KUBU RAYA, SP - Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat menjelang puncak musim kemarau di Kabupaten Kubu Raya. Pemerintah bersama TNI, Polri, perusahaan, dan masyarakat menggelar Apel Siaga Karhutla yang melibatkan 105 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Kecamatan Rasau Jaya dan Sungai Kakap.
Kegiatan yang berlangsung pada 7–8 Juli 2026 di Kantor Kecamatan Sungai Kakap ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi saat musim kemarau, khususnya di kawasan bergambut.
Selama dua hari, para peserta mendapatkan pelatihan dan pembekalan mengenai teknik pencegahan karhutla, penanganan awal kebakaran, penggunaan peralatan pemadam, hingga prosedur pelaporan apabila ditemukan titik api.
Pada hari pertama, peserta menerima materi teori mengenai penyebab, dampak, serta langkah-langkah pencegahan karhutla. Sementara pada hari kedua, mereka mengikuti simulasi dan praktik pemadaman api di lapangan untuk meningkatkan keterampilan menghadapi kondisi nyata.
Salah seorang peserta, Dwi Agus Windari, mengaku pelatihan tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh menjadi bekal penting untuk melakukan tindakan cepat apabila terjadi kebakaran di wilayah tempat tinggalnya.
Ia menjelaskan, Desa Rasau Jaya Tiga merupakan salah satu kawasan yang cukup rawan mengalami kebakaran lahan saat musim kemarau. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara penanganan awal agar api tidak cepat membesar sebelum petugas tiba di lokasi.
Danramil Rasau Jaya dan Sungai Kakap, Kapten Infanteri Gularto, mengatakan Apel Siaga Karhutla merupakan langkah nyata membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan merupakan tanggung jawab semua pihak.
Menurutnya, keberadaan Masyarakat Peduli Api memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dini munculnya titik api. Dengan keterampilan yang dimiliki, masyarakat diharapkan mampu melakukan penanganan awal sekaligus segera berkoordinasi dengan aparat apabila kebakaran mulai meluas.
"Pencegahan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, TNI, Polri, maupun perusahaan. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama karena mereka merupakan pihak yang berada paling dekat dengan lokasi-lokasi yang berpotensi terjadi kebakaran," ujarnya.
Sementara itu, General Manager PT PLD & SUM, Mardamen Simbolon, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pencegahan karhutla melalui berbagai program, mulai dari pelatihan kepada masyarakat hingga penyediaan sarana dan prasarana pemadaman.
Ia menjelaskan, edukasi mengenai penanganan kebakaran tidak hanya diberikan kepada karyawan perusahaan, tetapi juga kepada masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasional perusahaan. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh pihak memiliki kemampuan yang sama dalam mencegah dan menangani kebakaran sejak dini.
Selain memberikan pelatihan, perusahaan juga menyiapkan mesin pompa air, peralatan pemadam kebakaran, serta membangun sekat kanal di sejumlah kawasan yang dinilai rawan mengalami karhutla.
Sekat kanal tersebut berfungsi menjaga cadangan air sehingga dapat dimanfaatkan saat proses pemadaman. Ketersediaan sumber air menjadi salah satu tantangan terbesar ketika kebakaran terjadi, terutama di kawasan gambut yang sulit dijangkau.
Social Security License PT PLD, Martin Luther, menambahkan bahwa pembangunan sekat kanal merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pencegahan karhutla secara berkelanjutan.
Seluruh pembangunan sekat kanal dibiayai perusahaan dan telah ditempatkan di sejumlah desa dengan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi.
Selain itu, perusahaan juga menyiagakan tim pemadam kebakaran internal yang siap diterjunkan sewaktu-waktu untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran lainnya di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Kabupaten Kubu Raya merupakan salah satu daerah di Kalimantan Barat yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap memasuki musim kemarau.
Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar membuat upaya pencegahan harus dilakukan secara terpadu melalui kolaborasi pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat.
Melalui Apel Siaga Karhutla ini, seluruh pihak berharap kesiapsiagaan masyarakat semakin meningkat sehingga setiap potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.
Dengan demikian, risiko meluasnya kebakaran yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi dapat diminimalkan. (*)