PONTIANAK, SP – Upaya percepatan penurunan stunting di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan lewat Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) yang mengedepankan edukasi, pendampingan keluarga, serta pemberdayaan masyarakat sebagai strategi menekan angka stunting.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kalimantan Barat masih mencapai 26,8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Kondisi tersebut menjadikan Kalbar sebagai salah satu daerah prioritas dalam percepatan penanganan stunting.
Program PASTI merupakan kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Bakti BCA, yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). Di Kalbar, Kabupaten Kubu Raya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program hingga Januari 2027 karena menjadi salah satu daerah dengan prevalensi stunting yang masih tinggi.
Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana, dr. Nurizky Permanajati, mengatakan Program PASTI menjadi contoh nyata pelaksanaan intervensi stunting yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, hingga anak berusia dua tahun.
“Program PASTI menggambarkan bahwa upaya penurunan stunting harus berjalan di semua lini. Pendampingan dilakukan sejak calon pengantin, ibu hamil, hingga anak berusia dua tahun. Artinya, pencegahan stunting memang harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya saat kunjungan lapangan, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, percepatan penurunan stunting tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak agar intervensi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Ini merupakan kolaborasi yang baik dan harus terus dijalankan,” katanya.
Sepanjang 2025 hingga Semester I 2026, Program PASTI telah menjangkau 1.188 orang tua baduta dan ibu hamil melalui edukasi kelompok bagi keluarga berisiko stunting dan keluarga pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hasil monitoring menunjukkan sebanyak 1.137 penerima manfaat atau 95,7 persen telah memiliki pemahaman yang baik mengenai pencegahan stunting.
Program ini juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan bagi 67 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) pada 2025 serta penyegaran bagi 52 kader pada Semester I 2026.
Di tingkat desa, intervensi dilakukan melalui Pos Gizi DASHAT (PGD) yang telah berjalan di 20 desa dan kelurahan. Program tersebut melibatkan 290 baduta dan 159 ibu hamil berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) melalui pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan pangan lokal.
Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Michael Susanto, mengatakan stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
“Data 2024 menunjukkan prevalensi nasional masih berada di angka 19,8 persen atau sekitar satu dari lima anak Indonesia berisiko mengalami stunting. Karena kompleksitas persoalan ini, tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri. Kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Senior Manager Social Impact PT Amman Mineral, Aji Suryanto. Menurutnya, investasi dalam pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan nasional.
“Operasional perusahaan kami diproyeksikan berlangsung hingga puluhan tahun ke depan. Kami membutuhkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan terampil. Karena itu, pencegahan stunting menjadi sangat penting,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Cabang Utama BCA Pontianak, Suriyanto Daniel, menegaskan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus dimulai dari peningkatan kualitas manusia sejak usia dini.
“Kalau SDM-nya berkualitas, maka perekonomian juga akan semakin baik. Karena itu kami berkomitmen mendukung program ini melalui Bakti BCA,” ujarnya.
Program Director Wahana Visi Indonesia, Eben Ezer Sembiring, menjelaskan pendekatan Program PASTI tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga membangun kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga remaja dilibatkan dalam upaya memutus mata rantai stunting. Program ini juga melatih 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) sebagai peer educator yang telah menjangkau 460 remaja melalui edukasi pencegahan anemia dan stunting.
Selain memperkuat kapasitas Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di tingkat desa dan kecamatan melalui pelatihan pengelolaan data dan penyusunan intervensi berbasis kebutuhan masyarakat, Program PASTI juga menghadirkan berbagai inovasi desa seperti kebun gizi, pemanfaatan pekarangan, serta budidaya ayam petelur untuk mendukung pemenuhan kebutuhan protein keluarga.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas, Program PASTI diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan di Kalimantan Barat.