Opini post authorBob 13 April 2022

Data Potensi Desa Tampilkan Produk Unggulan

Photo of Data Potensi Desa Tampilkan Produk Unggulan Supardi, S.Mn., Fungsional Statistisi Ahli Muda,BPS Kabupaten Sambas

BADAN Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga resmi terus berbenah dan beradaptasi agar senantiasa menghasilkan data yang berkualitas.

Pada bulan Juni 2021 lalu, BPS dihadapkan dengan kegiatan pengumpulan data Potensi Desa (Podes) seluruh wilayah Republik Indonesia.

Betapa pentingnya data potensi desa hingga saat ini, banyak yang menantikan data Podes terbaru atau terkini untuk menjadi rujukan banyak pihak.

Pada pelaksanaannya, pendataan potensi desa adalah pendataan lengkap satu-satunya yang memotret realitas sosial ekonomi di seluruh wilayah administrasi setingkat desa dan untuk mendapatkan hasil maksimal, tidak semudah membalikkan telapak tangan, juga tantangan berat bagi lembaga BPS atas banyaknya pihak yang menyoroti serta menuntut validitas dan keakuratan data potensi desa.

Di Kabupaten Sambas, pihak pemerintah daerah terutama sangat mendukung kegiatan ini. Bupati dan Wakil Bupati Sambas dibuktikan dengan surat dukungan yang ditujukan kepada seluruh camat dan kepala desa yang berjumlah 193 desa guna mendukung pendataan Podes dimaksud.

Mengingat pentingnya data tersebut, sampai pada tingkat pemerintah terkecil atau desa, demi untuk mendapatkan data dasar perencanaan pembangunan wilayah, penyusunan berbagai analisis dan kebijakan, baik terkait kewilayahan dan sebagai penghitungan indikator pembangunan atau kemajuan desa seperti Indeks Kesulitan Geografis (IKG).

Di samping hal tersebut diatas, Podes kali ini tampilkan rincian untuk melihat produk unggulan lokal tingkat desa, baik berupa makanan dan non makanan.

Dengan hal ini akan muncul dengan sendirinya, produk unggulan di masing-masing desa yang berbeda, kita tahu setiap desa masing-masing dengan keunggulan tersendiri menjadi salah satu program utama Bupati dan Wakil Bupati Sambas yang baru. Mengembangkan produk unggulan lokal Kabupaten Sambas.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik telah melakukan kegiatan yang serupa namun tidak sedetail di tahun 2021. Pada tahun 2018, tepatnya bulan mei, juga telah dilaksanankan pendataan potensi desa. Dua tahun sebelum dilaksanakannya sensus penduduk 2020.

Secara umum kegiatan pengumpulan data potensi desa juga untuk mendukung kelancaran pelaksaaan sensus dan memotret secara dekat aktivitas suatu wilayah sampai tingkat pedesaan.

Sehingga dari hasil tersebut, diatas nampak jelas potret rinci, social ekonomi, geografis, kependudukan bahkan produk unggulan suatu desa di berbagai sektor, baik sektor pertanian, industri dll.

Salah satu contoh nyata dari kegiatan pengumpulan data potensi desa, Kabupaten Sambas yang terdiri dari 19 Kecamatan dan 193 Desa. Satu diantara Kecamatan yang menjadi primadona penghasil buah rambutan segar yaitu Kecamatan Sajad.

Kecamatan Sajad dengan luas wilayah  Kecamatannya 94,94 km2 atau sekitar 1,48 persen dari luas wilayah Kabupaten Sambas, yang hanya terdiri 4 desa yaitu, desa jirak, desa tengguli, desa mekar jaya dan desa beringin.

Sebagian besar dari luas tanah kecamatan Sajad adalah lahan pertanian bukan sawah (82,12%), sawah (15,31%) dan lahan bukan pertanian (2,57%).

Pada podes 2021 tercatat 3598 kepala keluarga dan 3151 rumah tangga. Dari 3151 rumah tangga lebih kurang 70% memiliki tanaman rambutan yang setiap tahunnya menghasilkan buah rambutan segar, yang hasil produksinya melimpah ke seluruh pasar diwilayah Kabupaten Sambas, bahkan luar Kabupaten Sambas jika musim panen tiba (bulan desember-januari) setiap tahunnya.

Angka perkiraan produksi di lihat dari jumlah banyaknya dum truk yang parker menghimpun hasil petani yang telah di kuasai para pengepul buah.

Rata-rata per hari 20 truk dengan muatan sebanyak 1.800 ikat (per ikat 2,7 kg), selama lebih kurang 30 hari musim panen. Jadi 20 x 1.800 = 36.000 ikat x 30 hari = 1.080.000 ikat (2.916.000 kg = 2.916 ton), jumlah produksi lewat angkutan darat, belum angkutan sungai setiap hari.

Produksi lewat angkutan darat hampir 100% sudah dikuasai oleh pengepul buah yang langsung ke petani, sehingga harga ditentukan oleh para pengepul sampah saat ini.

Dari gambaran di atas masyarakat berharap campur tangan pemerintah, sehigga buah tidak hanya dalam bentuk buah segar. Namun butuh pengolahan setengah jadi, menjadi barang jadi dengan kata lain masyarakat inginkan pabrik industry pengolahan buah, sehingga harga bisa lebih tinggi dan stabil. Nilai tukar petani lebih maksimal untuk daya beli barang di pasar.

Begitu juga di kecamatan lainnya, seperti Kecamatan Jawai sebagai penghasil buah naga segar untuk konsumsi. Dan sangat membutuhkan perhatian pemerintah sekarang ini, dan  menjadi salah satu sektor peningkatan ekonomi kerakyatan.

Juga menjadi program utama Bupati dan Wakil Bupati terpilih 2021-2024 semoga terealisasi dan Kabupaten Smabas menjadi Kabupaten yang maju dan berkemajuan di masa sekarang ini dan masa akan datang. (*)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda