PONTIANAK, SP – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso mencatat lonjakan signifikan jumlah kunjungan pasien sepanjang 2025. Peningkatan ini tidak hanya menggambarkan tingginya aktivitas layanan kesehatan, tetapi juga menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan masyarakat Kalimantan Barat terhadap rumah sakit rujukan utama milik pemerintah daerah tersebut.
Berdasarkan data manajemen RSUD dr Soedarso, total kunjungan pasien pada 2024 tercatat sebanyak 222.689 kunjungan. Jumlah itu meningkat tajam menjadi 277.456 kunjungan pada 2025, atau naik sekitar 24 persen dalam kurun satu tahun. Kunjungan tersebut mencakup layanan rawat jalan, rawat inap, hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Direktur RSUD dr Soedarso, drg. Hary Agung Tjahyadi, mengatakan lonjakan ini mencerminkan meningkatnya beban layanan sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap RSUD dr Soedarso sebagai rumah sakit rujukan utama di Kalimantan Barat.
“Kunjungan pasien memang meningkat cukup besar, hampir di semua layanan,” ujar Hary saat menyampaikan evaluasi pelaksanaan layanan RSUD dr Soedarso tahun 2025, kemarin.
Secara rinci, kunjungan rawat jalan meningkat sekitar 31 ribu pasien. Sementara itu, jumlah pasien rawat inap bertambah lebih dari 3.000 orang dan kunjungan IGD naik sekitar 2.300 pasien. Pasien-pasien tersebut tidak hanya berasal dari Kota Pontianak dan wilayah sekitarnya, tetapi juga dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.
Data kunjungan tersebut juga memberikan gambaran pola penyakit yang ditangani RSUD dr Soedarso sepanjang 2025. Untuk layanan rawat jalan, rujukan masih didominasi penyakit prioritas nasional, yakni kanker, jantung, stroke, serta gangguan ginjal dan saluran kemih (KJSU).
Dalam daftar 10 besar penyakit rawat jalan, kasus ginjal kronis menempati posisi teratas sebagai rujukan terbanyak. Disusul penyakit neoplasma, terutama kanker—khususnya kanker payudara—serta penyakit jantung. Selain itu, kanker serviks juga tercatat cukup tinggi dan masuk dalam 10 besar penyakit rawat jalan.
Kasus gangguan ginjal lainnya, termasuk gagal ginjal dan penyakit prostat, juga masih mendominasi. Di luar penyakit KJSU, penyakit kronis seperti diabetes masuk dalam 10 besar. Penyakit lain dengan angka rawat jalan yang cukup tinggi antara lain gangguan gigi dan mulut, low back pain, serta talasemia.
Pola serupa juga terlihat pada layanan rawat inap. Penyakit ginjal kronis, gagal ginjal, stroke, kanker, dan penyakit jantung masih menjadi kasus terbanyak. Namun demikian, Hary mencatat masih cukup banyak pasien rawat inap dengan tingkat keparahan rendah atau severity level 1, seperti demam dan gangguan lambung.
“Ini menjadi perhatian, karena ada penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa ditangani di rumah sakit daerah,” ujarnya.
Selain penyakit kronis, RSUD dr Soedarso juga menangani cukup banyak kasus penyakit infeksi. Tuberkulosis (TB) tercatat cukup tinggi pada layanan rawat inap sepanjang 2025, bahkan masuk dalam 10 besar penyakit yang ditangani di IGD.
Di IGD, selain kasus kegawatdaruratan terkait KJSU dan TB, banyak pasien datang dengan kondisi severity level 1, seperti gastroenteritis, demam, nyeri perut, dan dispepsia. Menurut Hary, hal ini menunjukkan masih adanya rujukan atau kunjungan pasien yang seharusnya dapat ditangani di rumah sakit tipe C atau D di tingkat kabupaten dan kota.
Peningkatan jumlah pasien ini berdampak langsung pada kapasitas layanan RSUD dr Soedarso, termasuk ketersediaan tempat tidur. Namun, Hary menegaskan bahwa penambahan tempat tidur bukan satu-satunya solusi untuk menjawab lonjakan kunjungan.
“Harus ada dukungan kuat dari rumah sakit daerah di kabupaten/kota, rumah sakit TNI-Polri, serta rumah sakit swasta yang bekerja sama dengan BPJS,” katanya.
Sebagai rumah sakit tipe A, RSUD dr Soedarso diharapkan tetap fokus pada pelayanan rujukan kasus berat dan kompleks. Oleh karena itu, penguatan layanan di rumah sakit daerah menjadi kunci agar sistem rujukan berjalan sesuai jenjang dan pelayanan kesehatan dapat terdistribusi secara lebih merata.
Evaluasi layanan sepanjang 2025 ini menjadi refleksi bahwa meningkatnya kunjungan pasien bukan semata soal angka, melainkan tantangan bersama dalam membangun sistem layanan kesehatan yang efektif, terintegrasi, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat. (din)