Info Anda post authorKiwi 30 Juli 2022

MiChat Sarang Pelacur: 'Good Bye Open BO'?

Photo of MiChat Sarang Pelacur: 'Good Bye Open BO'?

MICHAT diduga kuat telah menjelma menjadi aplikasi prostitusi.  Di media sosial Singapura, yang 'setali tiga uang' dengan We Chat dari Tiongkok, banyak pelacur  hingga kaum LGBT menjual diri.

Di Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, khusus pelacur-pelacur wanita, kerap menawarkan lokasi kencan 'lendir' di hotel-hotel berbintang. Tarifnya rata-rata maksimum Rp 700 ribu untuk shor time alias sekali...(maaf) crot.

Tapi jika tamu sepi, mereka kerap banting harga hingga Rp 300 pun oke aja. Dan tanpa khawatir digerebek aparat, mereka pun nekat mencantumkan nama hotel tempat kencan.

Di Pontianak  dan banyak kota lain di Tanah Air, MiChat juga menjadi modus pelaku kejahatan dalam beraksi, bekerjasama dengan pelacur yang diumpankan.

Dalam beberapa kasus, saat tamu sudah masuk kamar, muncul sejumlah lelaki yang kemudian menjarah harta benda si lelaki hidung pesek, eh belang itu.

 Lewat aplikasi lendir inilah, makin ngetop pula istilah  Open BO, singkatan dari Open Booking Out atau Open Booking Online. Istilah ini  merujuk pada upaya penawaran jasa prostitusi via daring. MiChat populer menjadi salah satu aplikasi yang disalahgunakan dengan menggunakan berbagai media Buka BO, berdasarkan jumlah kasus dan komentar pengguna.

Selama dua tahun terakhir, berdasarkan pantauan Suara Pemred di sejumlah kota termasuk  Pontianak, apaat kepolisian kerap mengungkap kasus perampokan bermodus berkenalan lewat MiChat.

Aplikasi 'Lendir' yang Kebal Hukum di Indonesia

Tetapi, MiChat selaku biang keladinya, tetap tak tersentuh hukum (untouhcable). Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo )  sebagai otoritas terkait di Indonesia, hanya berulangkali menyatakan 'meninjau' , atau mendengar 'masukan masyarakat'.

Tapi, supaya mungkin tak diklaim  sebagai 'makan gaji buta', maka Kominfo mulai 'bertindak'.  Dilansir dari CNN,  Senin, 11 Juli 2022,  MiChat tercatat di Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Kementrian Kominf  sejak tanggal itu.

Lantas, apakah ini akhir dari maraknya Open BO?

Berdasarkan pantauan di situs PSE Kominfo, MiChat tercatat dengan nomor registrasi 003957.01/DJAI.PSE/07/2022 tertanggal 11 Juli 2022.  Nama resminya adalah MICHAT MOBILE APPLICATION SYSTEM dengan MICHAT PTE LIMITED sebagai perusahaan pendaftar. Diberitakan sebelumnya, kewajiban pendaftaran bagi PSE Lingkup Privat, berlandaskan pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 10 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Permenkominfo 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat. 

Kominfo kemudian menetapkan tenggat atau batas akhir pendaftaran PSE swasta pada Rabu, 20 Juli 2022.  Sejumlah platform, termasuk aplikasi pesan instan dan media sosial, seperti WhatsApp, Telegram, hingga MiChat, yang kerap dimanfaatkan untuk Open BO, pun sudah mendaftarkan diri. MiChat populer jadi salah satu aplikasi pelacuran, snagat terbuka, dan pemerintah pusat terkesan tutup mata kendti MiChat sebagai biang modus, sudah berulangkali memicu kasus kriminal  Misalnya, kasus lima gadis di bawah umur yang dijebak untuk menjadi penyedia jasa prostitusi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang ditangani Polda Metro Jaya, Maret 2022.  

Mulanya, mereka diiming-imingi pekerjaan 'melayani tamu',  dan bonus liburan staycation serta ponsel. Selain itu, ada pula beberapa kasus penipuan dengan kedok Open BO. Contohnya, komplotan remaja di Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, yang berprofesi sebagai pemulung, yang merampok ponsel dan memanah korban setelah sebelumnya menipu dengan modus 'Open BO' melalui aplikasi MiChat. "Pelaku ini memanfaatkan sebuah aplikasi untuk menawarkan Open BO. Pelaku memasang foto profil perempuan. Korban tertarik, lalu diajak bertemu di TKP. Setelah korban tiba, di situlah para pelaku merampas ponsel korban," kata Kapolsek Manggala Kompol Edhy Supriadi, Selasa, 9 November 2021).   Kaum muncikari pun menawarkan jasa prostitusi para korban lewat aplikasi Michat, dengan tarif Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. 

Ramai Dimaki di Google Play Store, Pemeirintah Meninjau'

Di luar kasus-kasus tersebut, ada juga tudingan pengguna di kolom komentar aplikasi MiChat di Google Play Store. 

"Aplikasi michat  segala ada, dari yang jual diri sampai jual uang palsu juga ada. Anehnya kenapa enggak langsung di-banned aja yang jual uang palsu itu," ujar username Asep Tarkim, Senin, 20 Desember 2022. "Pemerintah kenapa enggak tutup aja Aplikasi ini, ada yang Open BO, ada yang jual uang palsu, ada yang jual video porno di bawah umur," tambah pemilik username Asqalani Yosi, Sabtu, 18 Desember 2021. Dilaporkan dari situs panduannya, MiChat menyatakan dengan tegas bahwa platform tersebutt media untuk aktivitas prostitusi dan hal-hal terkait perdagangan manusia. "MiChat bukan merupakan media untuk prostitusi, permintaan seksual atau perdagangan manusia," demikian pernyataan MiChat. 

Siapapun yang mencoba untuk menggunakan MiChat untuk tindakan prostitusi dan/atau permintaan seksual akan dicekal," lanjut MiChat.  Lucu dan ironisnya, pihak Kominfo sendiri sempat menyatakan 'akan terus mengawasi dan memastikan MiChat tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab'. "Kementerian Kominfo akan terus melakukan pengawasan terhadap keseriusan para pengelola platform dalam memastikan platform yang dikelolanya tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," kata Dedy Permadi, Juru Bicara Kominfo, Kamis 30 Desember 2021. Peraturan Menkominfo tentang PSE Lingkup Privat sendiri mengatur tentang ketentuan pembatasan akses atau menghapus konten (Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik) terlarang (Pasal 13 ayat (1)). 

Lantas, apa itu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang dilarang? Pasal 9 ayat (4) mengungkapkan tiga cirinya; Pertama, peraturan peraturan perundang-undangan; kedua, meresahkan masyarakat dan mengganggu masalah umum; Ketiga, cara atau menyediakan akses terhadap Informasi dan/atau Dokumen Elektronik yang dilarang. Tak hanya Kementerian/Lembaga atau penegak hukum serta lembaga peradilan, Kominfo lewat aturan memberi peluang kepada masyarakat untuk meminta penghapusan konten yang dilarang itu. Usai menerima lamaran, Menkominfo mengirim surel alias email ke PSE terkait,  yang isinya perintah pemutusan akses konten (Pasal 15 ayat (4) dan (5)). PSE itu wajib men-take down konten yang dilarang itu dalam 1x24 jam (Pasal 15 ayat (6)) atau 4 jam khusus untuk konten terlarang yang sifatnya mendesak. Yang mendesak ini,  antara lain,  terkait dengan pornografi anak, dan "konten yang meresahkan masyarakat dan masalah masalah umum". (Pasal 14 ayat (3)). Jika platform terkait tidak meminta down itu, Menkominfo bisa memerintahkan ISP untuk melakukan Pemutusan Akses terhadap Sistem Elektroniknya (pemblokiran akses) setelah mempertimbangkan alasan PSE terkait (Pasal 15 ayat (7) dan (9)). 

Pada Jumat, 31 Desember  2021, masih dari CNN,  pihak Kominfo buka suara terkait dugaan 'Open BO' atau prostitusi menggunakan aplikasi pesan instan MiChat.  Aktivitas Open BO ini menjadi perhatian kembali setelah seorang pria berinisial RB (19) dilaporkan menjual kekasihnya sendiri EN (13) di aplikasi MiChat. Kabar mengenai adanya praktik prostitusi ini memang bukan hal baru, berbagai komentar netizen di laman Michat di Google Play Store kian memperkuat dugaan tersebut.  Sebagian besar komentar menyebut bahwa aplikasi ini kerap digunakan untuk jual diri atau transaksi prostitusi lainnya.    

Dalam menanggapi tanggapan tersebut, Kominfo, lagi-lagi, menyatakan berkoordinasi dengan pengelola platform untuk segera menyelesaikan aktivitas tersebut. "Kementerian Kominfo segera melakukan komunikasi dengan platform yang diadukan untuk segera menjalankan platform yang terjadi dan/atau penyebaran konten yang melanggar peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang berlaku," ujar Dedy. 

Indonesia 'Mangsa'  MiChat 

Portal berita Singapura, Vulcan Post, 14 Juni 2019, melaporkan bahwa aplikasi perpesanan yang berbasis di Singapura ini, menjadi sorotan di Indonesia setelah ditemukan kerap disalahgunakan untuk layanan prostitusi.

Kementerian terkair di Indonesia disebut berencana untuk berbicara langsung dengan pengembang MiChat sebelum membuat keputusan apakah akan memblokir aplikasi atau tidak.

Indonesia memiliki undang-undang anti-pornografi yang ketat, dan prostitusi adalah ilegal di negara ini. Kementerian TI telah melarang seluruh situs dan aplikasi serta konten individu di masa lalu berdasarkan undang-undang ini.

Situs yang dilarang termasuk Reddit dan Vimeo, karena tidak memiliki aturan ketat untuk menampilkan ketelanjangan.

Aplikasi Bigo Live Singapura pernah dilarang sebentar, tetapi kemudian diaktifkan kembali setelah perusahaannya  memutuskan untuk bekerja sama dengan kementerian, dan mengambil tindakan tegas terhadap konten yang menyinggung.

Pada 2018, kementerian memblokir 2.334 'konten negatif' dari sebelas aplikasi obrolan langsung yang berbeda.

MiChat, dalam beberapa hal, memiliki fitur yang mengundang potensi penyalahgunaan untuk layanan prostitusi. Ini memiliki fungsi yang mirip dengan aplikasi obrolan lain seperti WhatsApp atau Line.

Namun, maishd ari Vulcan Post, MiChat tidak dirancang untuk berkomunikasi dengan kontak yang ada, tetapi juga memungkinkan Anda untuk berkomunikasi dengan orang asing.

Fitur menonjolnya adalah 'Pesan dalam botol' yang memungkinkan Anda mendekati orang asing di dekat lokasi Anda. Singkatnya, fitur MiChat menggabungkan fungsi aplikasi obrolan dan kencan.

Di Indonesia, aplikasi kencan seperti Tinder dan Tantan telah mendapatkan popularitas tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Ini  karena orang lebih terbuka terhadap gagasan untuk memperluas jaringan mereka,  dan bertemu calon kencan online.

Namun,  MiChat tampaknya memenuhi tujuan yang lebih spesifik. Berbagai komunitas online telah membahas betapa mudahnya menemukan wanita muda yang menarik yang menawarkan layanan seks di MiChat. Banyak dari mereka bahkan mengiklankan ini di bio pribadi mereka di aplikasi.

MiChat, yang perusahaan induknya  didirikan pada 2018, telah diunduh lebih dari sepuluh juta kali di seluruh dunia, dan sekarang berada di antara dua puluh aplikasi teratas di Play Store Indonesia, menurut App Annie.

Aplikasi ini berada di peringkat 14,  dan telah menyalip TikTok yang berada di peringkat 18 untuk saat ini.

Popularitas Tiktok telah tumbuh secara global dan platform tersebut mengklaim memiliki sepuluh juta pengguna aktif bulanan di Indonesia saja.

Popularitas MiChat di Indonesia bahkan lebih tinggi daripada di negara asalnya. Aplikasi ini hanya menempati peringkat ke-84 di Singapura, jauh di bawah aplikasi perpesanan lain seperti WhatsApp, Facebook Messenger, Telegram, dan WeChat.

Parahnya Dampak Pornografi dalam Keluarga

Dilansir dari  Marripedia, pornografi memiliki efek yang signifikan selama semua tahap kehidupan keluarga. Sebuah survei cross-sectional mengungkapkan bahwa 87 persen orang Australia berusia 15 hingga 29 tahun pernah melihat pornografi.

Menurut sebuah survei besar terhadap mahasiswa di AS, 51 persen pria dan 32 persen wanita mengaku menonton pornografi untuk pertama kalinya sebelum mereka berusia 13 tahun.

Untuk anak yang terpapar pornografi dalam lingkungan keluarga, pornografi menyebabkan stres dan meningkatkan risiko mengembangkan sikap negatif tentang sifat, dan tujuan seksualitas manusia.

Bagi remaja yang melihat pornografi, sikap mereka terhadap seksualitas mereka sendiri dan orang lain,  berubah, dan harapan serta perilaku seksual mereka dibentuk sesuai dengan itu.  Menonton pornografi di kalangan remaja membuat mereka bingung selama fase perkembangan.  ketika mereka harus belajar bagaimana menangani seksualitas mereka/ Pun  ketika mereka paling rentan terhadap ketidakpastian tentang keyakinan seksual,  dan nilai-nilai moral mereka. Sebuah penelitian terhadap 2.343 remaja menemukan bahwa materi Internet eksplisit, secara seksual dan secara signifikan telah meningkatkan ketidakpastian mereka tentang seksualitas. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan paparan materi Internet eksplisit,  secara seksual meningkatkan sikap yang menguntungkan terhadap eksplorasi seksual dengan orang lain di luar pernikahan dan penurunan komitmen perkawinan dengan pasangan lain.

Studi lain oleh Todd G Morrison, profesor psikologi di Universitas Saskatchewan, menemukan bahwa remaja yang terpapar pornografi tingkat tinggi, memiliki tingkat harga diri seksual yang lebih rendah. Berdasarkan survei longitudinal nasional terhadap anak berusia 12 hingga 17 tahun, Dr Rebecca Collins melaporkan bahwa remaja yang melihat lebih banyak konten seksual di televisi,  lebih mungkin untuk memulai hubungan seksual. Hubungan ini juga  berkembang ke aktivitas seksual noncoital yang lebih maju pada tahun berikutnya.  

Televisi yang hanya memuat pembicaraan tentang hubungan seksual,  memiliki hasil yang serupa dengan televisi yang benar-benar menggambarkan perilaku seksual. Tingginya konsumsi pornografi remaja juga mempengaruhi perilaku.  Penggunaan pornografi laki-laki terkait dengan peningkatan hubungan seksual secara signifikan dengan teman-teman yang tidak romantis. Juga hal ini terkait dengan kemungkinan besar untuk berkorelasi dengan apa yang disebut budaya 'berhubungan'. Dalam sebuah meta-analisis studi longitudinal dan cross-sectional,  yang mencakup dua puluh dua studi,  peneliti Paul Wright melaporkan bahwa konsumsi pornografi—baik kekerasan maupun non-kekerasan—dikaitkan dengan agresi seksual verbal dan fisik.  

Perkumpulan tersebut diadakan untuk laki-laki dan perempuan, dan untuk remaja dan dewasa. Paparan konten seksual pornografi dapat menjadi faktor penting dalam kehamilan remaja.  Sebuah studi longitudinal tiga tahun remaja menemukan bahwa sering terpapar konten seksual televisi terkait dengan kemungkinan kehamilan remaja yang jauh lebih besar dalam tiga tahun berikutnya.  Studi yang sama ini juga menemukan bahwa kemungkinan kehamilan remaja dua kali lebih besar,  ketika jumlah paparan konten seksual tersebut, dalam episode menonton, tinggi daripada rendah. 

Hubungan yang signifikan juga ada antara penggunaan pornografi yang sering,  dan perasaan kesepian, termasuk depresi berat. Konsumsi pornografi yang sering mengubah otak dengan cara yang mirip dengan perubahan neurologis dari mereka yang kecanduan kokain, alkohol, dan metamfetamin. Dalam sebuah penelitian terhadap siswa sekolah menengah, mayoritas dari mereka yang pernah melihat pornografi merasa malu untuk menontonnya.  Namun, 36 persen laki-laki dan 26 persen perempuan mengaku  tidak pernah malu melihat pornografi, dan memberikan gambaran tentang tingkat desensitisasi yang sudah dicapai dalam masyarakat. 

Keterlibatan Orangtua

Meskipun remaja di AS menunjukkan sumber informasi seksual yang mereka sukai adalah orang tua mereka. Lebih dari setengahnya melaporkan bahwa mereka telah belajar tentang hubungan seksual, kehamilan, dan pengendalian kelahiran dari televisi. Setengah dari wanita remaja melaporkan bahwa mereka pertama kali mengetahui tentang hubungan seksual dari majalah. Sebuah penelitian terhadap 1.300 gadis berusia delapan hingga tiga belas tahun menemukan bahwa, di antara mereka yang terlibat dalam 'seks maya', 95 persen orang tua sama sekali tidak menyadari keterlibatan anak-anak mereka. Dibandingkan dengan remaja yang tidak mencari pornografi online , remaja yang mencari pornografi online adalah sekitar tiga kali lebih mungkin memiliki orang tua yang tidak memantau perilaku mereka sama sekali (atau sangat sedikit).  Dibandingkan dengan mereka yang tidak mencari pornografi, mereka yang mencari pornografi Internet tiga kali lebih mungkin untuk memberikan penilaian yang buruk tentang keterikatan mereka dengan orang tua mereka. 

Dampak penggunaan pornografi oleh orang tua terhadap anak kecil,  sangat beragam dan mengganggu. Pornografi menghilangkan kehangatan kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang, yang merupakan nutrisi sosial alami bagi anak yang sedang tumbuh.  Kerugian dan trauma lain yang terkait dengan penggunaan pornografi ketika anak masih kecil,  antara lain: menghadapi materi pornografi yang diperoleh orang tua. Juga menghadapi orang tua yang melakukan masturbasi;mendengar orang tua terlibat dalam 'seks telepon':menyaksikan,  dan mengalami stres di rumah yang disebabkan oleh aktivitas seksual online. Ini juga memicu peningkatan risiko bagi anak-anak untuk menjadi konsumen pornografi itu sendiri; menyaksikan dan terlibat dalam konflik orang tua;paparan komodifikasi manusia, terutama perempuan, sebagai 'objek seks'. Hal ini juga meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan orang tua,  dan tekanan keuangan;peningkatan risiko perpisahan dan perceraian orang tua;berkurangnya waktu dan perhatian orang tua—baik dari orang tua yang kecanduan pornografi maupun dari orang tua yang sibuk dengan pasangan yang kecanduan. Juga, orang tua dapat mengungkapkan perjuangan mereka dengan kecanduan pornografi kepada anak-anak mereka, sengaja atau tidak sengaja, sehingga mendistorsi perkembangan seksual anak-anak mereka.

Dampak Sosial dan Dosa Seksual

Nicholas Black, Direktur Pendidikan & Sumber Dayaharvest, sebagaimana dilansir dari Harvest, 4 Juni 2014,dalam ulasan terkait juga mengacu dari sebuah artikel, The Connections between Pornography and Sex Trafficking. Di situ ditekankan,  pornografi adalah pintu gerbang utama untuk membeli manusia demi seks komersial.” Sebuah artikel lain dari Majalah Newsweek menjelaskan tentang bagaimana penggunaan pornografi meningkatkan agresi laki-laki,  dan memicu permintaan untuk perusahaan seks komersial. Banyak ahli percaya bahwa era digital telah melahirkan peningkatan besar dalam eksploitasi seksual; hari ini siapa pun dengan akses ke Internet,  dapat dengan mudah membuat 'kencan'. Ini dilakukan  melalui posting online, agen pendamping, dan pemasok lain yang melayani hampir semua kecenderungan seksual.  Permintaan yang meningkat telah menyebabkan proliferasi layanan yang memusingkan yang begitu umum,  sehingga banyak pria tidak lagi melihat pijat erotis, klub tari telanjang, atau tarian lap sebagai bentuk prostitusi

Dalam beberapa tahun terakhir, meskipun pornografi menjadi lebih endemik (atau 'dinormalisasi') di masyarakat,  banyak laporan yang menunjukkan hubungan antara produksi dan penggunaan pornografi dan ledakan perusahaan seks komersial, seperti prostitusi dan perdagangan seks.  Covenant Eyes, sebuah kementerian yang menawarkan perangkat lunak akuntabilitas untuk komputer dan perangkat seluler, memiliki beberapa artikel bagus di situs webnya (covenanteyes.com).  Pornografi memicu permintaan akan layanan seksual semacam itu. Jauh dari memadamkan nafsu dan mengurangi eksploitasi seksual (seperti yang dikatakan banyak pendukung pornografi), itu secara radikal mendistorsi seksualitas dan hubungan.  Pornografi memberi makan pola pikir yang berkontribusi pada pelecehan, eksploitasi, penindasan, dan viktimisasi.*** 

Reporter, penulis & editor: Patrick Sorongan

Sumber: Berbagai sumber 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda