Melawi post author Kiwi 17 September 2026

Harga Cabai Meroket hingga Rp200 Ribu

Photo of Harga Cabai Meroket hingga Rp200 Ribu Sekda Melawi berbincang dengan pedagang cabai di Pasar Markasan dalam monitoring harga kebutuhan pokok. Cabai menjadi salah satu jenis barang yang mengalami kenaikan signifikan.

‎MELAWI, SP – Harga kebutuhan pokok masih terus tinggi di pasar Nanga Pinoh. Kenaikan signifikan terjadi pada harga cabai yang mencapai Rp200 ribu per kilogram.

‎‎Kenaikan harga ini dikeluhkan masyarakat, termasuk pengusaha kuliner. Mengingat, cabai menjadi salah satu jenis bumbu yang kerap menjadi primadona.

‎‎Syarif, pengusaha katering di Melawi, mengungkapkan harga cabai melonjak luar biasa selama musim kemarau. Harganya tak lagi di kisaran Rp100 ribu, tetapi menembus Rp200 ribu.

‎‎"Naiknya gila-gilaan. Tapi tidak dibeli susah, karena mana nyaman makan tanpa cabai," keluhnya.

‎‎Tak hanya cabai, Syarif juga mengeluhkan harga sayur-mayur yang melonjak tajam. Ia mencontohkan, harga timun saja bisa mencapai Rp35 ribu per kilogram. Belum lagi jenis sayuran lain yang mengalami kenaikan 30–50 persen.

‎‎"Sementara, harga paket katering masih kita pertahankan, walau untung tipis," katanya.

‎‎Sementara itu, Sekretaris Daerah Melawi, Paulus, bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Melawi melaksanakan monitoring harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di Pasar Markasan Nanga Pinoh, Rabu (16/9).

‎‎Monitoring tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga sekaligus memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di Kabupaten Melawi.

‎‎Paulus mengatakan hasil pemantauan menunjukkan terdapat sejumlah bahan kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga. Kenaikan paling signifikan terjadi pada beberapa jenis cabai.

‎‎"Berdasarkan hasil monitoring pagi ini, memang terdapat beberapa bahan kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan. Kenaikan paling signifikan terjadi pada beberapa jenis cabai," ujarnya.

‎‎Menurut Sekda, kenaikan harga tersebut disebabkan minimnya produksi cabai dari dalam daerah selama musim kemarau. Produksi cabai lokal mengalami penurunan sangat drastis, bahkan jumlah yang tersedia relatif kecil.

‎‎Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan cabai di pasar tradisional Kabupaten Melawi saat ini sebagian besar dipasok dari luar daerah, termasuk didatangkan langsung dari Pulau Jawa.

‎‎"Cabai yang tersedia di pasar tradisional dan kami monitor hampir seluruhnya berasal dari luar daerah, bahkan dikirim langsung dari Jawa. Akibatnya, harga mengalami lonjakan cukup tinggi, berkisar antara Rp130 ribu hingga Rp180 ribu, bergantung pada jenis cabainya," jelasnya.

‎‎Sekda mengakui bahwa pengendalian harga cabai bukan persoalan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Melawi akan mengambil langkah strategis untuk memperkuat produksi lokal dan memastikan ketersediaan cabai pada beberapa bulan mendatang.

‎‎Pemkab Melawi melalui perangkat daerah teknis, khususnya Dinas Pertanian, didorong untuk membantu petani lokal dengan menyediakan bibit serta meningkatkan kegiatan penyuluhan secara intensif.

‎‎"Kami mendorong peningkatan produksi dalam daerah melalui berbagai upaya dari dinas teknis terkait. Dinas Pertanian diharapkan dapat membantu petani lokal, baik melalui penyediaan bibit maupun penyuluhan yang lebih gencar," katanya.

‎‎Sekda berharap langkah tersebut dapat meningkatkan hasil produksi pertanian lokal, sehingga kelangkaan dan kenaikan harga cabai dapat diantisipasi serta kebutuhan masyarakat Kabupaten Melawi tetap terpenuhi. (eko)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda