SINGKAWANG, SP – Gerakan Singkawang Hebat–Menuju Perubahan (GSH-MP) menggelar sosialisasi bertema "Sinergi Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam Mencegah Ekstremisme dan Radikalisme di Kalangan Pelajar sebagai Upaya Mewujudkan Generasi Indonesia Emas" di Ruang Bumi Betuah Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang diikuti para guru SD, SMP, SMA, pengurus komite sekolah, perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tokoh masyarakat, serta berbagai elemen terkait ini bertujuan memperkuat kolaborasi dalam mencegah masuknya paham ekstremisme dan radikalisme di kalangan generasi muda.
Ketua Panitia Pelaksana, Heri Sutrisna, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi munculnya perilaku yang mengarah pada ekstremisme dan radikalisme di lingkungan pelajar.
Menurutnya, meskipun belum ditemukan tindakan ekstremisme maupun radikalisme secara nyata di kalangan pelajar Kota Singkawang, berbagai gejala yang mengarah pada perilaku ekstrem perlu diwaspadai sejak dini.
"Secara nyata tindakan ekstremisme maupun radikalisme memang belum terbukti. Namun kecenderungan ke arah perilaku ekstrem seperti tawuran sudah mulai terlihat. Indikasi-indikasinya sudah ada," kata Heri.
Ia menjelaskan, salah satu bentuk awal yang sering muncul adalah aksi perundungan (bullying), kekerasan antarpelajar, hingga tawuran yang berpotensi berkembang menjadi perilaku intoleran dan radikal apabila tidak ditangani dengan baik.
Karena itu, GSH-MP sengaja melibatkan unsur sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam kegiatan tersebut.
"Dengan menghadirkan para peserta ini, kami berharap GSH-MP dapat berkolaborasi dengan para guru untuk bersama-sama mengawasi dan mengedukasi para siswa. Jangan sampai anak-anak kita terdoktrin oleh pemahaman-pemahaman yang mengarah pada ekstremisme dan radikalisme," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, Safari Hamzah, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan benteng utama dalam mencegah berkembangnya paham ekstrem di kalangan pelajar.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan moderasi beragama.
"Pencegahan ekstremisme harus dimulai sejak usia sekolah. Pendidikan karakter yang diperkuat dengan nilai-nilai Pancasila, moderasi beragama, dan semangat kebhinekaan menjadi benteng utama agar anak-anak kita tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa," ujarnya.
Safari menambahkan, keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dilakukan hanya oleh sekolah. Keluarga dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk kepribadian anak.
"Kami berharap terbangun kolaborasi yang kuat antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki komitmen menjaga keutuhan NKRI," katanya.
Dalam sesi materi, Penggiat Kebhinekaan Roznazizi menyoroti pentingnya menjaga nilai keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan Kota Singkawang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Ia menilai penyebaran paham intoleransi saat ini banyak terjadi melalui ruang digital dan media sosial yang mudah diakses generasi muda.
"Keberagaman adalah kekuatan bangsa, bukan alasan untuk saling membenci. Anak-anak muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian maupun ajakan yang mengarah pada radikalisme," jelasnya.
Menurut Roznazizi, budaya dialog, gotong royong, dan saling menghormati harus terus ditanamkan agar generasi muda memiliki daya tahan terhadap berbagai bentuk propaganda yang memecah belah persatuan bangsa.
"Jika keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat berjalan bersama, ruang berkembangnya paham ekstrem akan semakin sempit. Inilah investasi kita untuk Indonesia Emas 2045," tambahnya.
Senada dengan itu, Kasat Binmas Polres Singkawang IPTU Budi Anggoro mengingatkan bahwa paham ekstremisme dan radikalisme sering kali berawal dari hal-hal sederhana yang berkembang melalui media sosial maupun lingkungan pergaulan.
"Perilaku ekstrem itu bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti perundungan," ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Polres Singkawang selama ini rutin melaksanakan sosialisasi kepada siswa-siswi SD, SMP, dan SMA. Namun menurutnya, upaya pencegahan akan lebih efektif apabila menyasar langsung para orang tua sebagai lingkungan terdekat anak.
"Kami ingin dari pihak kepolisian dapat memberikan sosialisasi secara langsung kepada para orang tua siswa. Sebab, banyak permasalahan yang justru terjadi di luar lingkungan sekolah," katanya.
Budi juga menyoroti masih rendahnya pengawasan sebagian orang tua terhadap aktivitas anak di luar rumah.
"Anak belum pulang hingga pukul 23.00 WIB, orang tua tidak bertanya, tidak khawatir. Ini bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga tentang masa depan anak," tegasnya.
Menurutnya, berbagai kasus seperti balap liar, tawuran pelajar, hingga kecanduan permainan daring sering kali dipicu oleh kurangnya perhatian dan kontrol dari keluarga.
Karena itu, pihaknya berharap Dinas Pendidikan dan sekolah dapat memfasilitasi pertemuan khusus antara kepolisian dan para orang tua siswa.
"Jika sasarannya langsung ke orang tua, saya rasa sosialisasi ini akan lebih tepat sasaran dibandingkan hanya kepada siswa," pintanya.
Sementara itu, Psikolog Windah Ruliana, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan dan pencarian identitas diri.
Menurutnya, keluarga menjadi benteng pertama yang menentukan ketahanan mental anak terhadap berbagai pengaruh negatif.
"Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh kasih sayang cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap pengaruh negatif dari luar," ungkapnya.
Ia mengimbau para orang tua untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan anak, memahami perubahan perilaku mereka, serta mendampingi penggunaan media digital secara bijak.
"Pencegahan tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Yang paling penting adalah membangun ketahanan mental, rasa percaya diri, serta kemampuan anak dalam mengambil keputusan yang benar berdasarkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan," jelas Windah.
Melalui kegiatan ini, GSH-MP berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan dalam menjaga generasi muda dari pengaruh ekstremisme dan radikalisme. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, pelajar Kota Singkawang diharapkan tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, toleran, berwawasan kebangsaan, serta siap menyongsong terwujudnya Indonesia Emas 2045. (rud)