islam sibuk mengejar jargon modernitas. Semua ingin tampak digital, futuristik, dan global. Istilah smart campus dan artificial intelligence dipasang di mana-mana seolah modernitas hanya dapat dibuktikan melalui teknologi.

Padahal universitas besar tidak lahir hanya dari perangkat digital. Ia lahir dari kemampuan membaca masyarakatnya sendiri secara mendalam. Kampus yang gagal membaca tanah tempat ia berpijak biasanya hanya menjadi peniru gagasan orang lain.

IAIN Pontianak seharusnya tidak menjadi kampus yang latah. Kampus ini memiliki peluang besar membangun identitas akademik berbasis khatulistiwa, masyarakat sungai, multikulturalisme, dan jaringan Islam Melayu-Borneo.

Di titik ini, sejarah ulama lokal menjadi sangat penting. Sebab identitas kampus tidak dibangun hanya oleh gedung dan akreditasi, tetapi juga oleh memori kolektif masyarakatnya.

Nama Sayyid Husein Al-Qadrie adalah salah satu fondasi sejarah itu. Ia bukan sekadar tokoh agama, tetapi bagian dari jaringan intelektual dan politik Islam yang membentuk Pontianak sejak abad ke-18.

Lalu ada Syekh Ahmad Khatib As-Sambasy yang pengaruhnya melampaui batas Kalimantan Barat. Ia adalah salah satu simpul penting jaringan intelektual dunia Melayu-Islam.

Ada pula Haji Ismail Mundu yang meninggalkan karya-karya penting dalam bidang fikih dan amalan keagamaan. Tradisi intelektual Islam Kalimantan Barat sesungguhnya tidak miskin.

Namun salah satu figur yang juga menarik tetapi jarang disebut adalah Tuan Guru Haji Thaha. Ia belajar di Kelantan selama bertahun-tahun, lalu kembali membangun ruang pendidikan Islam di Banjar Serasan, Pontianak Timur.

Dari surau kecil di tepian Sungai Kapuas itu, Tuan Guru Haji Thaha membangun jaringan pengajaran yang melahirkan banyak ulama penting Pontianak. Ia tidak memiliki kampus besar, tetapi pengaruh intelektualnya melampaui ruang fisik suraunya.

Dalam perspektif Henri Lefebvre (1974), surau Tuan Guru Haji Thaha adalah lived space. Ia merupakan ruang hidup yang dipenuhi pengalaman sosial, simbol spiritual, dan reproduksi pengetahuan masyarakat.

Islam di ruang itu tidak hadir sebagai proyek formal negara. Ia tumbuh melalui hubungan guru dan murid, melalui perjalanan sungai, dan melalui kehidupan kampung yang perlahan membentuk peradaban.

Merebut Masa Depan
Sampai di titik ini, pertanyaan tentang rektor sebenarnya mulai menemukan maknanya yang lebih dalam. Kontestasi ini bukan sekadar memilih administrator kampus. Ini adalah perebutan arah tentang bagaimana masa depan IAIN Pontianak akan diproduksi.

Henri Lefebvre menyebut bahwa ruang selalu menjadi arena kontestasi. Ada kepentingan yang ingin menjadikan ruang sekadar instrumen birokrasi dan ekonomi. Tetapi ada pula yang ingin menjadikannya ruang hidup yang menyimpan identitas, ingatan, dan harapan masyarakat.

IAIN Pontianak hari ini berada di tengah tarikan itu. Di satu sisi, kampus dituntut mengikuti standar modernitas global. Di sisi lain, ia memiliki tanggung jawab menjaga akar sejarah dan ruang sosial yang membentuknya sejak awal.

Karena itu, rektor ke depan tidak cukup hanya mahir mengelola administrasi, akreditasi, dan proyek kelembagaan. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kampus membutuhkan pemimpin yang mampu mengubah sejarah sosial Pontianak menjadi energi pengetahuan.

Merebut masa depan berarti berani menentukan identitas akademik sendiri. Artinya, IAIN Pontianak tidak terus-menerus menjadi konsumen gagasan dari luar, tetapi mulai memproduksi perspektifnya sendiri tentang Islam, masyarakat sungai, multikulturalisme, dan kawasan Borneo.

Di sinilah pendekatan sistem Jasser Auda (2008) menjadi relevan. Auda menolak cara berpikir tertutup dan parsial. Ia mendorong pendekatan terbuka, multidimensi, dan berbasis maqasid agar Islam mampu berdialog dengan realitas sosial yang terus berubah.

Dalam konteks kampus, pendekatan itu berarti ilmu agama tidak lagi dipisahkan secara kaku dari antropologi, ekologi, sejarah, ekonomi, teknologi, dan budaya. Sebab masyarakat Kalimantan Barat sendiri hidup dalam realitas yang multidimensi.

Karena itu, perebutan masa depan IAIN Pontianak sesungguhnya adalah perebutan tentang keberanian membaca ruang secara lebih luas. Kampus ini akan bergerak ke mana: menjadi birokrasi akademik biasa, atau menjadi pusat produksi pengetahuan Islam kawasan khatulistiwa.

Salah satu murid penting Tuan Guru Haji Thaha adalah KH. Abdulrani Mahmud Al-Yamani. Dari tangan gurunya itu, Abdulrani Mahmud tumbuh menjadi ulama besar, ahli fikih, dan tokoh ilmu falak terkemuka di Kalimantan Barat.

Karyanya tentang “Jadwal Shalat Sepanjang Masa” menunjukkan bahwa tradisi Islam lokal sesungguhnya mampu berdialog dengan astronomi dan kebutuhan masyarakat modern. Di sini, Islam tidak anti terhadap ilmu pengetahuan.

Yang menarik, Abdulrani Mahmud Al-Yamani bukan hanya tokoh surau. Ia juga menjadi jembatan penting menuju lahirnya pendidikan tinggi Islam modern di Pontianak.

Ketika gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam mulai berkembang pada awal 1960-an, Abdulrani Mahmud dilibatkan oleh Yayasan Sadar yang digerakkan oleh tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan seperti A. Muis Amin.

Sebelum Fakultas Tarbiyah berdiri, Abdulrani Mahmud telah mengajar di SPIAIN Pontianak sejak 1962. Dari ruang pendidikan itulah calon mahasiswa awal perguruan tinggi Islam dipersiapkan.

Ketika Fakultas Tarbiyah berdiri pada Agustus 1965, Abdulrani Mahmud menjadi salah satu dosen perintis dan tenaga pengajar utama hingga 1968. Ia membawa tradisi surau masuk ke ruang akademik modern.

Di titik ini terlihat bahwa sejarah awal IAIN Pontianak lahir dari perjumpaan antara "ruang negara" dan "ruang masyarakat". Negara menghadirkan bentuk kelembagaan formal, tetapi ruh sosialnya datang dari ulama kampung dan jaringan pendidikan tradisional.

Di sekitar Tuan Guru Haji Thaha juga hadir nama-nama ulama lokal seperti Tuan Guru Haji Ismail Jabal. Keduanya membentuk poros pengajaran Islam tradisional Pontianak pada masanya.

Ada pula H. Ismail Al-Kelantani yang memperlihatkan kuatnya jaringan intelektual Pontianak dengan Kelantan dan dunia Melayu. Artinya, Islam Pontianak sejak awal tumbuh dalam arus kosmopolitan.

Ketika jumlah murid semakin banyak, Tuan Guru H. Muhammad Arsyad membangun surau baru di sebelah hulu surau Tuan Guru Haji Thaha. Dari sini tampak bahwa perkembangan Islam Pontianak adalah kerja kolektif para ulama kampung.

Karena itu, IAIN Pontianak sebenarnya memiliki modal sejarah dan sosial yang sangat besar. Persoalannya, modal itu belum sepenuhnya dibaca sebagai fondasi pengembangan kampus.

Padahal kampus ini sudah memiliki Pusat Studi Islam Borneo. Kehadiran pusat studi ini penting karena menunjukkan adanya kesadaran akademik bahwa Borneo memiliki khazanah Islam yang khas dan kaya.

Namun keberadaan pusat studi itu sesungguhnya menyimpan peluang besar yang masih dapat terus diperluas. Lembaga ini memiliki potensi strategis untuk menjadi salah satu simpul utama pengkajian khazanah Islam Borneo, baik dalam konteks Kalimantan Barat maupun Pulau Borneo secara lebih luas.

Ke depan, pusat studi ini dapat semakin diperkuat sebagai ruang akademik yang menghubungkan penelitian tentang manuskrip ulama Kalimantan, jaringan tarekat, tradisi surau masyarakat sungai, relasi agama dan budaya lokal, hingga sejarah Islam lintas batas yang sejak lama mempertemukan Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Hadramaut, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Dengan posisi geografis Pontianak yang berada di kawasan khatulistiwa dan memiliki sejarah panjang perjumpaan etnis serta agama, Pusat Studi Islam Borneo sebenarnya berpeluang tumbuh menjadi pusat produksi pengetahuan yang khas. Bukan hanya penting bagi Kalimantan Barat, tetapi juga relevan dalam percakapan akademik tentang Islam kawasan tropis, masyarakat sungai, dan Islam multikultural di tingkat internasional.

Karena itu, rektor ke depan tidak cukup hanya menjadi administrator kampus. Ia harus menjadi pembaca ruang. Ia harus mampu membaca Pontianak bukan hanya sebagai kota, tetapi sebagai peradaban sungai, pertemuan etnis, dan simpul Islam kawasan khatulistiwa.

Sebab pada akhirnya, kampus yang besar bukanlah kampus yang paling banyak gedungnya. Kampus besar adalah kampus yang mampu mengubah ruang sosial di sekitarnya menjadi sumber pengetahuan.

Dan mungkin, di situlah persoalan terbesarnya: “IAIN Pontianak memang sudah berdiri lama, tetapi ia belum selesai dibaca.” (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda