Sambas post author Kiwi 31 Oktober 2026

Dari Kebersamaan di Pantai Tanjung Api, Scooterist Pontianak Diselimuti Duka Kehilangan Mardi

Photo of Dari Kebersamaan di Pantai Tanjung Api, Scooterist Pontianak Diselimuti Duka Kehilangan Mardi

SAMBAS, SP – Perjalanan kebersamaan para pecinta Vespa tidak selalu berakhir dengan cerita tentang kesenangan, petualangan, dan kenangan indah di sepanjang perjalanan. Terkadang, di balik kebersamaan yang terjalin di jalan raya, terselip kisah pilu yang mengingatkan bahwa persaudaraan sejati justru terasa ketika salah seorang sahabat harus pergi untuk selamanya.

Suasana itulah yang menyelimuti keluarga besar Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) West Borneo (WB) Vespa Lovers, setelah menerima kabar duka meninggalnya Mardi, salah seorang scooterist yang sebelumnya turut dalam kegiatan kebersamaan di Pantai Tanjung Api, Kabupaten Sambas.

Mardi mengembuskan napas terakhir pada Jumat sore, setelah sekitar satu minggu menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang. Ia meninggal dunia sekitar pukul 15.20 WIB, akibat luka berat yang dialaminya dalam kecelakaan lalu lintas tunggal di kawasan Karimunting, Singkawang, pada Jumat pekan sebelumnya.

Kecelakaan tersebut terjadi ketika Mardi bersama istrinya sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti kegiatan di kawasan Pantai Tanjung Api, Kabupaten Sambas. Dalam peristiwa itu, keduanya mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan sang istri mengalami patah tulang pada bagian tangan, sementara Mardi mengalami benturan hebat di bagian kepala.

Sejak kejadian tersebut, Mardi harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Keluarga dan sahabat-sahabatnya tentu berharap ada keajaiban dan kesembuhan. Namun, takdir berkata lain. Perjuangan selama sepekan di ruang perawatan intensif akhirnya berakhir dengan kabar duka yang menyisakan kesedihan mendalam.

Dari Tanjung Api, Membawa Kenangan Kebersamaan

Kehadiran Mardi dalam kegiatan di Pantai Tanjung Api menjadi bagian dari cerita kebersamaan para scooterist yang berkumpul dalam semangat persaudaraan. Perjalanan menuju kawasan pesisir Kabupaten Sambas itu bukan sekadar agenda berkendara bersama, melainkan juga kesempatan mempererat tali silaturahmi, berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan di tengah alam.

Pantai Tanjung Api menjadi saksi bagaimana para pecinta Vespa membangun persaudaraan tanpa memandang latar belakang. Di antara deru mesin Vespa, obrolan santai, canda, dan kebersamaan, setiap perjalanan selalu menyimpan kenangan tersendiri.

Namun, perjalanan yang semula diharapkan menjadi pengalaman menyenangkan itu justru menyisakan peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, sejumlah scooterist Pontianak yang sebelumnya mengikuti kegiatan di Tanjung Api sempat berkumpul di Warkop Waru, yang menjadi salah satu posko Vespa Lovers.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai. Canda dan gurauan mengalir di antara para sahabat. Mereka juga membicarakan berbagai hal serius, termasuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan di Tanjung Api. Berbagai cerita perjalanan kembali dikenang, mulai dari pengalaman selama perjalanan, kebersamaan di lokasi kegiatan, hingga hal-hal yang perlu diperbaiki untuk agenda berikutnya.

Tidak ada yang menyangka, di tengah obrolan penuh keakraban itu, salah seorang sahabat yang turut dalam perjalanan tersebut sedang berjuang menghadapi masa kritis di rumah sakit.

Kabar meninggalnya Mardi kemudian menjadi pukulan emosional bagi teman-temannya. Sosok yang sebelumnya berada di tengah-tengah mereka, menikmati perjalanan dan kebersamaan, kini telah berpulang.

Sahabat yang Pendiam dan Bersahaja

Kesedihan itu juga dirasakan Bruder Stephanus Paiman OFMCap, salah seorang Penasehat FRKP WB Vespa Lovers. Ia mengenang Mardi sebagai pribadi yang baik, sederhana, dan tidak banyak bicara.

Menurut Bruder Stephanus, Mardi merupakan sosok yang dikenalnya dalam keseharian. Almarhum biasa bekerja di bengkel las Akong yang berada di Jalan Adi Sucipto, Pontianak.

"Mardi orang baik yang kukenal, tidak banyak bicara dan biasa di bengkel las Akong di Jalan Adi Sucipto," ungkap Bruder Stephanus saat menyampaikan rasa dukanya.

Baginya, setiap orang memiliki karakter dan cara tersendiri dalam menjalin persahabatan. Mardi mungkin bukan sosok yang banyak bicara, tetapi kebaikan dan kesederhanaannya meninggalkan kesan bagi orang-orang yang pernah mengenalnya.

Dalam suasana kehilangan tersebut, Bruder Stephanus turut mendoakan agar segala kekhilafan almarhum mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

"Semoga almarhum Mardi diampuni segala kekhilafannya dan diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT sesuai amal perbuatannya. Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberikan ketabahan dan penghiburan," tuturnya.

Doa itu menjadi ungkapan ketulusan seorang sahabat yang merasa kehilangan. Sebuah penghormatan sederhana bagi seseorang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan persaudaraan mereka.

Persaudaraan yang Hadir di Rumah Duka

Malam setelah kabar meninggalnya Mardi tersebar, suasana duka menyelimuti rumah keluarga almarhum di Perum 3 Gang Mentibu, Pontianak.

Sejumlah sahabat dari komunitas Vespa berdatangan untuk melayat. Mereka berkumpul di rumah duka sembari menunggu kedatangan jenazah dari Singkawang.

Tidak ada lagi deru mesin Vespa yang mengiringi perjalanan seperti ketika mereka berangkat menuju Tanjung Api. Malam itu, yang terdengar adalah percakapan pelan, ungkapan belasungkawa, dan doa-doa untuk sahabat yang telah mendahului mereka.

Kehadiran para scooterist tersebut memperlihatkan bahwa hubungan persaudaraan yang terbangun di jalanan tidak berhenti ketika perjalanan selesai. Persahabatan itu tetap hidup dalam kepedulian, terutama ketika salah seorang di antara mereka sedang mengalami musibah.

Bahkan, kepedulian tersebut diwujudkan melalui kesiapan membantu keluarga almarhum dalam urusan pelayanan kemanusiaan.

Melalui forum, Bruder Stephanus sempat menyampaikan bahwa FRKP memiliki persediaan peti jenazah muslim yang dapat digunakan apabila keluarga membutuhkan. Layanan ambulans juga disiapkan untuk membantu mengantarkan jenazah dari rumah duka menuju tempat pemakaman.

"Tadi sudah kutawari peti jenazah dan ambulans. Namun, semuanya sudah ditangani pihak keluarga, demikian informasi yang diterima," demikian disampaikan Bruder Stephanus.

Meski tawaran bantuan tersebut akhirnya tidak diperlukan karena keluarga telah mengurus seluruh kebutuhan pemakaman, kesiapan FRKP menjadi gambaran bahwa semangat kemanusiaan tidak hanya hadir dalam kegiatan besar, tetapi juga dalam situasi duka yang dialami sesama.

Bagi FRKP dan WB Vespa Lovers, kepedulian semacam ini merupakan bagian dari nilai persaudaraan yang selama ini mereka bangun. Tidak sebatas berkumpul, melakukan perjalanan, atau menghadiri kegiatan komunitas, tetapi juga saling menguatkan ketika kehidupan mempertemukan mereka dengan keadaan sulit.

Perjalanan Boleh Berakhir, Persaudaraan Tetap Dikenang

Kepergian Mardi menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki cerita dan setiap pertemuan menyimpan kenangan. Kegiatan di Pantai Tanjung Api yang sebelumnya dipenuhi suasana kebersamaan kini juga menyisakan kenangan tentang seorang sahabat yang tidak lagi bisa ikut dalam perjalanan berikutnya.

Di kalangan scooterist, Vespa bukan semata kendaraan tua yang dipertahankan karena bentuk dan keunikannya. Lebih dari itu, Vespa telah menjadi medium untuk membangun persahabatan, memperluas persaudaraan, dan menghadirkan kepedulian antarsesama.

Mardi pernah menjadi bagian dari perjalanan itu. Ia hadir, berkumpul, dan menikmati kebersamaan bersama kawan-kawannya. Kenangan tentang sosoknya yang pendiam dan bersahaja kini akan tetap tersimpan di antara mereka.

Malam itu, para sahabat datang bukan untuk membicarakan perjalanan berikutnya, bukan pula untuk merencanakan kegiatan komunitas. Mereka hadir untuk mengantarkan doa, memberikan penghormatan terakhir, serta mendampingi keluarga yang sedang kehilangan.

Sebab, dalam persaudaraan, tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kendaraan. Ada kalanya perjalanan terpenting justru dilakukan dengan langkah kaki menuju rumah sahabat yang sedang berduka.

Selamat jalan, Mardi. Perjalananmu bersama kawan-kawan di dunia telah usai. Namun, kenangan tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan persaudaraan akan tetap tinggal di hati mereka yang pernah mengenalmu. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda