Budhi Setyono, S.Pd., BPS Kabupaten Demak – Jateng
Angka yang Berlari dan Cerita yang Tersendat
Entah sejak kapan angka-angka mulai terasa seperti langkah kaki yang berlari di jalanan panjang Indonesia. Potensi Desa (Podes) 2025 menampilkan 84.291 wilayah setingkat desa/kelurahan, sebuah bilangan yang begitu besar sampai-sampai sulit dibayangkan tanpa peta yang membentang di depan mata.
Beragam sebutan wilayah desa, kelurahan, nagari, hingga UPT (Unit Permukiman Transmigrasi) dan SPT (Satuan Permukiman Transmigrasi) akhirnya bertemu dalam satu deretan data yang terasa sesak.
Struktur ekonomi desa masih menunjukkan wajah yang lama menolak pergi. 67.732 desa dan kelurahan digerakkan oleh pertanian, sektor yang begitu akrab di telinga tetapi tidak selalu menjanjikan bagi yang menggantungkan hidup padanya.
Ada pula 5.980 desa bergerak dengan industri, dan 10.427 memilih jasa sebagai denyut utamanya.
Seperti peta yang tidak rata, perpindahan ekonomi berlangsung berbeda-beda: di satu tempat bergerak cepat, di tempat lain seperti berhenti menunggu seseorang memberi aba-aba yang tak kunjung datang.
Di balik itu semua, potensi ekonomi terselip seperti benih yang disimpan di kantong kumal: ada 25.679 desa memiliki produk unggulan.
Produk-produk kecil yang mungkin tampak sederhana, kopi dari lereng tertentu, kerajinan bambu yang dikerjakan sambil menunggu matahari turun, atau penganan khas yang resepnya diwariskan turun-temurun.
Potensi yang kadang bersinar terang, kadang redup karena tak ada jalan yang menuntunnya keluar.
Akses permodalan pun hadir dengan wajah yang tidak merata. Kredit Usaha Rakyat (KUR) diterima di 63.609 desa, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di 9.859 desa, dan Kredit Usaha Kecil (KUK) di 11.643 desa.
Deretan angka yang tampak rapi, tapi ketika dibaca perlahan, muncul pertanyaan kecil: apakah semua itu benar-benar sampai pada tangan yang membutuhkannya? Atau hanya singgah sebentar sebelum hilang dalam birokrasi yang berliku?
Sinyal yang Patah, Udara yang Mengabur
Telekomunikasi di era ini bukan lagi fasilitas tambahan. Ia seperti oksigen yang mengalir lewat tiang-tiang BTS yang tak pernah direhatkan. Namun di Podes 2025, sinyal masih menjadi doa yang menggantung di banyak tempat.
Ada 81.418 desa punya sinyal telepon seluler, tetapi 11.267 di antaranya hanya memiliki sinyal lemah, lemah seperti suara yang terputus setiap tiga detik, membuat percakapan tak pernah selesai.
Dan di 2.721 desa, sinyal tidak ada sama sekali. Wilayah-wilayah yang seperti ruang sunyi dalam keramaian era digital.
Ketika sinyal tak hadir, informasi bergerak seperti kura-kura, peluang ekonomi tertinggal, dan anak-anak sekolah harus berjalan ke titik tertentu hanya untuk mengunduh tugas. Sementara itu, dunia terus berlari.
Lingkungan pun bicara dengan caranya sendiri. Podes mencatat 8.112 desa mengalami pencemaran air. Air yang dulu jernih, sekarang dalam banyak kasus berwarna keruh, membawa bau asing, atau menyimpan zat-zat yang tidak pernah dikenal generasi sebelumnya.
Pencemaran tanah hadir di 1.242 desa, tanah yang seharusnya menjadi rumah bagi akar justru mengandung luka. Pencemaran udara datang di 4.954 desa, menghadirkan kabut tipis yang tidak menenangkan, melainkan menyimpan kekhawatiran kecil setiap kali dihirup.
Lalu ada bencana, yang muncul tanpa memberi waktu untuk bersiap. Dalam 17 bulan, banjir melanda 15.398 desa, gempa bumi mengguncang 11.477 desa, dan tanah longsor menyapu 6.754 desa.
Angka-angka ini seperti mengetuk keras pintu pikiran: betapa rapuhnya banyak wilayah, betapa tipisnya jarak antara tenang dan kacau. Desa, yang seringkali hanya memiliki kemampuan terbatas dalam mitigasi, harus menahan dampaknya dengan tangan yang tidak selalu kuat.
Dari Infrastruktur ke Harapan yang Tersisa
Di tengah kerentanan itu, infrastruktur hadir sebagai tiang yang mencoba menjaga keseimbangan.
Dalam bidang pendidikan, jumlahnya begitu banyak hingga hampir sulit membayangkannya tanpa deretan bangunan dalam kepala: 149.227 SD, 28.504 MI, 43.178 SMP, 20.023 MTs, 15.360 SMA, 10.431 MA, dan 14.661 SMK.
Belum lagi 679 perguruan tinggi negeri dan 4.004 perguruan tinggi swasta yang menghiasi peta besar Indonesia.
Deretan angka yang panjang, seolah-olah menegaskan bahwa pendidikan memang sedang diupayakan agar menjangkau semua, meski perjuangannya belum tuntas.
Layanan kesehatan tak kalah penting. Podes mencatat ada 3.369 rumah sakit di seluruh Indonesia, dengan Jawa Barat menjadi rumah bagi 468 di antaranya.
Selain itu, ada 4.819 puskesmas rawat inap dan 5.685 puskesmas tanpa rawat inap. Jaringan yang terus tumbuh, meski masih banyak desa yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan perawatan dasar.
Pemerintah terus menggaungkan pembangunan dari desa, sebuah gagasan yang tidak baru, tetapi tetap relevan.
Podes menjadi alat yang menunjukkan jalan, seperti kompas di ransel seorang pejalan. Dengan Podes, potensi dapat dilihat dengan lebih jernih, tantangan dapat dipetakan dengan lebih tegas, dan strategi dapat dirumuskan tanpa mengabaikan keberagaman.
Tulisan-tulisan angka ini sebenarnya bukan hanya kumpulan data. Mereka adalah fragmen kehidupan: dapur-dapur kecil yang berfungsi atau tidak berfungsi, jalan-jalan yang putus saat hujan, pasar yang hidup hanya pada hari tertentu, sinyal yang kadang muncul seperti kunjungan singkat.
Semua itu membentuk gambaran yang luas dan tidak teratur, persis seperti wajah Indonesia sehari-hari.
Jika pembangunan ingin berpihak, Podes menyediakan dasar yang kuat. Jika kebijakan ingin lebih manusiawi, Podes menunjukkan tempat-tempat yang perlu disentuh lebih dulu, desa-desa yang memanggil dengan suara lirih, menunggu jembatan, menunggu sinyal, menunggu kesempatan yang tidak harus besar, cukup yang adil.
Pada akhirnya, Podes 2025 menghadirkan potret yang panjang, kadang melelahkan, kadang menghangatkan, kadang membingungkan.
Desa-desa dalam laporan itu seperti titik-titik cahaya yang berkedip, ada yang terang, ada yang redup, ada yang hampir padam tetapi masih berusaha menyala. Dan dari titik-titik itulah masa depan Indonesia akan bergerak, pelan, tak beraturan, tetapi tetap ke depan. (*)
Sumber : Publikasi Statistik Potensi Desa Indonesia 2025, Badan Pusat Statistik (Rilis 11 Desember 2025).
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/11/df409d461277ba686888b7f6/statistik-potensi-desa-indonesia-2025.html