Ponticity post authorelgiants 08 Mei 2026

HUT Suara Pemred ke 12 Tahun, Bacalah Dengan Hatimu! Apresiasi Kepala Daerah

Photo of HUT Suara Pemred ke 12 Tahun, Bacalah Dengan Hatimu! Apresiasi Kepala Daerah

Hari ini,  Sabtu 9 Mei 2026 Koran Harian Suara Pemred asal Kalimantan Barat ini telah berumur 12 tahun.   Media cetak dan online ini tidak dibangun sendirian. Dia lahir dari sosok  seorang anak daerah terpencil dan telah menjadi  tokoh besar nasional yang berasal dari Kalimantan Barat, Dr. Oesman Sapta.

“ Suara Pemred harus menjadi media yang berwibawa, “  pesan Oesman Sapta , Owner Suara Pemred kepada Tim Redaksi Suara Pemred beserta puluhan wartawan yang masih bau kencur pada tahun 2014.

Pada saat itu ada tiga sosok Jurnalis Senior yang bergabung di Koran Harian Suara Pemred .  Dia adalah Joko Albert atau yang disapa Cak Albert, yang dipercaya sebagai Pimpinan Umum (PU).   Cak Albert ini merupakan mantan Pimpinan Redaksi Tribun Pontianak ( Kompas Group).

Sementara  pimpinan perusahaan dijabat Lamhot Sihotang mantan manajer marketing Koran Tribun Pontianak dan sebelumnya pernah menjadi  wartawan Majalah Forum. Sedangkan komando Pimpinan Redaksi dipercayakan kepada Harry Daya mantan wartawan senior Majalah Tempo yang juga sebelumnya sempat “keliling“ menjadi jurnalis muda di sejumlah media milik Jawa Pos Group di Jakarta.

Koran Suara Pemred dari awal berangkat dengan roh para jurnalis  “ Berani Mengungkap Kebenaran ” tak boleh takut dengan siapapun jika kita menulis dan memberitakan sesuatu yang benar.  Karena komitmen untuk menjaga kepercayaan masyarakat dengan tetap mebuka ruang Pengaduan Masyarakat adalah hal yang paling utama.

Dan hari ini Sabtu 9 Mei 2026, dengan takeline Bacalah Dengan Hatimu…..jika tulisan laporan penting yang kita sajikan tidak bisa dirasakan oleh mata telanjang.

Harry Daya

Pimpinan Redaksi

PONTIANAK, SP – Media harian lokal terkemuka di Kalimantan Barat, Suara Pemred, resmi menginjak usia ke-12 tahun pada hari ini, Sabtu (9/5/2026). Perayaan hari jadi yang mengusung semangat kolaborasi dan keterbukaan informasi ini mendapat apresiasi luas dari jajaran pemerintahan hingga tokoh masyarakat di Bumi Khatulistiwa.

Sejak pertama kali terbit, Suara Pemred dikenal konsisten menyajikan pemberitaan investigatif dan edukatif. Di usia yang semakin matang, media ini berkomitmen untuk terus bertransformasi dan menjaga marwah jurnalistik di tengah gempuran era digitalisasi serta arus disinformasi.

Pontianak: Mitra Strategis dan Kontrol Sosial

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Suara Pemred selama 12 tahun terakhir. Menurutnya, keberadaan media sangat krusial dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang berimbang.

"Media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan kontrol sosial. Kami mengapresiasi kontribusi Suara Pemred dalam menjaga kondusivitas daerah. Semoga semakin maju, profesional, dan terus dipercaya masyarakat," ujar Edi.

Ia juga berharap hubungan baik antara pemerintah dan insan pers terus terjalin agar program pelayanan publik dapat tersampaikan secara luas dan tepat kepada masyarakat.

Ketapang: Jembatan Komunikasi Pemerintah dan Masyarakat

Ucapan selamat juga datang dari Bupati Ketapang, Alexander Wilyo. Ia menilai Suara Pemred telah menjalankan peran penting sebagai pilar keempat demokrasi dan jembatan komunikasi yang efektif.

"Media yang sehat mampu memperkuat partisipasi publik dalam pembangunan. Saya berharap Suara Pemred terus menjaga integritas jurnalistik, tetap inspiratif, inovatif, dan selalu dekat dengan masyarakat di tengah tantangan dunia digital yang cepat berubah," ungkap Alexander.

Singkawang: Suara Jernih Melawan Hoaks

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menekankan pentingnya kehadiran media kredibel di tengah derasnya informasi digital. Ia memuji langkah Suara Pemred yang konsisten mengedepankan fakta.

"Di usia ke-12 ini, semoga Suara Pemred selalu memberikan informasi yang akurat bagi masyarakat Kalbar dan Indonesia. Teruslah menjadi suara yang jernih dan berpihak pada kebenaran untuk melawan hoaks yang dapat memecah belah persatuan," tegasnya.

Kayong Utara: Semangat Positif dan Independensi

Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, turut menyampaikan harapannya agar Suara Pemred tetap teguh pada prinsip profesionalisme dan independensi.

"Kami berharap Suara Pemred senantiasa diberikan kelancaran dan terus tumbuh menjadi media yang mampu menginspirasi publik dengan semangat positifnya," tutur Romi.

Refleksi 12 Tahun Perjalanan

Peringatan HUT ke-12 ini menjadi momentum refleksi bagi seluruh jajaran redaksi Suara Pemred. Dengan semangat untuk terus berkembang, media ini berkomitmen tidak hanya sekadar bertahan di era digital, tetapi tetap menjadi referensi utama yang mencerdaskan dan membawa optimisme bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat.

Selamat Ulang Tahun ke-12, Suara Pemred! Jaya dan Sukses Selalu. (din/ble/teo/rud)

Melawan arus selama 12 tahun bukan kerja yang ringan. Tapi justru di situlah marwah jurnalisme Suara Pemred diuji.

Kalau motto Suara Pemred adalah "melawan arus", maka 12 tahun ini artinya:

1. Melawan arus sensasi, memilih substansi

Di saat banyak media berlomba cepat tanpa cek, Suara Pemred memilih melambat untuk memastikan. Headline boleh kalah cepat, tapi akurasi tidak boleh kalah. Melawan arus berarti berani sepi demi kebenaran yang utuh.

2. Melawan arus kepentingan, berpihak pada publik

12 tahun bukan waktu sebentar untuk digoda kuasa dan uang. Melawan arus berarti menolak amplop, menolak pesanan, menolak jadi corong. Sakitnya dicap "tidak bersahabat", tapi leganya tidur karena nurani tidak tergadai.

3. Melawan arus bising, merawat hening

"Bacalah Dengan Hatimu" adalah bentuk lain dari melawan arus. Ketika semua menyuruh orang berteriak, Suara Pemred mengajak pembaca untuk diam sejenak. Memahami, merenung, baru bersikap. Karena jurnalisme bukan cuma soal bicara, tapi soal mendengar yang tak terdengar.

4. Melawan arus lupa, menjaga ingatan

Banyak kasus tenggelam karena siklus berita 24 jam. Melawan arus berarti konsisten mengawal isu sampai tuntas. 12 tahun adalah bukti bahwa Suara Pemred tidak gampang pindah ke lain hati ketika publik sudah bosan.

Jadi ya, menjalankan profesi jurnalis 12 tahun dengan motto "melawan arus" itu berarti memilih jalan sunyi yang penuh risiko, tapi kaya makna. Tidak populer di mata penguasa, tapi terhormat di mata sejarah.

Hasilnya? Kepercayaan pembaca. Karena publik tahu: media yang berani melawan arus hari ini, adalah media yang akan menjaga mereka ketika badai datang.

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda