PONTIANAK, SP - Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak mencatat sejarah baru dalam pengembangan pendidikan tinggi di Kalimantan Barat (Kalbar).
Hal ini tampak saat 46 guru besar yang tergabung dalam Paguyuban Profesor Jawa Barat dan Banten hadir di UPB Pontianak pada Rabu (29/7/2026), dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional bertajuk "Penguatan SDM Dosen dan Perguruan Tinggi Berdampak."
Kegiatan yang dihadiri puluhan profesor dari berbagai perguruan tinggi swasta tersebut bukan sekadar agenda akademik.
Lebih dari itu, menjadi langkah strategis membangun jejaring nasional, memperkuat kualitas dosen, meningkatkan tata kelola perguruan tinggi, hingga membuka peluang lahirnya lebih banyak guru besar di Kalimantan Barat.
Acara dibuka dengan sambutan dari Plh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalbar Syarif Faisal Indahmawan Al-Kadrie, didampingi Rektor UPB, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., Ketua Paguyuban Profesor Jawa Barat dan Banten, Prof. Dr. Edi Setiadi, S.H., MH.,
serta dihadiri jajaran kepengurusan Yayasan Panca Bhakti dan Anggota DPD RI Dapil Kalbar, sekaligus Sultan Pontianak, Syarif Melvin Alkadrie.
Selain seminar dan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UPB dengan sekitar 26 perguruan tinggi dari Jawa Barat.
Kolaborasi Antar PTS Harus Menghapus Rasa Inferior
Ketua Paguyuban Profesor Jawa Barat dan Banten, Prof. Dr. Edi Setiadi, S.H., MH., mengatakan organisasi yang dipimpinnya memiliki salah satu program utama berupa penguatan kolaborasi antarpendidikan tinggi swasta (PTS) di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kedatangan puluhan profesor ke Kalimantan Barat bukan untuk mengajarkan satu pihak kepada pihak lain, melainkan saling belajar dan berbagi keunggulan yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi.
"Tidak boleh ada perguruan tinggi yang merasa paling hebat atau justru merasa inferior. Belum tentu perguruan tinggi di Jawa lebih baik dibandingkan Kalbar. Justru setiap kampus memiliki keunggulannya masing-masing. Kita datang untuk saling melengkapi," katanya.
Ia menegaskan, sebagian besar anggota paguyuban merupakan profesor yang memiliki kualitas akademik setara dengan guru besar dari perguruan tinggi negeri maupun kampus ternama lainnya.
Karena itu, menurutnya, kolaborasi menjadi kekuatan utama menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, terutama di tengah keterbatasan pembiayaan.
"Kalau kita berkolaborasi, kita bisa saling berbagi sumber daya, penelitian, hingga pengembangan dosen. Bahkan bukan tidak mungkin dosen-dosen Kalimantan Barat nantinya melanjutkan studi atau meningkatkan kompetensi melalui skema kerja sama dengan perguruan tinggi di Jawa Barat," ujarnya.
Ia juga menilai, sinergi antarkampus akan memperbesar peluang memperoleh hibah penelitian, pengabdian masyarakat, maupun program pengembangan dosen dari pemerintah.
"Kalau berjalan sendiri-sendiri tentu berat. Tetapi kalau bersama, kekuatan kita jauh lebih besar."
UPB Gandeng 26 Perguruan Tinggi
Rektor UPB Pontianak, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., mengatakan kunjungan para profesor merupakan momentum penting bagi pengembangan UPB maupun perguruan tinggi di Kalimantan Barat secara umum.
Menurutnya, sekitar 26 perguruan tinggi dari Jawa Barat akan menjalin kerja sama resmi dengan Universitas Panca Bhakti.
Kerja sama tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, hingga penguatan tata kelola perguruan tinggi.
"Empat puluh enam guru besar yang hadir hari ini sebagian besar juga merupakan pimpinan perguruan tinggi di Jawa Barat. Ini menjadi kehormatan bagi UPB sekaligus menjadi awal kolaborasi jangka panjang," kata Purwanto.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat mempercepat peningkatan kualitas dosen di Kalimantan Barat sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak guru besar.
"Kami ingin peningkatan sumber daya manusia benar-benar berdampak. Dengan kolaborasi ini, dosen-dosen di Kalbar memiliki ruang belajar yang lebih luas dan kesempatan berkembang lebih besar."
Kebanggaan Kalbar jadi Tuan Rumah
Plh Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Al-Kadrie, mengaku bangga karena Kalimantan Barat dipilih sebagai lokasi kegiatan nasional tersebut.
Menurutnya, kehadiran para guru besar menjadi kesempatan emas bagi perguruan tinggi di daerah untuk meningkatkan kualitas akademik maupun tata kelola institusi.
"Tentu kita sangat bangga didatangi Paguyuban Guru Besar dari Jawa Barat. Kami juga mengapresiasi UPB yang berhasil menghadirkan kegiatan sebesar ini ke Kalbar," ujarnya.
Ia menjelaskan terdapat tiga agenda besar dalam kerja sama tersebut, yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia dosen, penguatan penjaminan mutu perguruan tinggi, dan peningkatan tata kelola universitas.
"Perguruan tinggi di Kalbar tentu bisa belajar banyak dari para profesor dalam mengembangkan kampus, meningkatkan mutu layanan pendidikan, hingga memperkuat sistem penjaminan mutu."
Syarif Faisal juga menyebut kegiatan tersebut merupakan yang pertama di Indonesia.
"Ini menjadi pionir. Paguyuban Profesor Jawa Barat menjadi penggerak pertama yang membangun kolaborasi seperti ini secara nasional. Mudah-mudahan bisa menjadi contoh bagi provinsi lain."
Jadi Motivasi bagi Dosen Kalbar
Sementara itu, Anggota DPD RI Dapil Kalbar sekaligus Sultan Pontianak, Syarif Melvin Alkadrie, menilai kehadiran para guru besar menjadi suntikan semangat bagi dunia pendidikan tinggi di Kalimantan Barat.
Menurutnya, semakin banyak interaksi akademik dengan profesor dari luar daerah, semakin besar pula peluang peningkatan kualitas dosen dan perguruan tinggi.
"Kehadiran para guru besar dari Jawa Barat ini menjadi motivasi bagi dosen-dosen di Kalbar untuk terus berkembang, meningkatkan kapasitas, dan semakin bersemangat meraih jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar," katanya.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi diwujudkan dalam program nyata seperti penelitian bersama, pendampingan dosen, hingga pertukaran akademisi.
Menuju Perguruan Tinggi Berdampak
Tema "Penguatan SDM Dosen dan Perguruan Tinggi Berdampak" dinilai sangat relevan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang menekankan kolaborasi, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui kehadiran 46 profesor dari Jawa Barat dan Banten, Kalbar memperoleh kesempatan membangun jejaring akademik yang lebih luas sekaligus mempercepat transformasi perguruan tinggi agar semakin kompetitif.
Kerja sama lintas daerah tersebut diharapkan melahirkan lebih banyak dosen bergelar doktor dan guru besar, memperkuat budaya penelitian, meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat, serta menghadirkan tata kelola perguruan tinggi yang semakin profesional.
Bagi UPB, kegiatan nasional ini menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring akademik sekaligus menegaskan komitmennya menjadi salah satu motor penggerak peningkatan mutu pendidikan tinggi di Kalbar.
Dengan semangat kolaborasi, kampus tidak lagi berjalan sendiri, melainkan tumbuh bersama perguruan tinggi lain untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang benar-benar berdampak bagi masyarakat. (mul0