Ponticity post author elgiants 04 November 2026

Guru Daerah Terpencil Pamerkan Inovasi Pembelajaran, Porsenijar PGRI Kalbar 

Photo of Guru Daerah Terpencil Pamerkan Inovasi Pembelajaran, Porsenijar PGRI Kalbar  INOVASI PEMBELAJARAN - Sebanyak 12 guru dan tenaga kependidikan dari 12 kabupaten/kota di Kalbar menampilkan inovasi pembelajaran dalam Inobel Porsenijar PGRI 2026 di Singkawang.

PONTIANAK, SP – Keterbatasan sarana dan jauhnya jarak tempuh tidak menyurutkan semangat guru dari sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk menghadirkan inovasi pembelajaran. 

Hal itu terlihat dalam Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam rangkaian Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah Guru (Porsenijar) 2026.

Sebanyak 12 guru dan tenaga kependidikan dari 12 kabupaten kota ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Mereka datang dari Sanggau, Kapuas Hulu, Sekadau, Melawi, Sintang, Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Sambas, Landak, Bengkayang, dan Kota Singkawang.

Dari 14 kabupaten kota di Kalbar, hanya Kota Pontianak dan Kabupaten Mempawah yang absen mengirimkan peserta pada hari perlombaan. Padahal, sejumlah peserta dari daerah yang jaraknya jauh tetap berjuang menempuh perjalanan panjang demi mempresentasikan karya terbaik mereka.

Di hadapan dewan juri, para peserta memaparkan gagasan dan hasil inovasi pembelajaran. Mereka tidak sekadar membawa konsep, tetapi juga melengkapi presentasi dengan alat peraga hingga demonstrasi langsung untuk memperlihatkan penerapan karya di lingkungan sekolah.

Ketua PGRI Provinsi Kalbar, Muhamad Firdaus, mengatakan Inobel menjadi ruang bagi guru untuk membuktikan bahwa inovasi pendidikan dapat lahir dari mana saja, termasuk sekolah yang berada di wilayah terpencil.

“Guru Kalbar tidak kalah dengan guru dari daerah lain. Hari ini kita melihat sendiri, dengan keterbatasan sarana, mereka mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan siswa. PGRI akan terus mendorong dan memfasilitasi guru-guru seperti ini,” ujarnya.

Menurut Firdaus, kreativitas guru perlu terus mendapat ruang dan dukungan agar mampu melahirkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Senada Sekretaris Umum PGRI Kalbar, Suherdiyanto, berharap karya-karya yang ditampilkan dalam lomba tidak berhenti sebagai materi kompetisi. Praktik baik tersebut perlu dibagikan agar dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah.

“Inovasi ini jangan berhenti di ruang lomba. Kami berharap praktik baik para peserta dapat dibagikan dan diterapkan oleh rekan-rekan guru di kabupaten masing-masing, sehingga dampaknya dirasakan lebih banyak siswa,” katanya.

Antusiasme peserta juga mendapat apresiasi dari dewan juri. Salah satu juri, Dedi Irwan, menilai para peserta menunjukkan kreativitas dan kesungguhan dalam menyiapkan karya, meskipun harus menghadapi tantangan perjalanan menuju Singkawang.

“Terlepas dari tantangan dan jarak tempuh yang jauh ke Singkawang, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk menampilkan yang terbaik,” tuturnya.

Kesungguhan tersebut terlihat dari beragam perlengkapan yang dibawa peserta. Ada guru yang membawa kompor dan perlengkapan pendukung untuk mendemonstrasikan alat penyuling air. Peserta lainnya membuat replika mesin dari kayu dengan ukuran hampir menyerupai bentuk aslinya karena peralatan sebenarnya tidak memungkinkan dibawa ke lokasi lomba.

Beragam karya yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana guru menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan dan potensi di lingkungan sekitar.

Salah satu karya yang menarik perhatian juri adalah mesin pencacah daun purik atau kratom buatan Sri Widarti, guru SMA Negeri 1 Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.

Melalui pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan STEAM, Sri mengajak siswa mempelajari materi hubungan roda setali melalui perancangan mesin pencacah. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan bagian-bagian mesin.

Alat tersebut dirancang untuk memisahkan daun dari batang sekaligus menghasilkan tiga tingkat cacahan, yakni agak kasar, sedang, dan halus.

Dari Kabupaten Ketapang, Asim Setiadi menghadirkan alat desalinasi yang mampu mengubah air asin menjadi air tawar. Inovasi ini dikembangkan melalui pembelajaran materi siklus air. 

Menurut Dedi Irwan, dewan juri bahkan telah mencoba langsung air hasil penyulingan tersebut.

“Dewan juri sudah mencoba langsung air hasil sulingannya, dan benar-benar menjadi air tawar,” ungkap Dedi.

Inovasi sains dan teknologi juga ditampilkan Betzy Carolin dari Sepauk, Kabupaten Sintang. Ia memanfaatkan sistem hidrolik berbahan alat suntik untuk mengajarkan materi fisika dan robotika. Bersama siswanya, Betzy membuat sejumlah miniatur, mulai dari jembatan hidrolik, parkir mobil hidrolik, hingga ekskavator.

Sementara itu, Teguh Sebtu Udin dari Kota Singkawang mengembangkan media pembelajaran digital untuk siswa SMK. Aplikasi tersebut dirancang sebagai sarana praktik menangani pemesanan tiket pesawat melalui telepon, sehingga siswa dapat berlatih menerima pesanan dan menghadapi berbagai skenario pelayanan.

Arif Supriyadi dari Kabupaten Sanggau turut menghadirkan inovasi digital berupa website pembelajaran biologi yang membahas materi enzim dan metabolisme.

Dari Kabupaten Kayong Utara, Muh Khamid, guru SMA Negeri 3 Simpang Hilir, mengangkat isu lingkungan melalui Proyek Duta Hutan. Inovasi pembelajaran geografi tersebut mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Adapun Mila Sopiana dari Kabupaten Landak mengembangkan pembelajaran fermentasi dengan memanfaatkan kulit nanas. Peserta lainnya menampilkan berbagai karya bertema teknologi tepat guna dan solusi sains bagi lingkungan, termasuk pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.

Beragam inovasi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas pembelajaran tidak selalu bergantung pada kelengkapan fasilitas. Dengan kemampuan membaca potensi lingkungan dan mengembangkan gagasan, guru dapat menghadirkan proses belajar yang lebih kontekstual, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan siswa.

Melalui Inobel Porsenijar PGRI 2026, PGRI Kalimantan Barat berharap praktik-praktik baik tersebut dapat terus dikembangkan dan disebarluaskan. Dengan demikian, manfaat inovasi tidak hanya dirasakan peserta lomba, tetapi juga menjangkau lebih banyak sekolah dan peserta didik di Kalbar. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda