Info Anda post author Kiwi 21 Juli 2026

Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Photo of Jejak Kepemimpinan Prof. Syarif di IAIN Pontianak

Program Ma'had: Membangun Karakter, Menguatkan Spiritual, Menyiapkan Sarjana Berintegritas

PONTIANAK, SP - Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak pada era kepemimpinan Prof. Dr. KH. Syarif, S.Ag., M.A., tidak hanya ditandai dengan pembangunan gedung-gedung baru, digitalisasi layanan akademik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perjuangan alih status menuju Universitas Islam Negeri (UIN).

Di balik berbagai capaian tersebut, terdapat satu program yang menjadi fondasi pembentukan karakter mahasiswa sekaligus menjadi salah satu warisan penting kepemimpinannya, yakni Ma'had Al-Jami'ah.

Bagi Prof. Syarif, perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Kampus harus mampu melahirkan sarjana yang memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, jiwa kepemimpinan, moderasi beragama, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itulah, sejak awal masa kepemimpinannya, Program Ma'had Al-Jami'ah ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan IAIN Pontianak. Program ini tidak sekadar menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa baru, melainkan menjadi sistem pembinaan karakter yang terstruktur, terukur, dan terintegrasi dengan kebijakan akademik kampus.

Membangun Karakter sebagai Pilar Pendidikan

Di tengah perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi, globalisasi, serta derasnya arus informasi digital, Prof. Syarif memandang tantangan perguruan tinggi Islam tidak lagi sebatas mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual.

Menurutnya, tantangan terbesar justru bagaimana kampus mampu melahirkan generasi yang memiliki benteng moral, etika, dan spiritual yang kuat sehingga mampu menghadapi berbagai perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri.

Karena itu, melalui Ma'had Al-Jami'ah, mahasiswa dibina agar memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial.

"Kami berharap melalui Ma'had Al-Jami'ah, mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan kualitas pendidikan mereka di bidang agama dan umum," ujar Prof. Syarif.

Ia menegaskan, Program Ma'had merupakan langkah strategis untuk membentuk lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap menjadi pemimpin umat dan agen perubahan di tengah masyarakat.

Program Wajib bagi Seluruh Mahasiswa Baru

Keseriusan pimpinan kampus terhadap Program Ma'had diwujudkan melalui kebijakan menjadikannya sebagai program wajib bagi seluruh mahasiswa baru.

Kebijakan tersebut bukan hanya sebatas aturan administratif, tetapi diperkuat melalui Pedoman Akademik IAIN Pontianak. Sertifikat kelulusan Ma'had menjadi salah satu syarat untuk mengajukan proposal skripsi hingga mengikuti sidang akhir.

Artinya, pembinaan karakter ditempatkan sejajar dengan proses akademik.

"Kami sangat serius melaksanakan Program Ma'had Al-Jami'ah karena kami yakin program ini sangat bermanfaat memberikan bekal bagi mahasiswa sebagai calon sarjana IAIN Pontianak. Bukti keseriusan itu ialah sertifikat Ma'had telah masuk dalam pedoman akademik sebagai syarat mengajukan proposal skripsi," tegas Prof. Syarif.

Kebijakan tersebut menjadi bentuk nyata visi kepemimpinan Prof. Syarif yang menempatkan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas lulusan.

Lebih dari Sekadar Tinggal di Asrama

Di bawah kepemimpinan Prof. Syarif, Ma'had Al-Jami'ah tidak pernah dipandang sekadar sebagai asrama mahasiswa baru. Program ini dirancang sebagai laboratorium pembentukan karakter (character building) yang memadukan pendidikan akademik, pembinaan spiritual, penguatan moral, kepemimpinan, serta kemandirian dalam satu ekosistem pembelajaran yang utuh.

Konsep tersebut lahir dari keyakinan bahwa keberhasilan seorang sarjana tidak cukup diukur melalui nilai akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Lebih dari itu, lulusan perguruan tinggi Islam harus memiliki integritas, akhlak mulia, kedisiplinan, kemampuan memimpin, serta kesiapan menjadi teladan di tengah masyarakat.

Karena itu, kehidupan di Ma'had berlangsung dalam pola pembinaan yang terstruktur sejak dini hari hingga malam. Hari para mahasantri dimulai dengan salat Subuh berjamaah yang dilanjutkan kajian keislaman sebagai bekal spiritual sebelum mengikuti aktivitas perkuliahan.

Sepulang kuliah, pembinaan kembali berlanjut. Selepas salat Magrib berjamaah, mahasiswa mengikuti Bimbingan Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ), tahsin, dan tahfiz Al-Qur'an sesuai kemampuan masing-masing.

Mahasiswa yang belum lancar membaca Al-Qur'an mendapatkan pendampingan intensif dari para musyrif dan musyrifah hingga mampu membaca sesuai kaidah tajwid, sedangkan yang telah memiliki kemampuan lebih diarahkan memperdalam hafalan serta memahami kandungan Al-Qur'an.

Pembinaan keilmuan juga diperkuat melalui kajian kitab kuning sebagai pintu mengenal khazanah pemikiran ulama klasik. Tradisi tersebut memperkenalkan mahasiswa kepada kekayaan intelektual Islam sekaligus membentuk cara berpikir yang moderat, terbuka, dan kritis.

Memasuki malam hari, para mahasantri mengikuti Ta'lim Al-Afkar, forum belajar bersama yang membahas materi akademik, keislaman, kepemimpinan, kebangsaan, hingga persoalan sosial kemasyarakatan. Di ruang inilah mahasiswa dilatih berpikir kritis, berdiskusi secara ilmiah, sekaligus menghargai perbedaan pandangan.

Peran musyrif dan musyrifah pun jauh melampaui fungsi sebagai pengawas asrama. Mereka menjadi mentor yang mendampingi perkembangan spiritual, akademik, dan karakter mahasiswa. Kehidupan sehari-hari di Ma'had menjadi ruang pendidikan yang sesungguhnya.

Mahasiswa dibiasakan hidup mandiri, disiplin mengatur waktu, menjaga kebersihan lingkungan, bermusyawarah, bekerja sama, saling menghormati, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan melalui teori, melainkan melalui praktik keseharian yang terus dibiasakan sehingga membentuk karakter yang kuat.

Investasi Jangka Panjang Kampus

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Pontianak periode 2022–2026, Dr. Ismail Ruslan, S.Ag., M.Si., menilai Ma'had Al-Jami'ah merupakan investasi jangka panjang kampus dalam membangun sumber daya manusia yang utuh.

Menurutnya, perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas.

"Kami ingin mahasiswa IAIN Pontianak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kedalaman spiritual, serta kepedulian sosial. Seluruh proses itu dibangun melalui kehidupan di Ma'had. Di sinilah karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan ditempa sebelum mereka benar-benar terjun mengabdi kepada masyarakat," ujar Ismail Ruslan.

Ia mengatakan keberadaan Ma'had menjadi pembeda IAIN Pontianak dengan banyak perguruan tinggi lainnya.

"Ketika mahasiswa lulus nanti, yang dibawa bukan hanya ijazah, tetapi juga karakter. Itulah bekal sesungguhnya yang akan menentukan keberhasilan mereka di tengah masyarakat. Program Ma'had menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi tersebut," tegasnya.

MASTAMA, Gerbang Awal Pembentukan Mahasantri

Seluruh mahasiswa baru diwajibkan mengikuti Masa Ta'aruf Mahasantri (MASTAMA) sebagai pintu masuk Program Ma'had.

Melalui kegiatan ini mahasiswa dikenalkan dengan kehidupan asrama, budaya akademik, tata tertib, pembinaan keagamaan, hingga nilai-nilai moderasi beragama yang menjadi ciri khas IAIN Pontianak.

Pada pelaksanaan MASTAMA Sesi III Tahun Akademik 2025/2026, sebanyak 293 mahasantri mengikuti kegiatan tersebut.

