Sintang post author elgiants 31 Agustus 2026

Menhut Dituding "Garam Betukuk" Warga Kalbar Protes Menhut Setengah Hati Tangani Karhutla, Pejabat Sintang Tanyakan Anggaran Karhutla dari Pusat

Photo of Menhut Dituding

SINTANG, SP - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Api tidak hanya membakar hamparan lahan gambut, tetapi mulai mengancam permukiman, fasilitas umum, jalur transportasi hingga keselamatan warga.

Di Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, warga bahkan harus berhadapan langsung dengan kobaran api yang mengepung kawasan mereka pada Minggu (30/8/2026).

Situasi tersebut menjadi gambaran nyata betapa seriusnya ancaman karhutla di Kalbar. Ketika api terus menjalar, pemerintah daerah memperkuat operasi pemadaman hingga malam hari.

Di saat yang sama, bantuan internasional dari Jepang mulai bergerak dengan mengirimkan kapal JS Kunisaki yang membawa tiga helikopter CH-47 untuk membantu Indonesia menangani karhutla di Kalimantan.

Amarah Sekda Kartiyus
Sekretaris Daerah (Sekda) Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), Kartiyus, melontarkan kritik keras kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Sintang.

Kartiyus meminta Menteri Kehutanan tidak hanya menyerahkan persoalan karhutla kepada pemerintah daerah, tetapi turut turun tangan dalam penanganan di lapangan.

Menurutnya, penanganan karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan.

“Jangan urusan penyakit ini saja diserahkan ke bupati. Jaga hutan kalau sudah terbakar begini, bupati. Mana Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan? Jaga tuh hutannya, jangan dibiarkan terbakar,” tegas Kartiyus.

Selain menyoroti penanganan karhutla, Kartiyus juga menyinggung kondisi personel Manggala Agni yang berada di lapangan. Ia meminta Menteri Kehutanan memperhatikan kebutuhan personel yang berjibaku memadamkan api.

“Anak buahmu di Manggala Agni itu nggak makan. Masa bupati yang ngasih dia makan? Kasih makan anak buahmu yang madam apinya itu,” ujarnya.

Kartiyus menilai personel yang ditugaskan untuk menangani karhutla di lapangan perlu mendapatkan dukungan yang memadai agar dapat menjalankan tugas secara maksimal.

Ia juga mengingatkan bahwa Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) berada dalam lingkup Kementerian Kehutanan. Karena itu, menurut Kartiyus, pemerintah pusat perlu memberikan perhatian dan dukungan terhadap jajaran yang bertugas di daerah.

“KPH kita itu kan anak buah Raja Juli Antoni. Eh, Menteri, turun tangan bantu anak buahmu di lapangan ya,” tegasnya.

 Rumah Warga dan Makam Keluarga Terbakar

Api di Dusun Lintang Batang mulai membesar sejak siang hari. Sekitar pukul 15.40 WIB, kobaran api telah menjalar hingga mendekati Jalan Trans Kalimantan sehingga arus lalu lintas sempat lumpuh total.

Warga bersama personel TNI-Polri dan petugas pemadam kebakaran berupaya keras memadamkan api yang merambat ke tepi jalan nasional.

Setelah berjibaku beberapa jam, kobaran api di sekitar jalan berhasil ditangani dan kendaraan mulai dapat kembali melintas sekitar pukul 17.30 WIB.

Namun, situasi belum benar-benar aman. Asap pekat membuat jarak pandang pengendara sangat terbatas. Setelah magrib, kobaran api kembali membesar dan merambat melalui semak belukar serta lahan gambut yang kering. Api bergerak semakin dekat ke kawasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Langit di sekitar lokasi berubah memerah. Kepungan asap membuat suasana semakin mencekam. “Kebakaran di Ambawang sudah dekat SPBU!” teriak warga saling mengingatkan.

Kondisi tersebut membuat warga mulai melakukan evakuasi secara mandiri. Anak-anak dan lanjut usia dipindahkan ke tempat yang dianggap lebih aman. Sebagian warga memilih meninggalkan rumah karena khawatir api terus menjalar.

Kobaran api juga dilaporkan membakar rumah warga serta kawasan pemakaman keluarga. Bagi masyarakat Lintang Batang, kebakaran tersebut bukan lagi sekadar bencana lingkungan, melainkan tragedi yang mengancam tempat tinggal dan ruang yang memiliki nilai emosional bagi keluarga mereka.

Puluhan petugas pemadam swasta bersama warga serta aparat TNI-Polri terus bersiaga di sekitar lokasi. Fokus utama diarahkan untuk melokalisasi api agar tidak mencapai SPBU dan permukiman yang lebih padat.

Medan yang berupa gambut dalam menjadi tantangan tersendiri. Api dapat menjalar melalui lapisan bawah permukaan dan kembali muncul di lokasi yang sebelumnya terlihat sudah padam.

Beberapa petugas bahkan sempat tumbang akibat terpapar asap pekat. Ambulans yang berada di sekitar lokasi langsung memberikan pertolongan, termasuk bantuan oksigen.

Hingga sekitar pukul 23.00 WIB, tim gabungan bersama masyarakat masih berjibaku mengendalikan kebakaran. Pemadaman terkendala keterbatasan pasokan air serta sulitnya menjangkau titik-titik api yang terus merambat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran gambut tidak mudah ditangani hanya dengan mengandalkan pemadaman di permukaan.

Perintahkan Pemadaman 24 Jam

Kondisi di Lintang Batang menjadi bagian dari situasi Karhutla yang lebih luas di Kalbar. Pemerintah Provinsi Kalbar pun memperkuat operasi penanganan di sejumlah wilayah.

Gubernur Kalbar, Ria Norsan menegaskan seluruh personel dan sumber daya yang tersedia dikerahkan secara maksimal untuk mengendalikan kebakaran.

“Seluruh personel dan sumber daya yang tersedia terus kita kerahkan secara maksimal. Penanganan dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan untuk memastikan titik-titik kebakaran dapat segera dikendalikan serta tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” kata Norsan, Senin (31/8/2026).

Norsan meminta seluruh jajaran memperkuat patroli dan pemadaman dini selama 24 jam di kawasan rawan. Pemadaman malam hari juga diperintahkan untuk terus dilakukan, terutama pada titik-titik yang berada dekat permukiman dan kawasan vital.

Menurutnya, operasi malam memiliki keuntungan karena suhu udara lebih rendah dan kelembapan lebih tinggi sehingga dapat membantu efektivitas pemadaman.

“Semakin cepat api ditemukan dan dipadamkan, semakin kecil risiko kebakaran meluas, terutama pada kawasan gambut yang sangat rentan,” ujarnya.

Selain pemadaman, pemerintah memperkuat pembasahan lahan gambut atau rewetting, pembangunan sekat bakar serta penggunaan pompa bertekanan tinggi untuk mempertahankan kelembapan lahan.

Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, Manggala Agni, perusahaan pemegang konsesi dan Masyarakat Peduli Api juga terus dilakukan.

Dukungan operasi udara melalui water bombing diprioritaskan untuk lokasi yang sulit dijangkau tim darat.

Langkah tersebut menjadi penting karena data terbaru menunjukkan kondisi karhutla Kalbar masih berada pada level serius. BNPB pada Senin (31/8/2026) mencatat 7.377 titik panas di Kalbar, meningkat 3.553 titik. Dari jumlah tersebut terdapat 104 fire spot, naik 88 titik, dengan jarak pandang di sejumlah wilayah kurang dari satu kilometer. BNPB juga memperkirakan sebaran polutan di Kalbar masih relatif pekat pada 31 Agustus hingga 1 September.

Super Puma hingga Caracal

Penanganan Karhutla di Kalbar terus diperkuat. Di tengah meluasnya titik api dan kepungan kabut asap, TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan kekuatan udara, personel serta peralatan untuk membantu pemerintah mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.

Melalui Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio, Kubu Raya, sejumlah alutsista dikerahkan, yakni Helikopter Super Puma dari Skadron Udara 6, Helikopter EC-725 Caracal dari Skadron Udara 8, serta pesawat Casa NC-212i dari Skadron Udara 4. Operasi diperkuat pesawat Hercules untuk mendukung mobilisasi personel dan logistik.

Super Puma dan EC-725 Caracal digunakan dalam misi water bombing, dengan menjatuhkan air langsung ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Pada Jumat (28/8/2026), Super Puma Skadron Udara 6 melaksanakan misi pemadaman dari udara. Penerbangan tersebut dipimpin langsung Komandan Skadron Udara 6 Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol.

Komandan Lanud Supadio Marsma TNI Sidik Setiyono, S.E., M.Han., menegaskan TNI AU terus memberikan dukungan maksimal dalam penanganan karhutla. Menurutnya, pengerahan kekuatan udara merupakan bentuk kesiapsiagaan TNI AU membantu pemerintah melindungi masyarakat dan lingkungan.

Selain pemadaman, TNI AU mengerahkan pesawat Casa dari Skadron Udara 4 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pesawat melakukan penyemaian bahan semai berupa garam pada wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan dengan harapan dapat meningkatkan peluang turunnya hujan dan membasahi lahan yang kering.

Dukungan juga diberikan melalui pengiriman peralatan. Pada Kamis (27/8/2026), sebanyak 30 unit mesin pompa air beserta perlengkapan pendukung tiba di Lanud Supadio menggunakan pesawat Hercules dari Skadron Udara 33.

Bantuan pemerintah pusat tersebut selanjutnya digunakan untuk memperkuat pemadaman di darat, terutama di lokasi dengan keterbatasan sumber air.

TNI AU juga menyiagakan personel tambahan yang dikirim menggunakan pesawat Hercules untuk memperkuat Satgas Karhutla di lapangan. Personel tersebut mendukung patroli, pemadaman, pembasahan lahan serta pencegahan munculnya kembali titik api.

Pengerahan kekuatan udara dilakukan karena kondisi karhutla Kalbar cukup kompleks. Lahan gambut yang kering, sumber air terbatas, medan sulit dan angin kencang membuat api mudah menjalar. Kabut asap yang dihasilkan juga mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Karena itu, penanganan dilakukan secara terpadu bersama BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, pemadam kebakaran swasta, perusahaan dan masyarakat. Tim darat menjadi ujung tombak pemadaman, sedangkan kekuatan udara diarahkan untuk membantu lokasi yang sulit dijangkau dan membutuhkan penanganan cepat.

Dengan kombinasi water bombing, OMC, pengerahan personel, distribusi mesin pompa serta dukungan logistik, TNI AU terus memperkuat operasi penanggulangan karhutla dari Lanud Supadio.

Upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat pengendalian kebakaran, mengurangi sumber kabut asap dan mencegah dampaknya semakin meluas di Kalbar.

 Jepang Turunkan JS Kunisaki dan Tiga Helikopter CH-47

Di tengah upaya Indonesia memperkuat operasi darat dan udara, bantuan internasional mulai bergerak. Pemerintah Jepang mengerahkan kapal JS Kunisaki untuk membantu Indonesia menangani karhutla di Kalimantan. Kapal tersebut membawa tiga helikopter angkut berat CH-47 dan personel Pasukan Bela Diri Jepang.

Kapal Kunisaki bertolak dari pangkalan Kure, Prefektur Hiroshima, pada Minggu (30/8/2026). Perjalanan menuju Indonesia diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu.

Misi tersebut menjadi catatan penting karena merupakan operasi pemadaman kebakaran luar negeri pertama yang dilakukan oleh personel Pasukan Bela Diri Jepang. Sekitar 350 personel disebut akan terlibat dalam operasi tersebut.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan pengerahan tersebut dilakukan atas permintaan Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari kegiatan bantuan bencana internasional.

