Yayasan Hutan Biru Gelar ToT Ecological Mangrove Rehabilitation di Kalbar
PONTIANAK, SP – Yayasan Hutan Biru menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) selama empat hari, pada 9–12 Februari 2026, di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia serta memperluas jumlah praktisi rehabilitasi mangrove berbasis ekologi di Kalbar.
Kalbar sendiri merupakan salah satu provinsi dengan tutupan hutan yang signifikan, mencapai 8.093.170 hektare (BPS Kalbar, 2023).
Sebagian wilayah tersebut merupakan ekosistem lahan basah, termasuk hutan mangrove yang memiliki peran strategis bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.
Data terbaru menunjukkan, Kalbar memiliki luas mangrove eksisting sebesar 162.516 hektare serta potensi habitat mangrove seluas 14.056 hektare (PMN, 2024).
Sekitar 110.000 hektare di antaranya berada di Kabupaten Kubu Raya (PMN, 2023), menjadikan wilayah ini sebagai salah satu kawasan mangrove terpenting di provinsi tersebut.
Ekosistem mangrove di Kalbar berperan penting secara ekologis dan sosial-ekonomi. Selain menjadi wilayah penyangga perikanan tangkap tradisional dan area pemijahan berbagai jenis ikan, sekitar 80 persen masyarakat pesisir menggantungkan mata pencaharian pada ekosistem mangrove dan sumber daya perikanan yang dihasilkannya.
Mangrove juga berkontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO?).
Namun demikian, rehabilitasi mangrove tidak dapat dilakukan hanya melalui penanaman. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan agar fungsi ekosistem dapat pulih secara optimal.
Salah satu metode yang terbukti efektif adalah Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), yakni pendekatan rehabilitasi yang menitikberatkan pada pemulihan proses ekologis alami.
Direktur Blue Forests, Rio Ahmad, menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada pemahaman kondisi ekologis di lapangan.
“Rehabilitasi mangrove bukan sekadar menanam bibit. Jika sistem hidrologinya rusak, mangrove tidak akan bertahan. EMR hadir untuk memastikan proses alam bekerja kembali sehingga pemulihan ekosistem berlangsung secara alami dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan EMR, intervensi difokuskan pada perbaikan kondisi hidrologi agar propagul mangrove dapat tumbuh secara alami.
Penanaman hanya dilakukan apabila mekanisme alami tidak berjalan optimal, dan dilaksanakan setelah pembenahan hidrologi dilakukan. Proses rehabilitasi juga didukung oleh perencanaan, pemantauan, dan evaluasi yang berkelanjutan.
Kegiatan ToT EMR ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai latar belakang, meliputi perwakilan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan praktisi lapangan.
Program dirancang dengan mengombinasikan pembelajaran kelas dan praktik lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep EMR, tetapi juga mampu mengimplementasikan serta mentransfer pengetahuan tersebut di institusi masing-masing.
“Melalui Training of Trainers ini, kami ingin memastikan bahwa pengetahuan dan praktik EMR dapat direplikasi secara luas oleh berbagai pihak. Dengan begitu, rehabilitasi mangrove di Kalimantan Barat tidak bersifat sporadis, tetapi terencana dan berbasis ekologi,” tambah Rio.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Kalbar dan Pemerintah Provinsi Kalbar, serta didukung oleh Blue Venture, Blue Action Fund, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kolaborasi lintas pihak ini diharapkan dapat memperkuat upaya rehabilitasi mangrove berbasis ekologi secara berkelanjutan di Kalbar.
Sebagai informasi, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests) merupakan lembaga non-pemerintah yang berfokus pada peningkatan resiliensi lingkungan dan masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS), termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Berdiri sejak 2001, Blue Forests berkantor pusat di Makassar dan memiliki perwakilan di sembilan kota di Indonesia, termasuk Pontianak. (*)