SANGGAU. SP - Program ketahanan pangan di Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, terus diperkuat melalui asistensi lapangan guna memastikan target peningkatan luasan tanam dan produksi jagung dapat tercapai. Kegiatan tersebut dengan melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi lahan, ketersediaan sarana produksi hingga perkembangan penanaman di wilayah hukum Polsek Mukok.
Asistensi Gugus Tugas Program Ketahanan Pangan Polres Sanggau tersebut dipimpin Kasat Samapta Polres Sanggau Iptu Santoso Heru Bimo selaku Ketua Tim Asistensi. Kegiatan turut diikuti Kapolsek Mukok Iptu Firman S., Kanit Turjawali Lantas Ipda M. S. Sofyan, Kanit Binmas Polsek Mukok Aiptu Libertus, Kanit Turjawali Samapta Polres Sanggau Aipda Arfandy, Bhabinkamtibmas Desa Semuntai Aipda Ahmad Kardoyo, Kepala Kantor BPP Kecamatan Mukok Mahful, S.P., serta personel Polsek Mukok dan personel pendamping Polres Sanggau.
Pengecekan dilakukan sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program sekaligus untuk memetakan berbagai kendala yang masih dihadapi di lapangan. Tim tidak hanya melihat perkembangan tanaman, tetapi juga mencermati ketersediaan benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), gudang penyimpanan, serta potensi lahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produksi.
Berdasarkan data yang telah diinput pada Posko Penanaman, target tanam jagung di wilayah Polsek Mukok pada 2026 ditetapkan seluas 47 hektare. Namun, hingga pelaksanaan asistensi, luas lahan yang telah ditanami baru mencapai sekitar 21 hektare sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 26 hektare yang perlu diupayakan untuk segera ditanami.
Iptu Santoso Heru Bimo mengatakan, asistensi tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan pelaksanaan program ketahanan pangan tidak berhenti pada pencapaian administrasi, tetapi benar-benar memberikan hasil di lapangan. Menurutnya, lahan yang masih memiliki potensi harus kembali diidentifikasi dan dioptimalkan agar target penanaman dapat semakin didekati.
“Yang kami lakukan adalah melihat langsung kondisi di lapangan, termasuk kendala yang menyebabkan sebagian lahan belum optimal. Setiap lahan yang masih memungkinkan untuk ditanami perlu diupayakan kembali, sehingga target luasan tanam tahun 2026 dapat tercapai semaksimal mungkin dan berdampak pada peningkatan produksi jagung,” ujarnya.
Dari hasil pengecekan, diketahui pada 13 Juni 2026 telah dilakukan penanaman jagung di lahan PT MPE, Dusun Sungai Olai, Desa Semuntai, seluas 2 hektare. Namun, penanaman tersebut mengalami kegagalan akibat kondisi cuaca dan musim kemarau berkepanjangan sehingga tanaman tidak tumbuh sebagaimana diharapkan.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, penanaman kembali dilakukan pada 19 September 2026 di lahan yang sama dengan luasan 2 hektare. Tim Asistensi mendorong agar langkah serupa dilakukan terhadap lahan-lahan lain yang masih berpotensi, dengan memperhatikan kesiapan lahan, kondisi cuaca serta dukungan sarana produksi agar risiko kegagalan dapat ditekan.
Sementara itu, pada 13 Juli 2026 telah dilaksanakan penanaman jagung di lahan PT CNIS, Dusun Kedukul, Desa Kedukul, seluas 2 hektare. Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan program sekaligus dasar dalam menentukan langkah lanjutan untuk mengejar kekurangan luasan tanam yang masih cukup signifikan.
Dari sisi dukungan sarana, Kecamatan Mukok telah memiliki sejumlah fasilitas yang dapat menunjang program tersebut. Ketersediaan bibit antara lain berasal dari bantuan BPP berupa bibit Detras sebanyak 30 kilogram pada 2025, sedangkan pupuk yang tersedia meliputi jenis Urea dan MPK. Selain itu, alsintan berupa alat pemipil, solo dan traktor roda empat dari BPP juga telah tersedia untuk mendukung proses budidaya dan pascapanen.
Untuk mendukung penyimpanan hasil panen, telah tersedia gudang pinjam pakai milik PT CNIS serta gudang Kantor BPP Kecamatan Mukok. Sementara itu, berdasarkan data per 5 Oktober 2026, stok Jagung Pipil Kering (JPK) tercatat sebanyak 150 kilogram dan telah dikirim ke Bulog Kabupaten Sanggau. Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian yang turut diperiksa dalam asistensi untuk memastikan pengelolaan hasil produksi berjalan secara terarah.
Iptu Santoso menegaskan, optimalisasi lahan dan peningkatan produktivitas membutuhkan sinergi antara kepolisian, BPP, perusahaan, kelompok tani dan masyarakat.
“Program ketahanan pangan merupakan kerja bersama. Dukungan lahan, sarana produksi, pendampingan dan evaluasi harus berjalan beriringan. Kami akan terus mendorong agar potensi yang ada di Mukok dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat produksi jagung dan mendukung ketahanan pangan nasional,” katanya.
Melalui asistensi tersebut, Gugus Tugas Program Ketahanan Pangan Polres Sanggau merekomendasikan agar lahan yang masih potensial segera dioptimalkan untuk penanaman, termasuk melakukan penanaman ulang pada lokasi yang sebelumnya mengalami kegagalan akibat faktor alam.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempersempit kekurangan luasan tanam sekaligus meningkatkan produksi jagung di Kecamatan Mukok sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional. _(Dit)