Bantuan itu juga merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama pertahanan Indonesia dan Jepang yang ditandatangani pada Mei 2026, termasuk kerja sama dalam bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Kehadiran tiga CH-47 diharapkan dapat memperkuat kemampuan operasi udara, khususnya untuk menjangkau kawasan kebakaran yang sulit ditembus melalui jalur darat.

Dengan kemampuan angkut berat dan mobilitas tinggi, helikopter tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung pengiriman personel, peralatan, maupun kebutuhan operasi pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau.

7.377 Titik Panas jadi Perhatian

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar Ganda Butarbutar mengatakan berdasarkan pemantauan sistem SIPONGI hingga 31 Agustus 2026, terdapat 7.377 titik panas di seluruh Kalbar.

Sebanyak 455 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi, 6.842 titik pada tingkat kepercayaan sedang, dan 80 titik pada tingkat kepercayaan rendah.

Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 3.176 titik. Kemudian Kubu Raya sebanyak 1.352 titik dan Kayong Utara 837 titik.

Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah harus meningkatkan operasi pemadaman. Di Kubu Raya, selain Lintang Batang, tim gabungan juga melakukan pemadaman di kawasan Sungai Ambawang Kuala.

Di Ketapang, kebakaran di Desa Simpang Tiga Sembelangaan, Kecamatan Nanga Tayap, dilaporkan membakar area sekitar 1.000 hektare. Tim gabungan mengusulkan dukungan operasi water bombing karena lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat dan sumber air berada cukup jauh.

Sementara di Kapuas Hulu, kebakaran di Desa Buak Limbang, Kecamatan Pengkadan, mencapai sekitar 400 hektare.

Di Kayong Utara dan Mempawah, petugas menghadapi persoalan minimnya sumber air akibat parit dan kanal yang mengering. Embusan angin kencang juga membuat titik api baru bermunculan dan menyulitkan proses pemadaman.

Besarnya jumlah titik panas mulai memberikan dampak nyata terhadap kualitas udara. Pada periode 30- m31 Agustus 2026, Kota Pontianak dilaporkan berada dalam kategori Berbahaya dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 763.

Kabupaten Sambas berada pada kategori Sangat Tidak Sehat dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 218, sedangkan Kabupaten Mempawah telah menetapkan status Darurat Asap.

BNPB juga mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat kurang dari satu kilometer pada Senin (31/8/2026). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla telah berkembang menjadi ancaman terhadap keselamatan transportasi dan kesehatan masyarakat.

Asap tebal juga menjadi salah satu tantangan bagi petugas yang berada di garis depan. Bahkan di Lintang Batang, beberapa petugas harus mendapatkan bantuan oksigen setelah terpapar asap selama melakukan pemadaman.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa operasi pemadaman bukan hanya pertarungan melawan api, tetapi juga melawan kondisi lingkungan yang semakin berat.

Penegakan Hukum Tetap Berjalan

Selain pemadaman, pemerintah juga memperkuat penegakan hukum terhadap pihak yang diduga sengaja membakar lahan.

Hingga Sabtu (29/8/2026), Polda Kalbar dan jajaran telah menangani 57 laporan polisi terkait karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 709,9 hektare.

Dari 57 laporan tersebut, terdapat 30 orang terlapor dan tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebanyak 40 perkara masih berada dalam tahap penyelidikan, delapan perkara telah masuk tahap penyidikan, sedangkan sembilan perkara lainnya dilimpahkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Kombes Pol Burhanuddin menegaskan penanganan perkara akan dilakukan secara profesional dan transparan.

Polda Kalbar juga memastikan pemantauan terhadap titik-titik rawan karhutla terus dilakukan. Penindakan akan diberikan terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja dalam pembukaan lahan.

Langkah hukum tersebut menjadi penting karena upaya pemadaman tidak akan cukup apabila sumber kebakaran baru terus bermunculan. (tim)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda