Catatan Syafaruddin Daeng Usman / Penulis Freelance Sejak 1986, Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Nusantara
PASKA kemerdekaan Indonesia Agustus 1945, berbagai pertempuran di Surabaya telah meletus. Semuanya dapat dikatakan berpangkal tolak dari Ultimatum yang diberikan Manserg.
Masyarakat dan pemuda dengan "Arek-Arek Surabaya" menganggap sepi ultimatum tersebut. Tetapi tentu bukan itu saja, uitimatum itu juga telah dipandang sebagai suatu penghinaan yang tiada taranya bagi mereka.
Maka jauh daripada mematuhinya, pemuda dan rakyat Indonesia di Surabaya malah bersiap-siap menantang apa yang dilakukan dan yang akan dilakukan oleh Inggris, jika batas waktunya tiba. Mereka akan menghadapinya.
Janji yang sudah diucapkan merupakan hutang yang harus dibayar. Apalagi jika janji itu merupakan suatu ancaman sebagaimana ultimatum Inggris tersebut.
Tidakmenepatinya berarti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, kehormatan dan apapun juga namanya yang tidak menguntungkan. Maka senjata-senjata mulai angkat bicara.Dan itulah jadinya. Surabaya menghadapi gempuran dari udara, darat dan laut, pada pagi hari 10 Nopember 1945.
Senjata-senjata mulai bicara dengan bahasanya sendiri. Orang menamakannya tembakan-tembakan atau serangan-serangan yang membabi buta. Dan itu tidak mengherankan dalam keadaan perang, karena peluru pun tidak bermata!
Perlawanan rakyat Surabaya, sesuai dengan tekad mereka, sengit sekali. Dengan dalih, bahwa orang-orang Indonesialah yang lebih dahulu menyerang, serangan-serangan Inggris semakin membabi buta.
Tiga pesawat Inggris ditembak jatuh, sekalipun harus ditebus dengan korban yang tidak sedikit di pihak rakyat, tentara dan penduduk biasa. Inggris mengerahkan serdadu-serdadu Gurkha. Jika ada tentara Inggris yang tewas dalam pertempuran, maka korban adalah Gurkha, bukan orang Inggris.
Di antara korban pada pihak penduduk sipil terdapat juga golongan India, Cina dan Arab, Ini merupakan musibah, tetapi bukannya tanpa manfaat.
Dunia telah menjadi ribut. Betapa peristiwa Surabaya itu kemudian hari berkembang dan menjadi hiasan sejarah, menjadi Hari Pahlawan 10 Nopember, yang diperingati setiap tahunnya oleh rakyat dan bangsa Indonesia.
Dalam rentetan peristiwa atau mungkin lebih tepat dinamakan dengan Revolusi Surabaya, yakni sejak Insiden Bendera di Hotel Yamato hingga meletusnya pertempuran 10 Nopember 1945, di mana-mana orang bisa mendengarkan gelegar suara Bung Tomo.
Bung Toma berpidato berapi-api. Betapa menggelegar dan menggunturnya suara itu di pusat siarannya dan setiap pidatonya diselingi dengan takbir Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar ...
Pertempuran-pertempuran di Surabaya 1945 berlanjut terus, laskar Pemberontak Rakyat Indonesia (LPRI) dengan gagah berani telah mempertahankan Kota Surabaya berhadapan dengan tentara Inggris dan Gurkha.
Segala taktik dijalankan, termasuk penghancuran gedung-gedung dan bangunan-bangunan penting, dibumihanguskan. Inggris menjatuhkan bom secara membabi buta, tetapi sedikitpun tidak melemahkan perlawanan rakyat surabaya. Di mana Inggris mendapat tanah untuk berpijak, maka di situ terjadi pertempuran-pertempuran.
Berita-berita yang didengar mengungkapkan pertempuram-pertempuran terjadi di mana-mana. Di surabaya ini tentara Inggris dengan Indian Infantry Brigade ke 49 pada penghujung Oktober 1945 menghadapi perlawanan rakyat yang tidak kepalangtanggung.
Inggris terdesak. Pemuda dan masyarakat Surabaya yang semangatnya dibakar Bung Tomo bukanlah seperti yang dibayangkan, yaitu kaum "ekstremisten" perampok, pembakar dan kaki tangan Jepang serta cap apapun yang merendahkan, mereka adalah orang-orang yang berani, penuh militansi, revolusioner, mengetahui untuk apa mereka berjuang dan untuk tujuan apa.
Mereka mampu bermain-main dengan alat senjata-senjata mutakhir, meriam, mortir dan kalau perlu golok, kapak, parang dan tentu sekali ... bambu runcing. Dan bambu runcing itulah yang paling ditakuti pihak yang berseberangan dengan mereka.
Markas besar sekutu di Jakarta mengirim laporan bagaimana terjepitnya keadaan tentara Inggris di Surabaya. Kalau tidak, mengapa markas itu meminta supaya Presiden-Soekarno turun tangan buat mengatasi situasi.
Pada penghujung Oktober 1945 itu,Bung Karno, Bung Hatta, Mr Amir Syarifuddin terbang ke Surabaya untuk menghentikan pertempuran yang sedang berkobar hebat. Perundingan dengan AWS Mallaby menghasilkan suatu persetujuan gencatan bersenjata.
Pemuda-pemuda dirangsang oleh keinginan yang meluap-luap untuk membuktikan kepada sekutu dan NICA yang membonceng, bahwa mereka ada, Republik itu nyata eksistensinya. Jadi bukan sekedar berkoar-koar melalui sebuah microphone seperti dituduhkan, tapi didukung oleh massa rakyat yang bersemboyan "Merdeka atau Mati".
Pertempuran Surabaya merupakan salah satu pertempuran yang memiliki intensitas tinggi dalam periode Perang Kemerdekaan Indonesia. Pihak Inggris yang dihadapi dalam pertempuran itu mengakui, bahwa pertempuran itu bagi mereka merupakan "inferno" atau Neraka.
Dalam kenyataannya, Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran terbesar yang pernah dilakukan Inggris selama bertugas atas nama sekutu di Indonesia.
Tidak kurang dari satu divisi yang terlatih baik dan mempunyai pengalaman dalam pertempuran-pertempuran besar, khususnya selama Perang Dunia I serta didukumg oleh persenjataan lengkap dan moderen, dikerahkan Inggris untuk menghadapi pemuda-pemuda di Surabaya yang boleh dikatakan belum berpengalaman tempur.
Jika ada kelebihan di pihak pemuda di Surabaya, kelebihan itu mungkin pada semangat yang didukung pula oleh motivasi kuat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Selama tiga pekan mereka bertempur mempertahankan kota, kampung demi kampung, jalan demi jalan, lorong ke lorong, bahkan rumah demi rumah yang kesemuanya disimpulkan bahwa tidak rela sejengkal tanah air Indonesia pun diduduki kembali oleh Bangsa Asing.
Pertempuran di Surabaya memperlihatkan ciri klasik dari sebuah perang kemerdekaan, yakni pertempuran yang tidak seimbang antara negara muda yang belum mempunyai pengalaman tempur dengan negara tua yang banyak pengalaman perangnya. Tetapi perang tidak mungkin dapat diukur dari hanya satu pertempuran saja, seperti yang terjadi di surabaya.
Pada akhir Nopember 1945, pihak Republik Indonesia terpaksa meninggalkan kota, namun tidak berarti bahwa sudah menyerah dan perang telah berakhir. Seperti diketahui, bahwa perang kemerdekaan baru berakhir empat tahun kemudian dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia oleh pihak yang berseberangan pada 27 Desember 1945.
Dampak pertempuran Surabaya cukup Luas, bukan saja untuk pihak Republik tetapi juga bagi pihak Inggris. Di Parlemen Inggris timbul protes yang tajam mengenai tindakan pasukan mereka di Surabaya pada khususnya dan di Indonesia umumnya.
Bagi kaum republikein, pertempuran itu menimbulkan inspirasi dan telah menggugah semangat pemuda-pemuda dari berbagai daerah, justeru pada saat baru saja memulai Perang Kemerdekaan.
Pertempuran yang terjadi di Surabaya itu dapat dikatakan telah dimulai rintisannya sejak insiden di Hotel Jamato. Jadi masyarakat Indonesia di Surabaya waktu itu, sejak 19 September sampai 10 Nopember 1945, sekitar lima puluh dua hari, dihadapkan pada kekuatan tiga bangsa. Harus menghadapi Belanda, Jepang yang masih ada dan Inggris dari pihak Sekutu.
Itulah peristiwa 10 Nopember 1945. Setahun kemudian, 1946, atau 80 tahun silam pemerintah Republik Indonesia menjadikannya sebagai Hari Pahlawan. (*)