PONTIANAK,SP - Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) memperingati Dies Natalis ke-76 sebagai momentum refleksi perjalanan organisasi sekaligus peneguhan arah gerakan di tengah perubahan sosial dan tantangan zaman yang kian dinamis.
Koordinator Wilayah XIV PP GMKI Kalimantan Barat, Steper Vijaye, menyampaikan bahwa peringatan Dies Natalis ke-76 GMKI tidak sekadar menjadi perayaan bertambahnya usia organisasi, melainkan ruang evaluasi dan pembaruan gerakan agar tetap relevan dan berdampak bagi gereja, kampus, dan masyarakat.
“Usia ke-76 ini menandai fase kedewasaan GMKI. Organisasi tidak lagi diukur dari lamanya berdiri, tetapi dari kualitas kader dan dampak nyata yang dihasilkan,” ujarnya pada Sabtu (7/2/2026).
Steper menjelaskan, sejak awal berdiri GMKI dibentuk sebagai gerakan kader yang berlandaskan iman Kristen, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial. Nilai tersebut menjadi fondasi utama GMKI dalam membina mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
Menurutnya, jati diri GMKI tercermin dalam tiga kekuatan utama, yakni iman yang bertumbuh, pemikiran yang kritis, dan pelayanan yang nyata. Ketiga aspek tersebut menjadikan GMKI tetap relevan lintas generasi serta berperan sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan dan dialog kebangsaan.
Namun demikian, Steper menegaskan bahwa sejarah panjang GMKI tidak boleh menjadikan organisasi terlena. Justru, perjalanan tersebut harus menjadi energi untuk terus melakukan pembaruan.
Ia menilai, konteks kehidupan mahasiswa saat ini jauh berbeda dibandingkan masa awal GMKI berdiri. Perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, serta perubahan sosial yang cepat membawa tantangan tersendiri bagi gerakan mahasiswa.
Beberapa persoalan yang disorot antara lain menurunnya budaya membaca dan diskusi mendalam, maraknya disinformasi, polarisasi sosial, hingga kecenderungan pragmatisme dalam berorganisasi.
“Dalam situasi ini, GMKI dituntut untuk memperkuat kembali tradisi intelektual, spiritual, dan sosialnya. Kader tidak hanya dituntut aktif, tetapi juga reflektif dan solutif,” katanya.
Steper menegaskan bahwa kaderisasi merupakan nafas utama gerakan GMKI. Tanpa kaderisasi yang hidup dan bermakna, organisasi berpotensi kehilangan arah.
Dies Natalis ke-76, menurutnya, menjadi momentum penting untuk meninjau kembali kualitas pembinaan kader, termasuk memastikan bahwa proses kaderisasi tidak bersifat formalitas, melainkan sungguh membentuk karakter, daya pikir, dan kepekaan sosial kader.
“Kaderisasi GMKI harus menyentuh spiritualitas, intelektualitas, dan kepekaan sosial, serta tetap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasar,” ujarnya.
Selain sebagai organisasi kader, GMKI juga ditegaskan sebagai rumah doa dan rumah talenta. Sebagai rumah doa, GMKI menjadi ruang pertumbuhan iman dan persekutuan. Sementara sebagai rumah talenta, GMKI mendorong kader mengembangkan potensi kepemimpinan, pemikiran kritis, dan kemampuan berkarya.
“Keseimbangan antara iman dan karya adalah kekuatan khas GMKI yang harus terus dijaga,” tambah Steper.
Steper juga menegaskan bahwa GMKI tidak bergerak secara eksklusif. Sebagai gerakan oikumene dan nasionalis, GMKI berkomitmen pada persatuan gereja, keutuhan NKRI, dan nilai-nilai Pancasila.
Di tengah berbagai persoalan bangsa seperti pendidikan, lingkungan, kemiskinan, konflik sosial, dan etika publik, kader GMKI diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi melalui kerja nyata dan kolaborasi lintas iman serta lintas komunitas.
“Kesaksian iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata,” tegasnya.
Memasuki usia ke-76 tahun, GMKI diharapkan terus melakukan pembaruan dengan memperkuat budaya literasi dan diskusi, kaderisasi berbasis karakter, pemanfaatan teknologi, serta perluasan gerakan sosial.
“GMKI akan tetap hidup bukan karena usianya, tetapi karena kader-kadernya yang terus bertumbuh dan memberi dampak bagi gereja, bangsa, dan masyarakat,” pungkas Steper.