Mudir Ma'had Al-Jami'ah, Dr. Muh. Gito Saroso, S.Ag., M.Ag., menjelaskan bahwa Program Ma'had bukan sekadar orientasi mahasiswa.

"Program Ma'had harus diikuti dengan serius karena menjadi salah satu syarat penting dalam proses akademik mahasiswa. Mahasiswa yang belum lulus Program Ma'had tidak dapat mengikuti sidang skripsi," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh mahasantri meluruskan niat, menghormati orang tua dan guru, khidmat terhadap ilmu, serta menjaga ukhuwah selama mengikuti pembinaan.

Sementara itu, Rektor IAIN Pontianak yang diwakili Kepala Bagian Umum dan Layanan Akademik Muhammad Syahrun, S.E., M.M., saat membuka MASTAMA menyampaikan bahwa Ma'had merupakan mitra strategis kampus dalam membentuk karakter mahasiswa.

"Jadikan Program Ma'had sebagai kesempatan untuk belajar dan berproses. Ikuti dan tekuni dengan baik. Insyaallah kalian tidak akan mendapatkan kerugian. Sesuatu yang diterima dengan ikhlas akan memberikan manfaat pada masa depan."

Dampak Nyata bagi Mahasiswa

Keberadaan Ma'had memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa.

Salah seorang mahasantri, Mamad Al-Katiri, mengaku ketika pertama kali masuk IAIN Pontianak kemampuan membaca Al-Qur'annya masih belum lancar. Setelah mengikuti pembinaan secara rutin di Ma'had, kemampuan membaca beserta tajwidnya meningkat secara signifikan.

"Alhamdulillah sekarang bacaan Al-Qur'an saya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya," ujarnya.

Selain memperoleh pembinaan keagamaan, mahasiswa juga merasakan manfaat ekonomi karena selama tinggal di Ma'had tidak dipungut biaya.
Bagi mahasiswa dari luar daerah, keberadaan Ma'had menjadi solusi yang sangat membantu dibandingkan harus menyewa tempat kos.

Terus Berbenah melalui Evaluasi

Meski memberikan manfaat besar, pengelolaan Ma'had terus dievaluasi.

Sebagian mahasiswa berharap adanya peningkatan fasilitas seperti lemari, ruang belajar, sarana kamar, hingga pengembangan program yang lebih variatif.

Mereka juga mengusulkan adanya pelatihan keterampilan, mentoring akademik, diskusi ilmiah, hingga penguatan soft skills agar pembinaan semakin relevan dengan tantangan masa depan.

Masukan tersebut menjadi bagian dari proses penyempurnaan yang terus dilakukan kampus agar Ma'had semakin nyaman, adaptif, dan berkualitas.

Warisan Kepemimpinan yang Menyiapkan Masa Depan

Di antara berbagai capaian pembangunan IAIN Pontianak selama kepemimpinan Prof. Syarif, keberadaan Ma'had Al-Jami'ah menjadi salah satu warisan yang paling mendasar.

Jika pembangunan gedung menghasilkan ruang belajar yang lebih baik, maka Ma'had membangun manusia yang akan mengisi ruang-ruang tersebut.

Melalui Program Ma'had, Prof. Syarif ingin memastikan setiap lulusan IAIN Pontianak tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak, integritas, kedisiplinan, kepedulian sosial, semangat moderasi beragama, serta kesiapan menjadi pemimpin yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Inilah esensi kepemimpinan Prof. Syarif: menghadirkan pendidikan yang utuh, memadukan kecerdasan intelektual dengan kekuatan spiritual sehingga melahirkan generasi ulul albab yang siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara.

Program Ma'had Al-Jami'ah menjadi bukti bahwa transformasi sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari perubahan nama, pembangunan fisik, atau capaian akreditasi. Lebih dari itu, keberhasilan sebuah kampus ditentukan oleh kemampuannya membentuk karakter manusia.

Di situlah jejak kepemimpinan Prof. Syarif meninggalkan fondasi yang kokoh bagi perjalanan IAIN Pontianak menuju Universitas Islam Negeri (UIN) yang unggul, berkarakter, berdaya saing, dan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda