PONTIANAK, SP – Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak menggelar Reuni Akbar yang melibatkan alumni lintas generasi, dari angkatan 1974 hingga 2021.
Momentum ini tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga refleksi bersama mengenai arah penegakan hukum di Indonesia.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Ikatan Alumni Untan yang juga mantan Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Sutarmidji.
Ia merupakan alumnus Fakultas Hukum Untan angkatan 1982. Dalam sambutannya, Sutarmidji menekankan pentingnya menjaga nilai fundamental yang menjadi fondasi para lulusan hukum yakni integritas.
"Pesan saya kepada para alumni yang paling penting adalah bagaimana kita tetap menjaga integritas sebagai lulusan Fakultas Hukum Untan. Kita boleh kehilangan apapun yang ada pada diri kita, tapi satu hal yang tak boleh hilang dan tak boleh digadaikan hingga akhir hayat adalah integritas,” ujar Sutarmidji.
Ia menegaskan, integritas merupakan kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, baik secara kelembagaan maupun individu.
Menurutnya, memahami setiap aspek hukum dalam suatu perkara dan meletakkan posisi kasus berdasarkan prinsip hukum yang berlaku, tanpa intervensi politik ataupun tekanan kekuasaan, adalah esensi dari keadilan.
"Jika semua kasus diletakkan pada aturan yang berlaku, maka tidak akan ada lagi anggapan hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Kita sangat berharap masih ada pengajar hukum yang tetap idealis dan berintegritas baik," jelasnya.
"Sehingga mampu melahirkan sarjana hukum yang mumpuni, berani, dan mau menyuarakan kebenaran saat terjadi pembelokan terhadap aturan hukum untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun politik," sambungnya.
Sutarmidji juga mendorong mahasiswa hukum untuk tetap kritis terhadap proses penegakan hukum. Ia menyebut, kondisi hukum suatu negara sangat rentan ketika sistemnya dimasuki kepentingan, terutama dalam kasus-kasus besar yang menyangkut banyak pihak.
Jika hukum tidak lagi berdiri di atas keadilan, maka negara bisa terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
"Coba baca kembali sejarah runtuhnya Uni Soviet, Yugoslavia, beberapa negara Arab. Ada negara yang tatanan hukumnya hancur karena hukum dijadikan alat untuk meraih kepentingan dengan cara tidak benar. Maka lahirlah tatanan baru seperti Iran dan Irak.
Kita cinta pada negara yang multi etnis, agama, dan sosial, tapi tetap diikat dalam bingkai dasar negara: Pancasila," katanya.
Menutup pesannya, Sutarmidji mengucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila dan mengajak seluruh civitas akademika serta alumni Fakultas Hukum Untan untuk terus menjunjung tinggi supremasi hukum demi Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan.
Acara reuni akbar ini tidak hanya menjadi momen nostalgia, tetapi juga menjadi ruang reflektif atas krisis integritas yang masih membayangi dunia penegakan hukum di tanah air.
Pesan moral yang disampaikan Sutarmidji menjadi pengingat bahwa menjaga marwah hukum berarti menjaga masa depan bangsa. (*)