Universitas OSO (UNOSO) sukses melaksanakan kegiatan transplantasi terumbu karang berbasis WebGIS di Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang. Program ini menjadi salah satu wujud pengabdian kepada masyarakat melalui hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai secara kompetitif oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025.
Ketua Tim PKM UNOSO, Zan Zibar, menjelaskan Pulau Lemukutan merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Taman Pulau Kecil Pulau Randayan dan perairan sekitarnya, dengan luas mencapai 61.654 hektare.
Pulau ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bawah laut andalan Kalbar, namun kondisi terumbu karangnya sebagian besar masih berada pada kategori sedang dengan tutupan 25–50 persen.
“Jika tidak ada upaya rehabilitasi, maka proses pemulihan alami akan sangat lambat. Melalui transplantasi terumbu karang, kami berupaya mendorong percepatan pemulihan ekosistem sekaligus menjaga keberlanjutan wisata bahari,” ujarnya, Jumat (26/9).
Kegiatan transplantasi dilaksanakan pada 20–23 September 2025 di Dusun Karang Timur, Desa Pulau Lemukutan. Proses ini melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lumba-Lumba Putih, perwakilan pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, serta kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas).
Selain praktik transplantasi, tim juga menggelar sosialisasi pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang, penggunaan alat tangkap ikan ramah lingkungan, serta promosi aktivitas wisata bahari berkelanjutan.
Warga turut diajak melakukan praktik langsung mulai dari pembuatan media peletakan fragmen karang, penempatan substrat transplantasi, hingga pemotongan dan penempelan fragmen karang.
"Kegiatan ini juga memperkenalkan WebGIS Smart Island Pulau Lemukutan sebagai media promosi wisata edukasi sekaligus monitoring keberlanjutan transplantasi," jelas Zan Zibar.
Zan Zibar menambahkan, kegiatan PKM ini menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi mengimplementasikan ilmu dan teknologi untuk kepentingan masyarakat.
“Tujuannya jelas, membantu pengelolaan kawasan konservasi perairan, memberdayakan masyarakat lokal, sekaligus memperkuat daya saing industri pariwisata bawah laut di Kalbar,” paparnya.
Tidak hanya melibatkan dosen dan masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sarana pengembangan mahasiswa. Mereka diberi kesempatan melakukan penelitian lapangan sekaligus praktik monitoring transplantasi karang, sesuai implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 perguruan tinggi.
Mahasiswa yang terlibat adalah Prodi Ilmu Kelautan, tergabung dalam komunitas OSO Scientific Diving Club (OSDC), dan seluruhnya sudah memiliki lisensi selam internasional Open Water.
“Kolaborasi ini bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap kelestarian laut,” ungkap Zan Zibar.
Semnetara itu Ketua Pokdarwis Lumba-Lumba Putih, Afriandi, menyambut baik program ini. Menurutnya, karang yang sehat bukan hanya rumah bagi ikan, tetapi juga daya tarik wisata snorkeling dan diving.
“Kami sangat terbantu dengan pendampingan dari UNOSO. Ini akan berdampak positif bagi ekosistem sekaligus ekonomi warga,” katanya.
Hal senada disampaikan Badrun, Ketua RT 02 Dusun Karang Timur. Ia menilai meja transplantasi yang digunakan dalam kegiatan ini didesain multifungsi.
“Selain sebagai tempat menanam karang, juga bisa jadi rumah ikan,” ujarnya. (din)