Ponticity post author elgiants 31 Agustus 2026

Pemkot Pontianak Siagakan Faskes dan Posko Kesehatan Antisipasi Lonjakan Pasien

Photo of Pemkot Pontianak Siagakan Faskes dan Posko Kesehatan Antisipasi Lonjakan Pasien CEK KESIAPAN – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono bersama jajaran Pemkot Pontianak meninjau sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Kota Pontianak dan sejumlah pusat kesehatan masyarakat.

PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan (faskes) menyusul kondisi kabut asap yang dalam beberapa hari terakhir semakin memburuk.

Antisipasi dilakukan untuk menghadapi potensi peningkatan jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas, telah diminta meningkatkan kesiapan pelayanan.

Ketersediaan oksigen juga menjadi salah satu perhatian, terutama untuk mengantisipasi masyarakat yang mengalami keluhan sesak napas akibat paparan asap.

“Pemerintah Kota Pontianak tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. Faskes sudah diminta siap, termasuk ketersediaan oksigen bagi masyarakat yang mengalami sesak napas,” ujar Edi.

Edi mengatakan, kesiapan tersebut menjadi langkah antisipasi mengingat kondisi udara di Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori yang mengkhawatirkan. Pemkot tidak ingin menunggu sampai terjadi lonjakan pasien baru kemudian melakukan penanganan.

Untuk memastikan kesiapan tersebut, Edi bersama jajaran Pemkot Pontianak telah meninjau sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Alkadrie (RSUD SSMA) Kota Pontianak dan sejumlah pusat kesehatan masyarakat.

“Saya memastikan rumah sakit, puskesmas, serta posko kesehatan siap memberikan layanan apabila terjadi peningkatan keluhan kesehatan masyarakat,” katanya.

Menurut Edi, hasil pemantauan di lapangan menunjukkan pelayanan kesehatan di rumah sakit masih berjalan dan kondisi pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) masih terkendali.

Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena kondisi kabut asap masih berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.

“Saya sudah ke Rumah Sakit Kota Pontianak dan faskes memastikan kesiapan sarana kesehatan kita terhadap antisipasi dampak karhutla dan kabut asap yang melanda Kota Pontianak,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari hasil pemantauan di IGD RSUD SSMA, memang terdapat sejumlah pasien yang mendapatkan pelayanan. Namun, hingga saat ini pasien tersebut tidak datang dengan keluhan yang secara langsung disebabkan oleh Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Di IGD ada beberapa pasien, tetapi bukan disebabkan karena ISPA. Namun kita tetap harus siaga,” tegasnya.

Selain rumah sakit dan puskesmas, Pemkot Pontianak juga menyiapkan posko layanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Salah satunya berada di PMI Kota Pontianak. Posko tersebut disiapkan sebagai bagian dari respons pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan maupun bantuan oksigen.

Keberadaan posko kesehatan dinilai penting, terutama apabila kondisi kabut asap semakin memburuk dan mulai meningkatkan keluhan masyarakat. Pemkot juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus penyakit yang berpotensi mengalami peningkatan selama kabut asap melanda.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kasus ISPA. Dinas Kesehatan Kota Pontianak sebelumnya mencatat adanya peningkatan kasus ISPA sekitar 5 hingga 10 persen dalam sepekan terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko mengatakan peningkatan tersebut terlihat dari perbandingan jumlah kasus harian pada pekan sebelumnya dengan pekan berjalan.

“Berdasarkan data, memang mulai minggu kemarin sampai minggu ini ada peningkatan kasus ISPA, kira-kira 5-10 persen peningkatannya dari kasus harian,” kata Saptiko di Pontianak.

Meski demikian, Dinas Kesehatan tidak serta-merta menyimpulkan seluruh peningkatan kasus ISPA tersebut disebabkan oleh kabut asap karhutla. Menurut Saptiko, ISPA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Namun, memburuknya kualitas udara akibat asap menjadi salah satu faktor yang diduga ikut memicu peningkatan keluhan pernapasan.

“Kami tidak bisa membedakan apakah itu kasus ISPA karena asap atau bukan. ISPA itu banyak faktor lain yang menyebabkan. Tapi indikasi dengan adanya asap, ada peningkatan kasus ISPA,” jelasnya.

Selain ISPA, masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Paparan asap dan partikel di udara dapat menjadi pemicu serangan asma, khususnya bagi penderita yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara.

“Biasanya asma. Kasus asma meningkat karena pada orang yang punya asma, asap mencetuskan timbulnya serangan pada mereka,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti lanjut usia, ibu hamil, bayi, balita, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma maupun penyakit jantung.

Bagi masyarakat yang tetap harus melakukan aktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel dari udara yang tercemar asap.

Saptiko juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi lingkungan selama musim kemarau. Selain persoalan udara, pemerintah turut mewaspadai potensi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi air dan sanitasi.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit lain, termasuk diare. Kondisi kemarau dan perubahan kualitas lingkungan dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Selain ISPA, Pemkot Pontianak juga mewaspadai potensi gangguan kesehatan lain, termasuk diare. Kondisi air yang terganggu akibat musim kemarau dan kualitas lingkungan yang menurun berisiko memengaruhi kesehatan masyarakat,” jelas Edi.

Namun, berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, hingga saat ini belum terlihat adanya peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan kualitas air.

Hal tersebut salah satunya karena sebagian besar masyarakat Kota Pontianak menggunakan air minum dalam kemasan maupun air isi ulang yang secara rutin mendapat pemantauan.

“Kalau saya lihat, untuk penyakit terkait kualitas air tidak ada masalah, tidak ada kenaikan. Masyarakat Kota Pontianak sebagian besar menggunakan galon,” kata Saptiko.

Dinas Kesehatan, lanjutnya, juga melakukan pemantauan terhadap usaha pengisian ulang air galon untuk memastikan aspek kebersihan dan kesehatan air yang dikonsumsi masyarakat.

Sementara bagi warga yang masih memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, Saptiko meminta agar penggunaannya dilakukan secara lebih hati-hati. Air hujan yang turun pertama kali setelah periode tertentu berpotensi membawa berbagai kotoran dari udara maupun permukaan tempat penampungan.

“Sebaiknya, waktu hujan yang pertama itu jangan digunakan karena masih kotor,” ujarnya.

Terkait penggunaan air payau maupun air asin untuk kebutuhan tertentu, Saptiko mengatakan kondisi tersebut tidak secara langsung menimbulkan masalah kesehatan pada kulit. Meski demikian, masyarakat tetap diminta memperhatikan kebersihan air yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Di tengah kondisi kabut asap yang masih melanda, Pemkot Pontianak memastikan kesiapan layanan kesehatan akan terus dipantau. Pemerintah juga mengajak masyarakat ikut mengambil langkah pencegahan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker saat berada di luar rumah, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, atau gangguan kesehatan lainnya.

Kesiapan fasilitas kesehatan tersebut menjadi bagian dari langkah Pemkot Pontianak dalam menghadapi dampak karhutla yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Dengan kondisi kabut asap yang masih berpotensi berubah sewaktu-waktu, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan. Terutama bagi kelompok rentan, kewaspadaan dan pembatasan aktivitas di luar rumah dinilai penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Pemkot Pontianak pun memastikan koordinasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat terus diperkuat agar apabila terjadi peningkatan kasus atau lonjakan pasien akibat dampak kabut asap, penanganan dapat dilakukan dengan cepat. (tim/ant)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda